Namaku Rindu

Namaku Rindu
Mencari Ayah Rindu


__ADS_3

"Assalamualaikum" masih tak ada jawaban. Tetiba Kemal terkejut ketika ada yang menepuk pundak nya dari belakang.


"Cari siapa Nak?" tanya seorang ibu.


" Eh saya temannya Rindu Bu. maaf kok rumah nya sepi ya?" tanya Kemal pada ibu tetangga Rindu.


" Kalo Bu Erna kerja, belum pulang. Anaknya yg kecil kan sekolah. Kalo neng Rindu kemarin di usir kan" si ibu tetangga lalu menutup mulutnya, sepertinya ia kaget dengan ucapannya yang keceplosan.


"Apa Bu? d usir? " tanya Kemal tak percaya.


"Sstt, jangan berisik" si ibu menunjuk bibirnya dengan telunjuk.


" maksud ibu gimana, saya gak ngerti." Kemal bingung.


" Neng Rindu sebenarnya kasian. selama ini hampir tiap hari di marahin, di caci, di pukul sama ibunya. nah tapi yang parahnya kemarin sore. si neng di usir sama ibunya." terang ibu tetangga itu.


"y Allah, terus sekarang Rindu dimana Bu?" tanya Kemal panik


" Rindu di bawa pulang sama Bu RT sini. tapi semalam ibu denger dari bapak nya anak-anak kalo neng Rindu di bawa ke RS" jawab ibu itu lagi


" RS?" Kemal tak percaya.


" ia, semalam pas pulang shalat Isya, ada pemuda nyamperin pak RT di Masjid. trus bilang kalo neng Rindu pingsan. Di bawa lah ke RS Bina Sehati. soalnya suami ibu yang telpon ambulance nya." cerita ibu itu.


"Baik kalo gtu, terimakasih ya Bu." Kemal pun berpamitan.


Tadinya Kemal akan langsung ke RS, namun karena ada tugas sekolah ia pulang dulu.


ketika sudah selesai tugas sekolah, Kemal pun bergegas menuju ke RS Bina Sehati.


flashback off.


" jadi gimana kondisi Rindu Bu?" tanya Kemal pada Bu Inggit.


" Rindu masih koma nak, ibu sangat terpukul. Kasian sekali dia. Anak yang sangat baik hati, yang memiliki hati bersih ini harus memiliki luka batin" Bu Inggit meneteskan air mata.


"Maksud ibu?" tanya Kemal penasaran.


" Dokter mengatakan, bahwa koma nya Rindu akibat luka batin nak. memang ada luka memar di kepalanya, namun itu bukanlah pemicu dari kondisi nya saat ini." Bu Inggit menatap sendu pada wajah gadis yang tengah tak sadarkan diri itu.


"Lalu kapan Rindu akan sadar Bu?"


" entahlah nak, hanya Tuhan yang tahu. karena kata dokter kita hanya dapat menunggu mukjizat Nya. malang benar gadis ini." Bu Inggit tak kuasa menahan air matanya.

__ADS_1


Tak berapa lama, pak Budi kembali ke kamar perawatan Rindu dengan membawa kantong plastik berisi makanan.


" sudah Pak shalatnya?" tanya Bu Inggit.


"Sudah Bu. maaf bapak lama, tadi selepas shalat, bapak sekalian cari makan dulu buat ibu. Ibu kan seharian ini belum makan." terang pak Budi.


" Bapak saja makan duluan, ibu gak lapar." Bu Inggit menolak.


"Ayolah Bu, jangan seperti ini. kalo nanti ibu ikutan sakit gimana? kasian Rindu nanti." bujuk pak Budi.


" yowis nanti ibu makan setelah shalat." Bu Inggit menjawab malas.


" Yowis shalat dulu sana. biar bapak yang jaga Rindu. oh iya ini siapa?" tanya pak Budi.


"Astaghfirullah, maaf ya nak. ibu sampe lupa." Bu Inggit tersadar telah mengabaikan tamu nya.


" Ini nak Kemal pak. teman sekolah Rindu.Nak kemal, ini Pak Budi, suami ibu." Bu Inggit memperkenalkan Kemal kepada pak Budi, lalu sebaliknya.


" Kemal pak" salam Kemal sambil menyalami tangan pak Budi.


