Namaku Rindu

Namaku Rindu
Nara gak mau kehilangan papa


__ADS_3

"Erna..."...


"Apa pa?" tanya Nara.


tanpa berpikir lagi, Besari langsung keluar menerobos derasnya hujan. Nara dan pak Supri terkejut.


"Papa..."Teriak Nara


.............


Hai readers kesayangan, gimana nih sampai chapter ini? Masih penasaran dengan kisah Rindu Besari?


di episode sebelumnya adalah detik-detik Pak Besari yang melihat Ibu Erna secara tak sengaja di sekitar pemakaman Angkasa.


Menurut readers akan seperti apa kisahnya??


Akankah mereka berdua bertemu??


Bagaimana reaksi Pak Besari mengetahui kematian Angkasa??


Lalu, bagaimana pula kondisi Rindu? Akankah Rindu segera sadar dari kritis nya??


Penasaran kan??


Yuk jangan sungkan untuk memberi dukungan dengan Like, Vote dan comment agar author semangat untuk melanjutkan kisah ini.


Jangan lupa klik Love untuk mendapatkan notifikasi dari novel Namaku Rindu...


Happy reading


Salam Sayang.......


................................


Besari menerobos hujan mengejar sosok yang tadi ia lihat dari dalam mobil. Sampai d depan toko, ternyata sosok itu sudah tidak ada.


"Erna, dimana kamu?? Kenapa kamu menghilang lagi? Gak mungkin kan kalo ini cuma imajinasi ku!" keluh Besari.


"Cari siapa Pak?" tanya seseorang dari dalam toko.

__ADS_1


"Oh maaf Bu, tadi saya seperti melihat seseorang yang saya kenal d depan toko ini, tapi ketika saya menghampiri kemari sudah tidak ada. Mungkin saya salah lihat." jawab Besari.


"Papa..." Nara datang menghampiri dengan membawa payung.


"Ngapain kamu ikut turun boy?" tanya Besari.


"Harusnya Nara yang tanya, papa ngapain hujan-hujanan segala. Kaget aku. Kan ada payung di mobil. kalo papa sakit gimana??" oceh Nara


"Papa tadi mengejar seseorang, tapi sudah gak ada lagi pas papa sampai sini " tukas Besari.


"Maaf, apa maksud Bapak itu ibu-ibu yang basah kuyup yang tadi berteduh disini ya?" tanya ibu tadi.


"Oh jadi benar kan tadi ada yang berteduh Bu?" Besari bersemangat.


"Ibu-ibu yang Nara bilang tadi pa?" tanya Nara penasaran, hanya d jawab anggukan oleh Besari.


"siapa ya ibu-ibu itu? kok papa sampai nekat basah kuyup gini?" gumam Nara dalam hati.


"Itu ibu nya Pak." tunjuk ibu tadi dengan menggunakan ibu jarinya ke arah seorang wanita yang tengah berjalan d tengah hujan.


Ketika Besari melihat ke arah yang ditunjuk oleh pemilik toko, betapa terkejutnya ia bahwa benar itu sosok yang sejak tadi ia cari. Dan lagi ia berlari menerobos hujan yang kembali deras.


"Erna....".....


"Erna...."....


"Er....."ciitttt


Bugh....


"Papaaaaaa" Nara histeris ketika melihat tubuh sang papa seketika ambruk d tabrak sebuah mobil yang mengebut d tengah derasnya hujan.


Ia berlari ke arah Besari, seketika warga sudah berkerumun membantu mengangkat tubuh pria itu.


"Papa...." teriak Nara yang melihat tubuh papa nya bersimbah darah.


"Ayo pak ayo tolong papa saya, bawa ke mobil sini pak." Nara meminta tolong pada warga sekitar.


Beberapa pria pun mengangkat tubuh Besari dan membawanya ke arah mobil. Tiba d mobil, pelan-pelan tubuh penuh darah itu d letakan, lalu d susul oleh Nara.

__ADS_1


Pak Supri pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Bina Sehati.


