
"ibu lagi ngelonin dedek Kasa yah. tadi ibu yang suruh rindu angkat telepon. Kalau ayah mau ngobrol besok pagi aja yah. kasian ibu capek, seharian dedek Kasa rewel yah." ucap Rindu kecil.
"Yaudah klo gtu, Rindu juga bobok ya. titip peluk cium untuk dedek Kasa juga ibu yaa Rin..." ucap Besari.
"Dadaah ayah, ayah juga istirahat yaa. assalamualaikum." Rindu mengakhiri telepon nya.
Tiga hari sudah Gunawan dan istrinya di rawat di RS. Selama itu pula Besari menunggui mereka di RS.
"Dokter, bisakah saya menemui suami saya?" ucap Lidya ketika dokter sedang mengecek kondisi nya.
"Boleh Bu, kebetulan ruangan suami ibu di sebelah ruangan ini." jawab sang dokter.
Lidya pun di bantu seorang perawat menuju bangsal perawatan dengan kursi roda. Ia terkejut ketika memasuki ruangan, ada seseorang yang tengah duduk di sisi brankar, sedangkan sang suami terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya. Menyadari ada yang masuk ke ruangan, pria di sisi brankar pun bangkit dari duduknya.
"Lidya? Kenapa kamu disini? Apa kondisi mu sudah membaik?" tanya Besari.
"Oh iya mas Amin. Dokter mengijinkan aku menengok mas Gunawan. Sudah sejak kapan mas Amin disini?" Lidya bersuara.
"Sejak kecelakaan yang menimpa kalian. Pihak RS menghubungi ku dan hari itu juga aku k Jakarta." sahut Besari.
"Hmm, sudah tiga hari ini Gunawan koma tak sadarkan diri." lanjut Besari.
"Andai aku tidak memaksa mas Gun malam itu, hal ini tidak akan terjadi" Lidya terisak.
"Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu?" tanya Besari.
"Semua salahku mas. Aku yang egois memaksa mas Gun pergi ke Mega mendung. Tapi kemudian diperjalanan aku seperti mengalami kontraksi. Sehingga membuat konsentrasi mas Gun buyar. Dan terjadi tabrakan itu." Lidya mengenang kembali kejadian kecelakaan yang membuat suaminya koma.
"bund...bund..." terdengar suara serak yang lirih.
"Yanda.." seru Lidya yang menyadari itu suara suaminya.
"Gun .." seru Besari.
Perawat yang mendorongkan kursi roda Lidya pun keluar memanggil dokter.
"Bunda, bunda gak kenapa-kenapa kan? gimana keadaan anak kita?" suara Gunawan parau.
"Aku gak papa Yanda, pampam pun baik-baik. Dia anak yang kuat.Dia menunggu Yanda d dalam sini ." sahut Lidya lirih.
"Bund, Yanda udah gk kuat bund. Papi tadi datang mau jemput Yanda." suara Gunawan semakin parau.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa Gun, jangan ngaco. Kamu harus kuat demi jagoan mu, demi istrimu. Sebentar lagi dokter datang, kuat yaa Gun."Besari memberi dukungan, sedangkan kini Lidya hanya mampu menangis sembari menggenggam tangan suaminya.
"Sar, sahabatku.. Tolong jaga Lidya dan anakku. Gantikan aku untuk melindungi mereka. Tolong aku Sar.. Waktu ku gak lama lagi, Papi ada disini mau jemput aku." Gunawan semakin melemah.
"Jangan gila kamu Gun.." Besari menaikan nada suaranya, tak percaya dengan permintaan sahabat nya itu.
"Sar, nikahi Lidya. jaga dia juga putra ku. Anggap dia seperti anakmu sendiri. Janjilah padaku Sar... Aarrgghhhh..." Gunawan mengerang.
Seketika dokter datang dan mengecek kondisi Gunawan, tak lama dokter mundur dan menyampaikan bahwa waktu Gunawan tak lama lagi. Tangis Lidya pecah, Besari tertunduk lesu, lalu kemudian mendekati Gunawan yang sedang sakaratul maut. Besari berusaha membimbing Gunawan mengucap Kalam Ilahi.
tut.tut.tuuuutttt.....
(Elektrokardiograf menunjukkan tak ada lagi aktifitas jantung Gunawan. Hanya garis lurus dan suara Tut yang panjang sebagai pemberi kabar bahwa seseorang telah menghadap Sang Pencipta.)
"Innalilahi wa innailaihi roji'un" ucap Besari lirih.
"Tidaaaakkkkk.... Yandaaaa, jangan tinggalkan aku Yandaaa... bangunnnn..." Lidya histeris, bangkit dari kursi roda dan mengguncang tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa.
Seketika tubuh wanita berbadan dua itu lemas dan seolah melayang. Beruntung ada Besari disisinya, dan dengan sigap menangkap tubuh wanita yang baru saja di tinggal pergi untuk selamanya oleh suaminya itu. beberapa perawat datang dan membawa Lidya ke bangsal perawatan, sedangkan Besari langsung mengurus administrasi dan proses pemakaman Gunawan.
TPU Karet Bivak
Beberapa orang meninggalkan gundukan tanah yang baru saja selesai d taburi bunga. Ya, ini adalah pemakaman Gunawan Frederick, sahabat Besari. Hanya tinggal Besari dan Lidya di depan makam Gunawan. Lidya masih memeluk nisan suaminya, tak percaya bahwa lelaki yang di cintai nya itu telah tiada dan terkubur d gundukan tanah merah.
