
tiba-tiba saja terdengar gaduh dari luar bangsal perawatan Gladys.
"Ada apa ya Dys? kok berisik ya diluar?" tanya Nara.
"Biasanya ada yang dalam keadaan gawat atau kritis Ra." jawab Gladys.
tap..tap..tap..(terdengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua)
"Papa?" Nara terkejut ketika menengok dan melihat kehadiran Besari.
" oh papa pikir papa salah kamar." sahut Besari santai.
terlihat Gladys menarik tangan Nara, lalu mengangkat alisnya.
"Eh iya Dys, kenalin ini papaku. Papa, kenalin ini Gladys." Nara memperkenalkan papanya dan Gladys.
Gladys terkejut, seketika membenarkan posisi duduknya lalu menyalami papa Nara.
"Semoga cepat sembuh yaaa nak." ucap Besari menguatkan.
"Terimakasih om." Gladys tersenyum.
Lalu mereka pun melanjutkan berbincang sembari menikmati buah-buahan yang dibawakan Besari.
sudut lain RS
" y Allah Pak, gimana ini?" Bu Inggit menangis, mata nya sembab, suaranya parau. Bagaimana tidak, beberapa waktu lalu Rindu dapat menggerakkan jari nya, sesaat air bening menetes dari sudut matanya. tiba-tiba tubuhnya kejang. Ketika ia memanggil dokter,dokter mengatakan kondisi Rindu kritis.
" sabar ya Bu, tenang. kita mohon kepada Gusti Allah agar mengembalikan Rindu kepada kita." pak Budi yang baru tiba dari apotek guna menebus resep obat Rindu yang di berikan perawat, sontak terkejut.
Pagi ini hanya mereka berdua yang menjaga Rindu, setelah Nek Danur dan Tejo pulang selepas subuh. bagaimana tak kalut perasaan Bu Inggit, ketika menghadapi Rindu yang kritis sedangkan ia hanya sendiri di ruang perawatan.
Tadinya ia pikir jari yang bergerak menandakan progres baik, nyatanya ia justru kritis.
30 menit berlalu, tim medis tak kunjung keluar dari ruang tersebut.
setelah 45 menit, barulah dokter keluar dari ruang tersebut dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
" Bagaimana kondisi Rindu dok?dia baik-baik saja kan dok?" cecar Bu Inggit.
" tenang ya Bu. tadi Rindu sempat kritis, bahkan detak jantung sempat berhenti..." dokter menjelaskan, menarik napas cukup dalam lalu perlahan mengembuskan nya.
" lalu apa dok?" pak Budi berkaca-kaca.
" Alhamdulillah Rindu masih memiliki semangat hidup, ia kembali meskipun masih koma. saya harap bapak dan ibu bersabarlah dan jangan lupa untuk selalu memohon kepada Tuhan. karena Ia lah Sang Maha Penyembuh." dokter menguatkan.
" terimakasih dok, Alhamdulillah. lalu kapan kira-kira Rindu akan sadar?" tanya Bu Inggit.
" kita tunggu saja Bu, semoga segera. kita hanya bisa berdoa untuk saat ini."....
__ADS_1
" rajinlah ibu, bapak mengajak Rin berbicara."
" sekali lagi trimakasih dokter." ucap Pak Budi.
" baik kalau begitu saya tinggal dulu pak Bu." dokter pun meninggalkan sepasang suami istri itu. Lalu akhirnya mereka masuk ke ruangan Rindu.
" *Rindu? apakah ia putri ku? ah tapi wanita itu bukan Erna. wajahnya berbeda sekali. Tidak, itu pasti bukan putriku. Aku yakin cemplon ku baik-baik saja. Erna pasti menjaga nya dengan baik. Ah cemplon, ayah merindukan mu Nduk.
Rindu, siapa pun kamu di dalam kamar itu, semoga kamu segera sadar dari koma mu." bathin Besari yang tak sengaja mendengar pembicaraan dokter dan keluarga pasien ketika ia akan pulang bersama Nara.
"Rindu? seperti nama anak perempuan papa? apa ia ini Rindu kakak ku? tapi orangtuanya lengkap. ah mungkin kebetulan saja. Ya Allah, semoga kakak ku Rindu baik-baik saja dimanapun ia berada. semoga papa bisa segera bertemu kak Rindu. Aamiiinnnn." bathin Nara*.
Mereka pun melangkahkan kakinya keluar RS, masuk mobil dan bergegas pulang.
