
"Hai Rin Rin." sapa anak lelaki berambut keriting yang tak lain adalah putra dari Om Wardi.
"Nama kamu siapa?" tanya Rindu kecil.
"Namaku Ibrahim Mawardi, panggil aku Ibra." jawab anak lelaki itu sambil terkekeh.
flashback off
"Hello.." pemuda itu melambaikan tangan ke wajah Rindu.
"Eh, sorry. oh iya apa kamu putra Om Wardi?" tanya Rindu yang tersadar dari lamunannya.
Belum pemuda itu menjawab, tiba-tiba ada yang datang ke UKS.
" Lho, kamu ngapain Ibra? bukannya sudah masuk jam pelajaran? ini jam pelajaran pak Haikal kan?" tanya Bu Febri yang memasuki ruangan UKS.
" Bu Febri, iyaa Bu tadi saya hanya mau menengok Rindu Bu." jawab Ibra.
"Lhoh memang kamu kenal? kamu kan baru pindah ke sekolah ini dan kamu juga kelas XI, sedangkan Rindu kelas X?" tanya Bu Febri.
"Saya kenal Rindu Bu, dan Rindu lah alasan saya pindah ke sekolah ini." jawab Ibra.
Ridho, Kemal dan juga Rindu pun terdiam mendengar kata-kata Ibra yang tak lain adalah kakak kelas mereka.
"Kalian kenal dimana?" suara Kemal memecah kesunyian di ruang UKS.
" Lhoh Mal, kenapa kamu disini juga?" tanya Bu Febri.
"Eh anu itu Bu, sebagai ketua kelas saya harus tau kondisi teman sekelas saya Bu. saya juga pasti akan ikut bertanggung jawab jika sampai ada teman sekelas saya yang kenapa-kenapa kan Bu." Kemal beralibi.
"Modus.." suara Ridho mencibir.
"Dih, kenapa? masalah buat Lo?" Kemal jengkel.
"Sudah sudah, kenapa jadi bertengkar." Bu Febri melerai dua pemuda yang sedang saling sindir.
setelah itu Bu Febri mendekati Rindu.
"Bagaimana keadaan mu nak?" tanya Bu Febri.
"Saya baik-baik saja Bu, hanya sedikit pusing." jawab Rindu.
"Astaga, ini kok sampe memar gini. keterlaluan kamu Ridho." Bu Febri terkejut melihat pelipis Rindu yang memar.
"Gak apa kok Bu, ini juga sudah mendingan. Tadi Ridho mengoleskan gel pereda nyeri Bu." terang Rindu.
"Cepat minta maaf pada Rindu." Bu Febri memberi perintah.
"RinRin, maafin gue yaa. sumpah gak sengaja. sekali lagi sorry banget." Ridho meminta maaf, terdengar penyesalan dari suara nya
" gak apa Dho, sans aja. Makasih juga karena udah nolong aku" Rindu menjawab.
"Bu, sebaiknya ibu kembali ke kelas. biar saya yang jaga Rindu" tetiba Ibra bersuara.
"Sebaiknya kamu dan kalian semua kembali ke kelas. lagi pula untuk apa kamu disini?" tanya Bu Febri.
"Saya bertanggung jawab pada diri Rindu Bu, karna Rindu adalah calon istri saya Bu." jawab Ibra
__ADS_1
sontak saja semua yang ada di ruang UKS terkejut, terlebih Rindu yang spontan membulatkan matanya.
"Maksud Lo?"tanya Kemal geram.
"Apa kurang jelas? Rindu calon istri ku. kami sudah di jodohkan sejak masih kecil oleh orang tua kami." Ibra memberi penjelasan.
tetiba seperti limbung terhantam gedung kepala Rindu, pandangan nya mulai kabur dan tiba-tiba gelap.
bugh..(Rindu jatuh dari brankar)
"Astaga, Rindu.." Kemal berteriak dan langsung berlari ke arah Rindu. ketika membalikkan tubuh Rindu, Kemal terkejut karna suhu badan Rindu sangat tinggi, wajahnya yang putih justru semakin memucat. bulir keringat bercucuran. dengan sigap Kemal mengangkat dan membaringkan tubuh Rindu lalu menyelimuti nya.