" oh iya nak, baru sampe tah?" tanya pak Budi.


" baru pak." sahut Kemal.


"Yowis nak Kemal sama bapak dulu ya, ibu tinggal ke mushala dulu."


setelah Bu Inggit meninggalkan ruangan, pak Budi mengajak Kemal duduk di sofa panjang, lalu mereka berbincang sejenak.


"Saya gak nyangka, kenapa Tante Erna setega itu ya sm Rindu. kurang apa Rindu sebagai anak." Kemal tak habis pikir akan cerita pak Budi.


" Entahlah nak, andaikata Rindu berkenan, biar kami yang akan mengadopsi nya. sayangnya ia menolak.ia sangat sayang pada ibu nya." pak Budi menerawang.


"Jadi sebaiknya apa yang harus kita lakukan pak, jika Tante Erna gak mau menemui Rindu. apa Rindu gak akan sadar? " Kemal cemas.


" Aku tau siapa yang bisa menyadarkan Rindu" suara seseorang mengejutkan Pak Budi dan Kemal.


" Kamu!" Kemal terkejut.


" Siapa dia nak?" tanya pak Budi pada Kemal.


" Saya Ibrahim Mawardi pak. calon suami Rindu." Ibra mantap memperkenalkan diri pada pak Budi.


"Maksudnya?" pak Budi bingung.

__ADS_1


" Haish jangan mulailah!" Kemal kesal


" Saya ini sudah di jodohkan dengan rindu sejak kami kanak-kanak oleh kedua ayah kami pak." terang Ibra.


" hadeuh kepedean, kayak Rindu mau aja" celetuk Kemal.


Ibra pun menceritakan tentang perjodohan nya dan Rindu pada pak Budi.


" Jadi nak Ibra ini tau keberadaan ayah Rindu.?" tanya pak Budi sumringah.


" Masalahnya saya pun kehilangan jejak Om Besari pak " Ibra tertunduk lesu.


" Hadeuh" Kemal menimpali.


" Bapak rasa, jika menelisik dari cerita nak Ibra, hanya ayah nya lah yang saat ini Rindu harapkan. Hanya beliau yang mampu membangunkan putrinya dari koma " pak Budi berargumentasi.


" kalo begitu, ayo kita cari keberadaan ayah kandung Rindu." Bu Inggit menyahut.


rupanya sudah sejak tadi wanita berparas ayu ini telah kembali dari mushala, namun ia mencuri dengar dari balik dinding dalam kamar perawatan Rindu.


" saya janji, saya akan berusaha untuk mencari keberadaan om Besari." Ibra mantap.


" aku juga akan bantu menemukan ayah Rindu." Kemal bersemangat.


" aku juga!" seru seseorang dari depan pintu.


" kamu!" seru Kemal dan Ibra bersamaan.


" siapa lagi ini?" Bu Inggit terkejut.


" saya Ridho Bu, temen satu sekolah Rindu." Ridho nyengir kuda. lalu ia menyalami Bu Inggit dan pak Budi.


" sejak kapan Lo disini?" tanya Kemal.


" dari tadi pas liat ibu Inggit masuk ruangan. hehehe." Ridho menggaruk kepala tak gatal


" Terimakasih ya anak-anak. " tetiba Bu Inggit menangis.


" Ibu kenapa?" tanya 3 pemuda itu berbarengan.


" Ibu terharu karena ternyata banyak yang menyayangi Rindu. ibu bahagia nak. meskipun Rindu bukan darah daging ibu, tapi ibu turut bahagia jika banyak orang yang mengasihi nya. karena Rindu ini gadi baik, gadis bersih hati. andai saja Rindu adalah darah daging ibu, ibu akan sangat mencintai dan mengasihi nya." Bu Inggit tak dapat menahan air bening yang menggelantung di kelopak matanya


Tiga pemuda itupun memeluk Bu Inggit,memberi kekuatan. Mereka pun terharu karena melihat betapa tulusnya Bu Inggit pada gadis yang diam-diam mereka sukai, ya gadis yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Rindu Besari.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada hati yang terluka di luar pintu kamar ini. hati yang penuh penyesalan, hati yang dilema antara dendam dan cintanya.Tak terasa wajah wanita itu telah basah oleh air mata.


"cemplon, maafkan ibu Nduk" bisiknya lirih.


__ADS_2