Mendengar hal itu, Besari pun akhirnya bersuara.
"Setelah putramu lahir, dan setelah masa idah mu. Sesuai wasiat Gunawan, aku akan menikahi mu. Jadi jangan lagi khawatir bagaimana kalian kedepannya. Aku berjanji akan menjaga kalian, seperti permintaan sahabatku, Gun." Besari menghela nafas berat. Dia pun sebenarnya ragu, apa yang harus ia perbuat. Dan bagaimana nasib rumah tangga nya. Sedangkan dia pun bingung bagaimana menolong istri dan anak almarhum sahabatnya itu.
"Apa kau yakin mas Amin?"Tanya Lidya lirih.
"Apa yang sudah ku ucap, tak kan kutarik lagi." ucap Besari.
"Sudah menjelang sore, mari kita pulang, sepertinya langit mendung akan turun hujan." Besari memapah dan membimbing Lidya meninggalkan pemakaman.
Dua hari kemudian lahirlah seorang putra, Besari menunggui nya. Dan akhirnya dengan berkaca² iya mengadzani bayi laki-laki tersebut.
Dan sesuai janjinya, setelah masa idah Lidya selesai,Besari pun menikahi Lidya. Besari memperlakukan Lidya dan bayinya dengan sangat baik. Meskipun demikian, tak pernah sekalipun Besari menyentuh Lidya layaknya seorang suami.Karena niatnya hanya ingin melindungi dan menyelamatkan istri dan anak mendiang sahabat nya itu.
flashback off
Bus sekolah
__ADS_1
"Dek, dek.. bangun" seseorang membangun kan seorang gadis yang bersandar d jendela bus.
"hmph,, dimana ini?" suaranya serak, perlahan membuka mata.Alangkah terkejut nya ia ketika menyadari telah terlewat jauh dari halte tujuannya.
"Gara-gara ketiduran jadi kelewat jauh gini deh."gerutu Rindu.
Akhirnya dia pun menaiki bus arah ke rumahnya. Baru saja melewati beberapa halte,netra nya membulat melihat seseorang yang ia kenal.
"Kasa, ngapain ada disini?" tanya nya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Rindu pun turun dan berlari kearah adiknya berada. Benar saja, itu Kasa dan kawan-kawan nya d warnet.
"Kasa.." panggil Rindu.
sayangnya anak itu keburu masuk kedalam warnet, tak mendengar panggilan Rindu. Akhirnya rindu berlari menyusul Kasa masuk ke dalam warnet.
Setelah melewati beberapa meja, akhirnya Rindu berhasil menemukan adiknya itu.
"Angkasa.." tegur Rindu.
"Rindu, ngapain lu disini? ngikutin gw ya?" jawab Kasa terkejut.
Mendengar kata-kata adiknya, Rindu sangat sedih, bahkan adiknya pun tak ada lagi rasa hormat pada dirinya. Tak berapa lama akhirnya Rindu menarik napas dan membuangnya perlahan.
"Harusnya kk yang tanya, ngapain Kasa disini? Kenapa gak sekolah? kalo ibu tau gimana?" ucap Rindu lembut.
"Dih, ngancem gw Lo? mo ngaduin gw ke ibu? silahkan aja klo berani. Ibu gk bakal percaya sama Lo! Lagian jangan sok peduli deh SM gw, Lo itu bukan kk gw. Lo itu pembawa sial tau!" Kasa membentak dan berteriak pada Rindu.
" Pergi Lo, jangan bikin gw kena sial!!" Kasa mengusir Rindu.
Rindu akhirnya berlari meninggalkan adiknya, percuma bicara, yang ada dia akan semakin d permalukan.
Rindu berlari sampai d sebuah taman, dia pun duduk d kursi taman. Tak lama air mata nya tumpah, tangis yang ia tahan sedari tadi pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala rasa yang ada d dalam dada.
" Ya Allah, kenapa nasibku seperti ini? kenapa ya Allah?? Ayah meninggalkan aku, Ibu dan juga adikku pun membenciku. kenapa y Allah. Aku tak pernah minta lahir ke dunia ini, tapi kenapa dunia ini terasa sangat kejam padaku." Rindu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala penat di dalam dadanya, Tak ada satupun seseorang tempat ia bersandar ataupun berkeluh kesah. Nestapa, itu yang ia rasa saat ini.
"Ayah, dimana ayah?? kenapa ayah tega ninggalin Rindu? Bu, kenapa ibu benci sama Rindu? Apa salah Rindu Bu?? Kasa, apa salah kk ke kamu, sehingga kamu bersikap kasar pada kk? kenapaaaa!" teriak Rindu.
Tiba-tiba Rindu terhenyak, ketika seseorang menyentuh bahu kirinya. Dan betapa terkejutnya ketika ia menoleh.
"Kamu..." ucap Rindu dengan wajah banjir air mata dan mata yang sembab.
"Ini, hapus air matamu. Jangan menangis lagi. Air mata mu terlalu berharga untuk menangisi sesuatu yang kurasa tak berarti." ucap lelaki itu
__ADS_1
" apa maksudmu?" tanya Rindu.
" ada aku, kamu tidak sendiri. Jika ada yg ingin kau keluhkan, bicara padaku.Aku siap mendengar semua keluh kesah mu." ucap nya sembari menyeka air mata Rindu dengan sapu tangan.