
"Istighfar Nduk, istighfar. ibu dan adikmu sudah gak ada cah ayu.. " ucap pak Budi, sedangkan Besari sudah tak mampu berkata-kata lagi..
" gak mungkin! barusan Rindu sama ibu dan Kasa." ucap Rindu tak percaya.
"Nduk sadar. ibu dan Kasa sudah pulang kepangkuan Gusti Allah. kamu harus ikhlas" Besari bersuara.
"Tapi Yah..." Rindu terdiam ketika melihat di sudut lain, Naratama pun menangis sesenggukan di peluk oleh Ibra. Seolah tak terima melihat adiknya tersakiti, Rindu pun menghampiri Nara.
"Dek, kenapa nangis.... sstttt... udah yaa jangan nangis lagi. ada kakak ada Ayah, kamu gk sendirian." ucap Rindu memeluk Nara berusaha menenangkan.
"Kak, maafin mommy aku ya. Jangan dendam padanya ya kak. tolong kak, Nara kasian sama mommy, Nara gak mau mommy mendapat siksa kubur dari Munkar dan Nakir" Nara menangis histeris d pelukan Rindu.
"Ra, kamu ngomong apa sih? gak baik bicara begitu, apalagi mengenai orang tua kita. kualat nanti kamu." ucap Rindu melepaskan pelukannya.
" Mommy aku memang udah gak ada kak! mommy sudah meninggal?" Nara semakin histeris.
"Ini sebenarnya ada apa sih? tadi ayah sm Pak Budi bilang ibu sm Kasa yang meninggal. sekarang Nara bilang mommy nya yang meninggal, padahal jelas-jelas tadi pagi mommy nya yang hampir mencelakakan Nara!" Rindu meluapkan emosi nya.
"Rin, istighfar yaa. dengerin baik-baik. Tadi setelah kejadian yang melukai Nara, Tante Lidya berhasil d amankan. Terus d temuin dong sm Ayah kamu. Nah pas gtu, Tante Lidya bukan minta maaf, malah ngomong yang aneh-aneh deh. di saat itu ibu kamu masuk." Ridho berusaha menjelaskan.
"terjadi perkelahian lah antara ibu sama Tante Lidya. mereka kejar-kejaran sampe ke jalan raya dan akhirnya tertabrak mobil. dan keduanya meninggal di tempat..." Ridho menjelaskan dengan sangat hati-hati takut membuat Rindu terguncang.
"Bercanda mu gak lucu Dho, sumpah" Rindu masih tidak percaya. dia masih merasakan dengan jelas bahwa tadi dia bercengkrama bersama ibu dan Kasa.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Ridho benar adanya Nduk. ayah sudah mengurus pemakaman nya. dan mengenai Angkasa, adikmu telah lebih dulu meninggal dunia beberapa minggu lalu " ucap Besari.
"Kalo mereka meninggal, trus tadi itu...." Rindu berkaca-kaca dengan tatapan kosong.
"Nenek rasa, ibu dan adikmu pamitan sebelum mereka benar-benar pulang ke alam keabadian." ucap Nek Danur mendekati Rindu.
"Ibu.... Kasa ...." ucap Rindu lirih yang disertai tetes air mata.
"Nduk, ikhlaskan kepergian ibu dan adik agar jalan mereka lapang." Besari duduk di samping Rindu.
"Ibuuuu, kasaaa kenapa kalian tega tinggalin aku ....." Rindu menangis sejadi-jadinya di pelukan sang Ayah.
..........................
Besari, Rindu, Kemal, Ibra, Ridho, beserta Pak Budi, Bu Inggit, dan Kyai Hasan mengunjungi makam Erna dan Angkasa.
"Aamiiinnnn ya Rabbal allamiiinnn...." penutup doa yang dipimpin kyai Hasan. (kyai Hasan yang tak sengaja melintas d depan rumah sakit kala kejadian tabrakan yang menimpa Erna dan Lidya akhirnya menemui Besari. Beliau pula yang menceritakan kronologis kejadian meninggal nya Angkasa. beliau cukup mengetahui kejadian tersebut karna selama ini beliau lah yang banyak membantu Erna. rumahnya tak jauh dari rumah peninggalan orang tua Erna.)
"Ibu...." ucap Rindu lirih lalu mengusap nisan yang bertuliskan Erna Tomo binti Abdul Hutomo.
"Er, kamu yang tenang disana. aku berjanji akan menjaga putri kita dengan segenap jiwa ragaku."Ucap Besari di sisi putrinya.
"Yah, kenapa hidup seperti ini? selama 12 tahun ayah terpisah dari aku dan juga ibu serta Kasa. tapi ketika ayah kembali, justru Kasa dan ibu yang malah pergi selamanya."Tanya Rindu pada ayahnya yang tetap menatap pilu ke nisan sang ibu.
__ADS_1
Besari menarik napas panjang.
"Apa benar Yah Rindu ini pembawa sial, seperti kata almarhumah Tante Lidya??" tanya Rindu lagi yang kini menatap lekat pada sang ayah.
"Istighfar Nduk. sadar. kamu gak boleh ngomong gtu." Besari meninggi.
",Trus kenapa yah??? dari dulu Rin cuma mau bahagia sama ayah, ibu dan Kasa. Rin mau kayak orang-orang yang bahagia dengan keluarga nya. apa Rin salah yah??? kenapa sih dunia ini kejam banget sama Rin!" Rindu menangis histeris.
"Istighfar cah ayu, sejatinya semua ini adalah Qadarullah. ketentuan yang sudah Gusti Allah tetapkan. Rindu gak boleh bicara begitu, sejatinya kita ini hanya wayang cah ayu, sedangkan alur cerita d atur oleh sang sutradara yang tidak bisa di ganggu gugat yaitu Gusti Allah."Kyai Hasan menjelaskan sesuatu agar Rindu lebih legowo dan ikhlas menerima semua garis yang telah di tetapkan oleh Nya.
"sekarang yang terpenting, sebagai anak yang salihah, Rin harus bersikap santun, baik, rajin ibadah, dan yang pasti doakan agar lapang dan mudah jalan ibu juga adikmu. Sejatinya mati itu pasti cah ayu. kita semua ini sama, CaMat. Calon Mati. Tinggal nunggu giliran saja Nduk." tutur Kyai Hasan.
"Ayah mohon Nduk, jangan terlalu larut dalam kesedihan. ayah gak mau kehilangan lagi. tinggal kamu satu-satunya belahan jiwa ayah." pinta Besari.
"Ayah...." Rindu menangis memeluk erat sang ayah. kini ia sadar, ia masih memiliki seorang ayah untuk ia banggakan dan ia bahagiakan. Pun dalam hatinya berjanjilah akan menjadi anak yang berbakti untuk kebahagiaan sang ayah.
di sudut lain pemakaman
"Mommy...." tangis Nara begitu pilu.
"Kenapa Yanda dan mommy tega ninggalin Nara. sekarang Nara sebatang kara. Nara gak punya siapa-siapa." tangis Nara pecah.
"Siapa bilang..."......
__ADS_1