Namaku Rindu

Namaku Rindu
ke toko buku


__ADS_3

"Biarin aja.." ucap Nawang.


"Maksud Lo gimana sih Naw? tadi Lo yang ikutan teriak.sekarang Lo bilang biarin" Gloria menatap skeptis.


"Coba deh Glo Lo pikir baik-baik. kalo si Sony deketin Rindu karena keinginan dia, Lo malah untung. otomatis Rindu akan sama si Sony dan Lo akan dapetin Kemal tanpa Lo harus capek-capek ngejar dia!" seringai Nawang.


"Isshh cerdas juga Lo Naw." puji Andin.


"Laahhh emang gw cerdas kelessss. IQ gw sama Rindu aja beda tipissss" ucap gadis berkacamata itu jumawa.


"Udah-udah, sekarang berarti kita harus mikirin cara untuk gw mendapatkan simpati Kemal!" ucap Gloria penuh penekanan.


"Sabar Glo, jangan buru-buru, kita harus main cantik. gw yakin asal Lo sabar, Kemal akan jadi milik Lo" ucap Nawang.


"Kemal, demi Lo gw rela bersabar beb...." ucap Gloria dengan tatapan penuh kemenangan.


Waktu pun berlangsung normal bagi mereka tanpa sesuatu yang menakjubkan. tanpa terasa hari berjalan begitu cepat. Jam dinding menunjuk pukul 14.00. Waktu pulang sekolah.


kriing... kriiing... kriiing


Semua siswa pun bergegas pulang.


"Rin, tunggu aku di parkiran yaa. nih bawa aja kunci motor ku. Aku ke ruang guru dulu, antar buku-buku ini ke meja pak Silaban." ucap Kemal dengan tangan penuh buku tugas mata pelajaran bahasa Indonesia.


"Bareng aja deh. aku tungguin kamu." sahut Rindu.


" Capek kamu kalo nungguin aku. Bolak balik. Udah kamu di parkiran aja. motor ku di taruh di tempat yang adem kan, jadi kamu gak kepanasan. bentar yaa dear." bujuk Kemal mengedipkan mata.


"pacaran Mulu, pulang weyyy" seru Rayan.


"Sirik aje Lo jones wkwkwk" jawab Kemal terkekeh.


"Yaudah deh aku nungguin di parkiran." akhirnya Rindu menurut.


Mereka berjalan turun ke lantai 1. Rindu belok ke arah parkiran. Dan Kemal belok ke arah ruang guru.


"Tunggu yaa dear..." ucap Kemal sebelum belok ke arah ruang guru. di balas anggukan oleh Rindu.


"Sebaiknya aku telepon Ayah deh, pamit sekali lagi." Rindu pun mengambil ponsel dari tas nya.


tuut..tuut...

__ADS_1


"Hallo..."suara seberang telpon.


"Wa'allaikumsallam. Ayah, ini Rin." ucap Rindu.


"Iyaa Nduk, ada apa? kamu sudah pulang sekolah?" tanya Besari.


"Sudah Yah. Ayah masih di kantor?" tanya Rindu.


"Masih Nduk. kamu langsung pulang?" ucap Besari.


" ayah pasti lupa, aku kan sudah ijin tadi pagi mau ke toko buku sama Kemal sepulang sekolah. untung aku telpon ayah kan" ucap Rindu.


"Ayah pikir gak jadi. yowis kamu hati-hati di jalan. pulang jangan sela' sore Yo Nduk." Besari berpesan.


"Iyaa yah. yaudah ayah lanjut lagi deh kerja nya. semangat ayah. assalamualaikum." salam Rindu.


" iyaa Nduk, wa'allaikumsallam" Besari menutup telponnya.


"Kamu deket yaa sama Ayahmu?" suara seseorang dari belakang.


"Lhoh sejak kapan kamu disitu Son?" Rindu terkejut.


"Dari tadi kamu telpon." sahut Sony santai.


"Dia mau ngapain juga urusan sama kamu tuh apa" Kemal muncul dari belakang.


"Duh, Lo lagi. Lo gak bisa ya gitu kalo gak selalu ngikutin Rindu. heran gw!" ucap Sony dengan tatapan sarkastik.


"Udah-udah, yuk Mal jalan!" Rindu menghampiri lalu menarik Kemal menuju motor nya.


Tak lama kemudian mereka bergegas keluar dari area SMA PELITA BANGSA.


Toko Buku MEDIATAMA


Dua puluh menit mereka membelah jalanan yang tak begitu padat. Tibalah mereka di toko buku tujuan.


Memastikan motor telah terparkir aman, Kemal menggandeng tangan Rindu menuju area dalam toko buku.


DEGH....


"Ishh, kok rasanya jadi gak karuan gini sih. jantung ku kenapa kayak loncat-loncat gini sih. suaranya kedengaran gak ya sama Kemal. duh ..." gumam Rindu dalam hati

__ADS_1


Sesampainya di dalam toko buku yang cukup besar, mereka langsung mencari yang mereka perlukan.


"Nah ini dia buku pendamping biologi yang pak guru rekomendasi kan." ucap Rindu pada Kemal.


"Oh yaa betul itu bukunya. kamu lanjut deh cari yang lain, aku ke rak sebelah yaa." ucap Kemal.


"Okey." sahut Rindu.


Kemal pun berjalan menuju rak STATIONERY. Iya mengambil kertas surat berwarna pink bergambar cupid di sudut kanan nya. lalu mengambil beberapa buah pulpen gliter berwarna.


Setelah beres, Kemal bergegas membeli cat air dan kuas lukis. Setelah terkumpul ia membayar nya ke kasir dan membungkusnya.


"Udah Rin?" tanya Kemal menghampiri.


"Udah Mal. kamu dari mana sih?" tanya Rindu penasaran karena sejak tadi tak menemukan Kemal.


"Tadi kakak sepupuku yang anak bude ku itu lho, nitip di belikan alat lukis. jadi aku nyari alat-alat itu dulu, terus bayar ke kasir." terang Kemal.


Rindu hanya mengangguk tanpa curiga sedikitpun. Setelah selesai mencari buku yang mereka perlukan, keduanya segera membayar belanjaan di kasir dan keluar dari toko buku.


"Mau makan dulu gak?" tanya Kemal.


"Aku gak laper Mal. pulang aja yok. tadi ayah pesan jangan terlalu lama, Ndak sela' sore." jawab Rindu.


"Yowis, kita beli es campur dulu yaa. Haus lho aku, emang kamu gak haus?" ajak Kemal.


"Yowis, kelar langsung balik kanan Yo."....


"Siap 86 Ndan" Kemal memberi hormat seolah seorang prajurit memberi hormat pada atasannya. Rindu hanya menggeleng seraya tersenyum.


"Kamu es teler apa es campur Rin?" Kemal menanyakan menu pilihan Rindu.


"Aku es teler aja." sahut Rindu yang kemudian duduk di kursi plastik yang disediakan penjual es tersebut.


"Es teler 1 sama es campur 1 ya Pak. gak pake lama yaa hehehe" pesan Kemal pada pedagang es.


"Siap bos. sebentar yaa." sahut pedagang es.


Tak berapa lama, seporsi es campur pesanan Kemal dan seporsi es teler pesanan Rindu telah siap. Penjual es itu memberikan pesanan kepada dua muda mudi yang sejak tadi mengobrol sesekali terdengar suara tawa dari keduanya.


"Ini dek, pesanan nya." ucap pedagang es.

__ADS_1


"Makasih pak." sahut Kemal dan Rindu.


Mereka pun menghabiskan senja dengan menikmati es favorit mereka.


__ADS_2