Bu Febri yang melihat kondisi Rindu langsung menyuruh Ridho mengambil kotak P3K.
"Ini Bu." Ridho menyerahkan kotak putih berisi obat-obatan kepada Bu Febri.
Setelah menerima kotak tersebut, Bu Febri lalu mengambil plester penurun panas di dalam nya.
"Sebaiknya kalian semua kembali ke kelas, biar ibu yang temani Rindu. jangan ada yang membantah." perintah Bu Febri.
Akhirnya ketiga pemuda itu kembali ke kelas masing-masing, setelah sebelumnya Kemal berlari ke kantin dan memesan teh manis hangat dan meminta tolong pada mbk Heny agar mengantarkan teh tersebut ke ruang UKS untuk Rindu.
Rumah Rindu
" Bu, Kasa minta uang ya" suara seorang anak berseragam putih merah.
"Untuk apa Sa?" jawab wanita tersebut.
"Jajan,hehehe." jawab anak lelaki tersebut sambil nyengir.
"Segini cukup kan?" kata wanita itu sambil memberi selembar uang lima puluh ribuan.
"Angkasa Besari, kamu itu baru kelas 6 SD. buat apa jajan banyak?" jawab ibu.
"Ih ibu perhitungan banget. klo gak di kasih, Kasa gak mau sekolah." ancam anak lelaki yang tak lain adalah adik Rindu, Angkasa.
"Duh nih anak,yaudah nih ibu tambahin." jawab ibu sembari memberi tiga lembar uang lima puluh ribuan.
"Nah gitu dong, itu baru ibu Erna Tomo yang paling cantik paling baik hati.makasih Bu" Kasa sumringah dan mencium pipi ibunya.
" Yaudah sana berangkat, belajar yang rajin.jangan main melulu. jangan kalah sama si Rindu." kata ibu.
"Ih ibu, jangan pernah nyuruh aku kayak Rin Rin. gak bisa lah Bu.ibu kan tau IQ Kasa aja cuma 100. Sedangkan RinRin itu kan IQ nya 130 Bu, superior. Gak bisa lah Kasa kayak RinRin." jawab Kasa kesal.
" Duh nih anak kalo dibilangin. Udah sana berangkat sekolah. Bisa meledak kepala ibu kalo gini caranya " hardik ibu .
"Muaach, dadah ibu" Kasa pun keluar dari rumah menuju sekolah.
*hmm, kenapa sih anak pembawa sial itu harus selalu unggul dari Angkasa. Sungguh menyesal aku melahirkan anak itu. Andai dia tidak ada di dunia ini,atau setidaknya andai saja yang lahir lebih dulu itu Angkasa, gak akan mungkin mas Besari mengkhianati ku dengan wanita lain.
Sudah belasan tahun, tapi hatiku masih sangat sakit. Kenapa mas Sar, kenapa kamu tega khianati aku. Kalau tau kamu cuma akan khianati aku, lebih baik dulu aku menikah dengan Mawardi.Pasti dia tidak akan mengkhianati aku.
Mawardi, seandainya saja aku bisa memutar waktu. Aku akan menerima lamaran mu dulu. sungguh aku menyesal Mawardi. Setelah kesetiaan ku dan cinta ku yang tulus, Besari justru mengkhianati aku.
flashback 18 November 1994
tok..tok..tok..(seseorang mengetuk pintu rumah*)
__ADS_1
"Maaf anda siapa ya?" tanya wanita yang membuka pintu.
"Maaf permisi, Saya cari mas Amin." tanya seorang wanita yang menggandeng anak lelaki.
"Cari siapa?" tanya wanita dari dalam rumah.
"Mas Amin, Amin Besari. ini rumahnya kan? jalan Dermaga raya no 91?" ucap wanita itu lagi.
