
RS Bina Sehati
"Assalamualaikum..." suara tiga pemuda memasuki bangsal perawatan VIP RS Bina Sehati.
"Wa'allaikumsallam" sahut yang ada di kamar.
"Kak Kemal" Nara berhambur dan memeluk Kemal.
"Kak Kemal gak pernah berkabar!" tanya Nara.
"Maaf ya Ra, 2 Minggu ini kk sibuk belajar, kan kemarin seminggu kk ujian akhir semester." terang Kemal.
"Gimana kak ujiannya?" tanya Nara penasaran.
"Alhamdulillah, kamu sendiri gimana ujiannya? udah ujian kan?" tanya Kemal.
"Alhamdulillah kak, Nara juga udah ujian tinggal nunggu pembagian raport. doakan ya kak supaya Nara naik kelas." ucap Nara.
"Pasti dong. semangat ya Ra." ucap Kemal.
" eh iya lupa Astaghfirullah. Papa kenalin ini kak Kemal, kak ini papa Nara." tukas Nara
"Kemal Om"
"Amin Besari" sahut papa Nara.
Kemal dan Ridho terkejut mendengarnya. sejenak mereka tertegun. Tapi tidak halnya dengan Ibra. Ibra masih mengingat jelas sosok Amin Besari. ia sudah mengenalinya sejak memasuki ruangan tersebut.
Besari pun menyadari perubahan raut wajah kedua pemuda itu.
"Om Sari" suara Ibra.
"Kamu?" tatapan Besari tertuju pada pemuda berambut keriting belah pinggir itu.
"Ibra?" tanya Besari meyakinkan hatinya.
Pemuda itupun mengangguk pelan. Refleks Besari turun dari tempat tidur dan memeluk Ibra.
__ADS_1
"Ya Allah Ibra. kamu kemana aja nak? semenjak pindah ke Belanda kamu gak pernah menghubungi Om. gimana kabar keluargamu disana?" tanya Besari.
"Alhamdulillah semua baik-baik Om." jawab Ibra seraya memeluk Besari. rasa hangat pelukan pria itu masih sama, sama seperti pelukan almarhum ayahnya. Benar, sosok Besari memang sosok penuh aura seorang ayah yang mengayomi, melindungi, hangat.
"Hmm" Kemal berdehem. Besari dan Ibra pun melepaskan pelukannya.
"Oh iyaa pa, kak Kemal ini yang jadi pendonor untuk papa " jelas Nara.
"Terimakasih ya nak. kalau gak ada kamu, entah bagaimana kondisi Om sekarang." Besari memeluk Kemal.
"Gak usah sungkan Om. Qadarullah." Kemal menepuk punggung Besari.
" Om maaf sebelumnya, ada hal yang mau kita sampaikan " Kemal seraya melepaskan pelukannya.
"Ada apa Nak?" tanya Besari menatap intens ketiga pemuda itu.
"Jujur Om, ketika saya bertemu, sampai saya mendonorkan darah,dan sampai detik tadi Nara menelpon saya di sekolah. saya belum tau siapa nama Om. Dan jujur saya pikir nama Om itu Gunawan. karna d kontak hp saya, Nara mengetik nama Naratama Gunawan di kontaknya." jelas Kemal perlahan.
"Saya baru tau nama asli Om, ketika pas mau pulang kita lihat om di berita nasional. Saya kaget kalau ternyata Om adalah Bapak Amin Besari. orang yang kita cari selama beberapa bulan ini" terang Kemal.
"Ada apa Nak? apa kalian ada tugas sekolah untuk mewawancarai Om?" pikir Besari karna biasanya pelajar atau mahasiswa kerap datang untuk mewawancarai nya sebagai tugas dari sekolah. Maklum lah, Amin Besari adalah pengusaha yang cukup sukses di Indonesia.
"Lalu apa Nak?" Besari penasaran.
"Ini soal Rindu!" sahut Ibra berat.
"Apa?? maksudnya gimana Nak??" tanya Besari.
"Kalian mengenal Rindu anakku? kalian mengetahui gimana keberadaan putri ku?" tanya Besari dengan mata berkaca-kaca.
"Rindu ada di rumah sakit ini Om" sahut Kemal.
"Astaga! wait, jangan bilang kalo kak Rindu calon pacar kak Kemal yang saat ini koma itu adalah kak Rindu anak kandung papa?" Nara menerka.
Kemal pun mengangguk kan kepala.
"Rindu Prameswari Besari" ucapnya.
__ADS_1
"Apa? Rindu? anak mas Amin ada disini! gak, gak mungkin! kalau mas Amin ketemu sama putri kandungnya bagaimana nasib Nara? gak ini gak boleh di biarkan!" gumam Lidya yang sejak tadi berada d balik pintu.
"Mari Om, kita temui Rindu" ajak Ibra.
Besari, Ibra, Kemal Ridho dan Nara pun bergegas ke lantai atas menuju ruang ICU.
Dengan dada yang bergemuruh, Besari melangkah menuju ruang ICU. Segala rasa berkecamuk di dadanya. Adacrasa bahagia suka cita karena akan bertemu dengan belahan jiwa nya, kesayangan nya. Namun ada amarah, luka, pedih yang menyayat ketika dalam perjalanan menuju ruang ICU ia mendengar cerita dari Ibra dan Kemal. bagaimana Erna memperlakukan Rindu selama ini. sungguh ia merasa telah menghancurkan putri semata wayangnya itu.
Di sisi lain, Naratama justru bersedih hati. iya bersedih mendengar bagaimana nasib yang di jalani oleh kk sambung nya itu. Dan Nara sadar semua ini adalah ulah mommy nya.
Ruang ICU
"Assalamualaikum" terdengar suara beberapa orang.
"Wa'allaikumsallam" sahut Bu Inggit.
Bu Inggit terdiam sejenak ketika melihat mereka yang datang. diantara mereka ada sosok yang tak ia kenal. namun wajahnya begitu mirip dengan Rindu.
"Bu, maaf yaa kita baru sempet kesini. soalnya selama seminggu ini kami ujian akhir semester Bu " suara Kemal memecah lamunan Bu Inggit.
"Oh iya Nak, bagaimana kabar kalian? Dan bagaimana ujiannya?" tanya Bu Inggit.
"Alhamdulillah Bu lancar. doakan agar hasilnya memuaskan dan kami naik kelas ya Bu." sahut Kemal. Dan dibalas anggukan oleh Bu Inggit.
"Bu gimana kondisi Rindu?" tanya Ibra
" masih sama Nak, belum ada perubahan." jawab Bu Inggit lemah.
"Oh iya Bu, kenalkan ini Om Amin Besari, ayah kandung Rindu." Ibra memperkenalkan pak Besari pada Bu Inggit.
"MaasyaaAllah, akhirnya. ya Allah pak ayo kita lihat Rindu pak. dia pasti sangat merindukan bapak. tolong pak, saya yakin hanya bapak yang bisa mengembalikan Rindu." Bu Inggit menangis haru.
.....................
Hai Jum'at, semoga berkah untuk kita semua. Bismillah yaa, jika tugas online anak-anak author sudah beres, kita lanjut lagi kisah Rindu...
untuk itu jangan lupa Like, Vote dan Comment nya yaa readers sayang...
__ADS_1
Happy reading
salam sayang 🥰😘