
di sudut lain pemakaman
"Mommy...." tangis Nara.
"Kenapa Yanda dan mommy tega ninggalin Nara.... sekarang Nara sendiri, Nara sebatang kara. Nara gak punya siapa-siapa." tangis Nara pecah.
"Siapa bilang...." suara seorang gadis menghentikan tangisan Nara.
Nara menengok ke asal suara, terkejut nya ia ketika ada banyak orang di belakang nya.
"Kakak...." ucap Nara lirih
"Siapa bilang kamu sendiri Ra, trus kamu anggep kita apa? jenglot!" ucap Rindu berseloroh lalu menghampiri pemuda yang beda usia 3 tahun dengannya.
"Yanda dan mommy sudah gk ada kak. Nara gak punya siapa-siapa lagi." Nara tertunduk.
"Trus papa ini apa?" ucap Besari.
"emang bener-bener nih Nara!" Rindu bicara sembari menaikkan satu alisnya.
"Apa papa dan kakak tidak benci Nara? setelah apa yang sudah mommy lakukan pada keluarga kalian?" tanya Nara dengan tatapan penuh makna.
"Nara, kamu itu tetap jagoannya papa. gak ada yang bisa menggantikan posisi mu boy. dan urusan papa dan mommy mu sudah usai, biarlah ia beristirahat dengan tenang di alam keabadian. satu hal yang pasti, kamu tetap anak papa." ucap Besari.
"Papa...." Nara berkaca-kaca.
"kakak sudah memaafkan mommy kamu, biarlah semua yang telah usai menjadi sejarah bagi kehidupan kita. sekarang saatnya kita mengukir sejarah baru menjadi sebuah keluarga. " ucap Rindu.
"Kakak ..." Nara mengalihkan pandangan pada Rindu, kemudian berhambur memeluknya dan menangis terharu
"Terimakasih yaa kak, kakak itu seperti seorang Dewi dalam hidup Nara. Nara sayang kakak."
Akhirnya mereka yang hadir disana pun mendoakan Gunawan Frederick dan Lidya Maulida di pimpin oleh Kyai Hasan.
Seusai nya mereka pun meninggalkan pusara tersebut.
"Boy, mulai sekarang kamu tinggal di rumah papa saja ya." ucap Besari.
"Beneran pa! tapi rumah Pejaten peninggalan Yanda gimana?" tanya Nara ragu.
"Rumah itu cukup besar Ra, sebaiknya nanti biar di sewakan saja ya." jawab Besari.
"Terimakasih paa...." Nara kembali memeluk Besari.
"Nduk, kamu juga tinggal sama ayah yaa." ucap Besari.
Rindu menatap ayahnya lekat, lalu menengok ke arah Pak Budi dan Bu Inggit.
__ADS_1
sepasang suami istri itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Iyaa yah." ucap Rindu mantap menatap ayahnya.
Akhirnya mereka pulang kerumah masing masing.
tiga Minggu kemudian
Berkat kecerdasan yang dimiliki, dibantu oleh pengaruh dari sang ayah, Rindu pun berhasil mengikuti ujian susulan dan menjadi juara umum di sekolah.
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah d tahun ajaran baru.
setelah sekian lama, Rindu begitu merindukan sekolah.
Rindu pun mengubah penampilannya. Rambutnya yang hitam dan panjang sepinggang di potong sebahu.
Kembali ia menengok ke cermin besar d kamarnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambut d sisir rapi memakai bandana hitam, seragam putih abu-abu nya lengkap dengan segala atributnya. sepatu hitam putih pun sudah terpasang sempurna.
Setelah itu ia menengok kedalam tas nya. d tengok kembali perlengkapan sekolahnya, setelah ia rasa semua lengkap, ia pun bergegas turun ke ruang makan untuk sarapan.
"Selamat pagi Yah....." ucap Rindu bersemangat.
"Selamat pagi Prameswari... ceria sekali hari ini " ucap Besari seraya mencium pipi gadis kesayangannya itu
"Kan harus semangat mengawali hari yah... Apalagi hari ini hari pertama sekolah." Rindu bersemangat lalu duduk di sebelah kanan Besari.
"Pagi boyyyy" ucap Besari dan Rindu bersamaan.
"Ciee kompak" Nara berseloroh.
"Ishh kakak cantik banget sih kak, ciyeeee yang...." ejek Nara.
"Ciee apeee, ikan kali cuwe." Rindu melotot.
"Kakakmu memang cantik Ra." ucap Besari tersenyum sembari menyeruput coklat hangat.
"Ishh ayah, kakak kan mau ketemu sama kak Kemal makanya aura nya beda"goda Nara
"Uhuk... uhuk...." Rindu tersedak roti yang baru ia suapkan kemulutnya.
"Naraaaa" teriak Rindu..
"Hayo sudah... sudah... cepat habiskan sarapannya. papa antar Nara ke sekolah lalu Kakak kemudian." ucap Besari.
"Kalian harus belajar yang rajin yaa, tahun ajaran baru, Sekarang kakak kelas XI dan adik kelas VIII. Harus makin rajin yaa." Besari memberi wejangan pada kedua buah hatinya.
"Siap pa..." ucap Nara.
__ADS_1
"Iyaa yah" Rindu tersenyum.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka pun bergegas masuk ke mobil. Pak Supri pun kemudian melajukan mobilnya menuju sekolah Nara.
SMP Tunas Bangsa
"Have a nice day boy ... belajar yang rajin, jangan banyak main oke" ucap Besari sesampainya mereka d sekolah Nara.
"Ahsiaappp paa" Nara pun menyalami punggung tangan Besari.
"Daahhh kakak." Nara pamit pada Rindu.
"Daahhh, ganbate Raa" ucap Rindu menyemangati adiknya.
Tak lama kemudian mobil putih itu melanjutkan perjalanan menuju sekolah Rindu.
SMA PELITA BANGSA
"Belajar yang semangat yaa Nduk. Ayah yakin kamu akan jadi orang hebat." Besari menatap lekat putrinya.
"Iyaa Yah, Rin akan belajar sungguh-sungguh dan menjadi orang sukses untuk membanggakan ayah, juga Ibu."Rindu tersenyum.
"Ayah mau ke kantor setelah ini?" tanya Rindu kemudian.
"Iyaa Nduk, pagi ini ayah ada meeting jam 9. yowis kamu masuk sekolah sana, sudah jam 6.15." ucap Besari.
"Ayah hati-hati yaa kerjanya. jangan telat makan ok" tutur Rindu lembut. Kemudian menyalami punggung tangan sang Ayah
"Assalamualaikum, daahh Ayah..." pamit Rindu seraya keluar dari mobil
"Wa'allaikumsallam, semangat yaa cemplon" Besari menyemangati putrinya.
Mobil putih itu pun meninggalkan pelataran sekolah menuju perusahaan Besari.
Rindu bergegas masuk sekolah setelah mobil ayahnya tak nampak lagi.
"Selamat pagi Pak Diman..." sapa Rindu pada seorang security sekolah.
"Selamat pagi non..." salam Pak Diman.
"Wajah baru nih Non, biasanya rambutnya panjang." komentar Pak Diman.
"Biar beda aja pak, tahun ajaran baru, semangat baru, rambut baru hehehe" seringai Rindu.
"Semangat terus Non..."
Rindu pun bergegas menuju kelas nya yang baru.
__ADS_1
"Riiinnnn....."...