"Oh mas Sari, kebetulan masih di kantor. Maaf anda siapa? ada perlu apa? apa ada pesan?" tanya wanita dari dalam rumah yang tak lain adalah Erna Tomo, istri Amin Besari.
"Hmm, boleh saya tunggu saja?" jawab wanita itu.
" Mari silahkan masuk." Erna mempersilahkan wanita itu masuk.
"Sebentar saya buatkan minum." Erna pun meninggalkan tamu nya menuju dapur.
hmm, kamu memang lelaki baik mas.Family man. Kalian keluarga yang sempurna. Maaf mas, bukan aku tidak tau diri. Tapi aku mau kmu seutuhnya menjadi milikku. Aku gak mau Nara kekurangan kasih sayang seorang bapak, meskipun kamu bukan ayah kandungnya.
"Mari silahkan di minum." Erna mempersilahkan.
"Terimakasih."Jawab si tamu sambil menyeruput teh hangat yang di suguhkan Erna.
oak..oak..oak...
"Saya tinggal sebentar ya, anak saya bangun." Erna kemudian ke kamar, tak berapa lama dia keluar sambil menggendong seorang bayi lelaki tampan nan gembul.
"Usia berapa anaknya mbk Er?" tanya wanita itu.
"6 bulan mbk.Eh mbk tau nama saya? apa kita saling kenal?" tanya Erna penasaran.
"Saya tau mbk Erna, dari suami kita."jawab wanita itu.
deg.. tetiba pandangan Erna seolah gelap.
"Maksud mbk nya gimana ya? mbk ini siapa? dan apa maksud kata-kata mbk nya barusan?" tanya Erna.
"Perkenalkan, nama saya Lidya Maulida. Saya istri mas Amin Besari. Dan ini putra saya, Naratama Gunawan." jawab wanita itu mengulurkan tangannya tanpa d sambut oleh Erna, lalu kemudian ia memperkenalkan seorang anak lelaki yang yang usianya sekitar hampir dua tahun.
"Apa maksudmu? Apa tujuan mu datang kemari? Jangan macam-macam kamu!" Erna berteriak.
"Suami kita apa tidak bercerita? Hmm, padahal ia sudah berjanji akan berterus terang pada mu mbk Erna." jelas Lidya.
tiba-tiba, Rindu kecil muncul di ruang tamu karna mendengar suara tangis adiknya yang baru berusia 6 bulan.
"Hai anak manis, pasti kamu RinRin yaa? Rinjani kan?" sapa Lidya pada Rindu kecil.
"Tante siapa ? Namaku Rindu, bukan Rinjani."jawab Rindu kecil.
"Ahahaha, iyaa maksud Tante Rindu. maaf yaa... Duh kamu padahal cantik sekali yaa.. sayang papa gak menginginkan kamu."ucap Lidya.
"Maksudnya gimana Bu? emang Tante ini siapa? Trus ibu kenapa diam aja, ini dedek Kasa nangis kejer Bu." tanya Rindu kecil pada ibu nya.
"Jangan panggil tante, panggil mommy yaa.Emang papa kamu gak cerita? kamu juga punya adik laki-laki, ini namanya Nara." Lidya justru terus saja berbicara.
Mendengar kata-kata Lidya, Erna seolah tersadar dari mantra hipnotis dan merespon ucapan Lidya.
"Apa maksudmu mas Besari tidak menginginkan Rindu?" tanya Erna.
__ADS_1
"Mbk Er, mas Amin itu sangat menginginkan memiliki anak lelaki. Dia sangat sedih ketika harus memiliki anak pertama seorang anak perempuan. Dan meskipun akhirnya kamu berhasil memberi mas Amin anak lelaki, tapi aku yang telah lebih dulu memberi keturunan laki-laki. Jadi maaf saja yaa Rin, kamu tidak akan pernah mendapat cinta dari papamu." Jawab Lidya kemudian menunjuk pada Rindu kecil.
flashback off