RS Bina Sehati


"Tolong, tolong papa saya. cepat!" teriak Nara ketika memasuki lobby rumah sakit.


Tak lama beberapa petugas medis dengan sebuah brankar menjemput Besari dari mobilnya.


Dengan hati-hati & sigap paramedis mengangkat tubuh Besari dari dalam mobil dan memindahkan ke atas brankar.


Segera setelah itu mereka membawa Besari ke ruang UGD.


"Y Allah tolong selamatkan papa. Nara gak sanggup jika harus kehilangan kedua kalinya. Nara sudah mengikhlaskan Allah memanggil Yanda tanpa pernah bertemu dengan Nara sebelumnya. Tapi untuk saat ini, Nara mohon selamatkan papa y Allah" Nara berdoa di depan ruang UGD.


"Ra, apa yang terjadi?" suara seorang wanita terdengar cemas.


"Mommy...." tiba-tiba saja tangis Nara pecah d pelukan mommy nya.


"Hei, ayolah tenang Nara. mommy ada di sini. Kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Lidya sembari memperhatikan putra semata wayangnya.


"Mom, yang kenapa-kenapa itu papa mom. Nara gak mau kehilangan papa" Nara menangis sejadi-jadinya.


"Tenang Naratama, papa mu itu kuat. kamu tenang yaa." Lidya berusaha menenangkan putranya.


"Mommy gak lihat kejadiannya! Papa tuh luka parah mom. Papa pasti kehabisan banyak darah. Nara gak mau kehilangan kedua kalinya" Nara menjadi semakin emosi. Ia pun pergi meninggalkan Lidya seorang diri.


"Nara. Wait. Naratama!" teriakan Lidya tak d hiraukan.


"Mas Amin, kamu harus kuat. Kamu harus sembuh mas. See, Nara bahkan seperti tak menganggap aku. Dia lebih mencintai mu mas. Ku mohon demi Nara, segera sembuh ya mas." Lidya membatin, lalu menghembuskan nafas panjang seolah membuang sesak dalam dada nya.


"Assalamualaikum warahmatullah.... Assalamualaikum warahmatullah...." Nara mengucap salam di akhir shalatnya.


"Ya Allah, Nara memang bukan hamba yang baik. Shalat pun Nara masih bolong-bolong. Membaca kitabMu pun belum lancar. Tapi Nara yakin, Allah adalah sebaik-baik nya tempat berserah diri. Y Allah seumur hidup Nara hanya mengenal satu sosok ayah yaitu papa Amin Besari. Meskipun akhirnya Nara tau bahwa beliau bukan ayah kandung Nara, tapi Nara tetap menyayangi nya. Nara mohon ya Allah, selamatkan papa Amin. Jika mau di tukar, tak apa Nara yang harus menderita. Asalkan papa kembali sehat. Nara sudah kehilangan Yanda tanpa pernah bertemu sekalipun. Nara gak mau lagi kehilangan orang tua. apalagi papa. kabulkan doa Nara ya Allah. Aamiiinnnn." Nara berdoa sembari menangis. ia begitu merasa terpukul melihat kondisi Besari.


disudut lain mushala RS.


"Ya Allah, hamba mohon. tolong selamatkan lah Rindu. kembalikan ia kepada kami y Allah. Sungguh hamba memohon pertolongan Mu wahai Sang Maha Penyembuh. Aamiiinnnn." Kemal yang baru saja menunaikan shalat Maghrib, lalu tak lupa mendoakan kesembuhan Rindu.


"Rin, udah lama lho kamu tidurnya. bangun ya Rin. Aku kangen Rin. Kamu kok tega banget sama aku. Padahal harusnya waktu itu kamu masuk sekolah, dan aku ingin meminta kamu menjadi pacarku. ya pacar yang sesungguhnya. Bukan pacar menurut versi orang-orang. Aku mohon cepat kembali Rinduku." Kemal menatap layar ponselnya. terlihat foto dirinya bersama Rindu. Tak terasa air matanya menetes.

__ADS_1


__ADS_2