
"Sudah...sudah... kalian ini sudah pada besar tapi masih saja suka ejek-ejekan." Besari menahan tawa melihat tingkah polah kedua putra putrinya tersebut.
"Assalamualaikum...."....
"Wa'allaikumsallam, eh Ibra. mari masuk Nak." jawab Besari.
"Apakabar Om?" Ibra menyalami punggung tangan Besari.
"Alhamdulillah sehat, Nduk tolong buatkan minum untuk nak Ibra yaa." pinta Besari pada Rindu.
Rindu pun menuju dapur, diekori oleh Nara.
"Kakak...." panggil Nara.
"Hmm...."...
"Kak!" panggil Nara lagi karena Rindu tak begitu merespon nya.
"Ada apa Naratama Gunawan?" sahut Rindu jengkel.
"Isshh itu kak Ibra mau ngapain? tumben rapi banget lagi. keliatan dewasa banget yaa kak " ucap Nara penasaran.
"Dia kan udah kelas XII Raa, wajar sih kalo penampilan nya kelihatan udah dewasa. sebentar lagi kan bakal masuk universitas." Rindu menanggapi santai
"Ah tapi tetep aja beda gtu, feeling aku mengatakan kak Ibra mau ngomong penting deh sama Papa" sanggah Nara.
"Terserah Nara aja deh. udah ah kakak mau nganterin teh nya nih."ucap Rindu.
Rindu meninggalkan adiknya yang hanya mengerucutkan bibirnya. tingkah keduanya membuat mbok Dharmi hanya senyum-senyum sedari tadi sambil menyiapkan makan malam.
"Silahkan diminum kak teh nya." Rindu menyuguhkan secangkir teh untuk Ibra.
"Makasih Rin..." ucap Ibra yang lalu mengambil cangkir teh tersebut.
__ADS_1
"Jadi gimana Om?" tanya Ibra seraya meletakkan cangkir teh di meja.
"Sebaiknya kita tanyakan saja langsung kepada Rindu." ucap Besari.
"Ada apa Yah?" Rindu terkejut mendengar namanya di sebut.
"Begini Nduk, dulu sekali ketika mendiang Om Mawardi masih ada. Dan ketika kami masih sama-sama lajang, Ayah dan Om Mawardi pernah berniat kelak suatu saat jika kami memiliki keturunan dan keturunan kami berbeda jenis, kami berniat untuk menjodohkan mereka." Besari membuka pembicaraan.
"Lalu...?" tanya Rindu.
"Pada waktu itu, ketika kamu baru lahir, Om Mawardi datang menjenguk bersama Ibra yang masih sangat kecil. Kala itu Ibra terlihat sangat senang ketika ayah meletakkan dirimu di pangkuannya.
lalu Om Wardi pun berkata, sepertinya anak-anak kita cocok, bagaimana kalau kita realisasikan rencana kita dahulu."Besari mengambil nafas dalam.
"Pada waktu itu ayah mengiyakan rencana Om Wardi. Kami pun berniat menjodohkan kalian kelak ketika kalian dewasa." Besari menyudahi ceritanya.
"Jadi gimana Rin?" tanya Ibra.
"Gimana apanya?" Rindu balik bertanya.
"*Astaga! mimpi apa aku ini?? namaku Rindu, bukan Siti Nurbaya! kenapa pula aku harus d jodoh-jodohkan. memikirkan menikah pun belum. aku masih ingin sekolah, masih ingin meraih cita-cita. Andai pun aku mau di nikahkan, aku gak ada rasa sama kak Ibra. kak Ibra, yaa dia sudah seperti kakak kandung ku. Astagaaa! aku harus bagaimana ini" batin Rindu.
"Kaaaannn feeling ku benar. Pasti ada udang di balik bakwan nih kak Ibra kesini malam-malam, mana rapi banget gitu! Papa lagian ngapain segala jodoh-jodohin kak Rindu! emang kak Rindu itu Siti Nurhaliza apa, eh Siti Nurbaya apa!" batin Nara.
"Ku mohon terima lah perjodohan ini Rin. aku sangat mencintaimu, amat mencintai mu. Aku sudah mencintai mu sejak almarhum ayah menjodohkan kita" batin Ibra*.