.
.
.
.
.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..." terdengar sayup-sayup kumandang adzan Isya.
" bapak duluan saja ya, ibu gak mau ninggalin Rindu sendirian." Bu Inggit menjawab tanpa menengok pada suaminya. tatapan lekat mengarah pada gadis cantik yang wajahnya kini pucat.
" Baiklah, bapak duluan ya Bu." pak Budi beranjak menuju mushala RS.
15 menit kemudian, ada seseorang yang memasuki ruangan perawatan Rindu. Bu Inggit pun menengok ke arah suara langkah kaki tersebut.
" assalamualaikum." ...
" wa'allaikumsallam, siapa ya?" tanya Bu Inggit.
" maaf Bu, saya Kemal. saya teman sekelas Rindu. bagaimana kondisi Rindu Bu?" ucap Kemal.
" Rindu masih koma nak, hmm bagaimana kamu tau Rindu di rawat?" tanya Bu Inggit.
flashback on
"Apaan tuh rame-rame?" ucap Ridho yang baru tiba di sekolah.
" Entah.." sahut seorang temannya.
karena penasaran, ia pun bergegas menuju Mading. Alangkah terkejutnya Ridho ketika tiba di depan Mading.
"Apa-apaan nih!" seru Ridho.
__ADS_1
"Ada apaan sih rame banget?!" seru Kemal yang baru tiba di depan Mading.
" Perhatian-perhatian semuanya.... yuhuuu" teriak seorang siswi.
" ini adalah berita paling menggemparkan, gw berhasil mendapat foto eksklusif hubungan antara si Einstein girl yang sok alim alias Rindu Besari ternyata gak sepolos yang kalian duga gays..." teriak siswi ini dengan wajah sinis sambil menunjuk foto yang tertempel di papan mading.
" jadi, buat kalian terutama cowok-cowok yang terhipnotis dengan tingkah sok polosnya, sadarr woyy! dia itu cuma perempuan yang sok alim, padahal murahan, tempel sana tempel sini!" seru siswi tersebut yang tak lain adalah Gloria. ocehan nya d sambut sorak dari 2 sahabatnya, Nawang dan Andin.
"Stop, jaga ucapanmu!" teriak seorang siswa yang wajahnya ada dalam foto yang di pamerkan oleh gadis berambut pirang itu.
" oh ini dia si pria yang baru kena goda nya si gadis penggoda, hahaha" tawanya mengejek. Geram, itulah yang dirasakan Ibra. Tangannya hampir melayangkan tamparan di wajah Gloria, namun di cegah oleh Kemal.
"Sans kak, jangan main tangan. Biar gimanapun dia cewek. Gak pantes kita main tangan ke cewek." Kemal menenangkan Ibra.
"Lo juga Glo, klo Lo iri sama Rindu, gak gini caranya! norak Lo!" Kemal menampar Gloria telak dengan kata-kata nya.
sontak siswa siswi yang berkerumun tadi tertawa mendengar ucapan Kemal.
"Orang kalo dengki jadi gak waras ya?" ucap seorang siswa.
"Ah gak jelas lah,huuu." sahut yang lain.
Dan akhirnya kerumunan itu membubarkan diri masing-masing. Sedangkan Gloria dan kawan-kawan nya terpaku di depan mading.
"Sialan!" teriak Gloria.
kelas X-IPA 1
"Loh kok Rindu belum datang?" Kemal membatin.
Dan hingga jam pelajaran berakhir hati itu, Rindu tak datang, juga tak ada kabar berita. Hal ini membuat Kemal panik. Ia pun berniat mengunjungi Rindu dirumahnya sepulang sekolah.
kring... kring...kring...
Setelah bel pulang berbunyi, Kemal pun bergegas ke parkiran. Segera ia melajukan motor Scoopy miliknya menuju rumah Rindu.
Rumah Rindu
Tiba di depan rumah Rindu, Kemal segera memarkirkan motornya dan berjalan menuju pintu rumah Rindu.
tok..tok..tok..
"Assalamualaikum" Kemal memberi salam.
"Assalamualaikum" lagi ia mengucap salam. tapi tak juga ada sahutan. sepertinya rumah nya kosong.
" kemana ya orang di rumah ini? kok sepi" kemal membatin.
"Assalamualaikum." masih tak ada jawaban. Tetiba Kemal terkejut karena ada yang menepuk bahu nya dari belakang.
__ADS_1