Suasana ruang keluarga Besari yang tadinya hangat karena tingkah polah kedua putra putri Besari, kini tiba-tiba berubah menjadi hening. Tak ada satupun dari ketiganya bersuara. Sedangkan Nara yang sejak tadi mencuri dengar pun menjadi semakin penasaran.
"Jadi Rin?" Ibra membuka suara.
Rindu masih memikirkan kata-kata yang tepat. ternyata kecerdasan IQ 130 pun tak dapat membantu saat ini.
Gadis itu pun menatap lekat pada ayahnya dan Ibra bergantian. Besari hanya mengangguk seolah mendukung apapun keputusan Rindu.
__ADS_1
Akhirnya ia menarik napas panjang, lalu perlahan menghembuskan nya.
"Kak Ibra, jujur saja saat ini fokus ku hanya untuk mengejar cita-cita dan membanggakan Ayah. Aku pun tidak berniat nikah muda. Dan dari lubuk hati ku yang terdalam, aku sangat menyayangi kak Ibra, amat menyayangi. kak Ibra sudah ku anggap kakak kandung ku sendiri. Aku berterimakasih karena selama ini kak Ibra selalu ada dan membantu di kala aku dalam kesulitan. Tapi maaf kak, aku tidak bisa menerima perjodohan ini " akhirnya kata-kata itu meluncur lancar dari bibirnya.
Terlihat raut kecewa di wajah Ibra. kepala nya tertunduk. betapa tidak, cinta yang ia jaga selama belasan tahun harus mendapatkan penolakan. Rasanya hancur hatinya.
Sesaat nafasnya seolah terhenti. Namun kemudian ia mengingat semua kenangan bersama Rindu. Ya, asal melihat Rindu tersenyum bahagia sudah cukup baginya. bukankah cinta tak harus memiliki.
Ibra pun menghembuskan nafas perlahan dan mengangkat kepala menatap Besari dan Rindu bergantian.
"Baiklah Rin, terimakasih atas kejujuran mu. Aku terima keputusan mu. Namun bisakah kau berjanji untuk tetap menjadi adik kecilku yang manis. tetap masukan aku dalam daftar orang penting di hidupmu." ucap Ibra sambil tersenyum.
Besari dan Rindu terkejut dengan reaksi Ibrahim. Nara pun demikian. mereka sungguh terharu dengan kata-kata yang terucap oleh pemuda berambut keriting itu.
"Tentu saja kak, sampai kapan pun kak Ibra adalah kakak yang paling aku sayangi."....
"Om Sari. bisakah Om mengijinkan Ibra memanggil Om dengan sebutan Ayah? dan apakah Om berkenan menganggap Ibra seperti putra kandung Om sendiri." ucap Ibra dengan suara yang tertahan dan netra yang berkaca-kaca.
Tentu saja Besari tak dapat menahan rasa haru yang bergetar di dada nya. Ia pun membuka kedu tangannya. Ibrahim dan Rindu pun berhambur kedalam pelukan pria tegap yang sudah tidak muda lagi itu.
"Tentu saja Nak, Ayah akan sangat bersyukur memiliki anak-anak luar biasa seperti kalian." ucap Besari bergetar.
"Allah itu memang Maha Baik. Allah memanggil Angkasa, namun Allah hadirkan kalian dalam hidup Ayah. kini Ayah memiliki 4 penyejuk hati, tiga orang putra dan seorang putri yang cantik." Besari tak mampu menahan air matanya.
"Papa...." Nara tak kuasa berhambur kedalam pelukan papanya.
"Berjanjilah kalian akan selalu saling menjaga, saling menyayangi, saling melindungi layaknya darah daging sendiri." pesan Besari pada anak-anak nya.
mereka bertiga pun mengangguk di dalam pelukan sang Ayah. Mbok Dharmi pun ikut menitikkan air mata haru dan bahagia melihat majikan nya berbahagia.
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 19:30 malam.
"Nyuwun Sewu Ndoro, makan malam sudah siap." mbok Dharmi mengingatkan untuk makan malam.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita rayakan malam ini dengan makan malam bersama." ucap Besari.
Mereka berempat pun bergegas ke ruang makan. Besari pun menikmati makan malam dengan suka cita bersama ketiga orang anaknya. belasan tahun rasa sepi yang menggerogoti jiwanya kini telah musnah dalam sekejap, berganti rasa hangat dan bahagia.