Namaku Rindu

Namaku Rindu
Nara siuman


__ADS_3

Nara perlahan membuka matanya. netranya menyesuaikan dengan cahaya ruangan yang terasa menyilaukan. Nampak seseorang tertunduk di sisi kiri ranjang nya. lalu ia kembali memandangi sekeliling. Meringis menahan rasa nyeri di bagian punggungnya.


Rindu yang merasakan pergerakan dari tangannya pun terbangun.


"Ra... Nara... kamu sudah sadar Ra?" tanya Rindu ketika melihat Nara sudah membuka matanya.


"kak, Nara dimana?" tanya Nara dengan suara parau


"Di rumah sakit Ra. Nara gak inget sesuatu?" ucap Rindu.


Nara pun berusaha mengingat kejadian terakhir yang ia alami. Ya dia mengingatnya. ia mengingat bagaimana ibunya berusaha melenyapkan nyawa kakak sambungnya itu. Dan yang ia ingat ketika mereka hendak lari tiba-tiba ada sesuatu seperti menembus punggungnya.


"Kakak gak terluka kan? mommy gak ngapa-ngapain kakak kan?" tanya Nara cemas.


"Ishh kakak baik-baik aja kok. justru kamu yang tidak baik-baik saja. Apa masih terasa sakit?" tanya Rindu cemas.


" sedikit kak, kakak tenang aja. Nara kan jagoan. sebentar lagi juga sembuh." ucap Nara meyakinkan Rindu agar tak mengkhawatirkan dirinya.


"Makasih ya Ra, kamu udah baik banget sama aku."Ucap Rindu lirih


"Apa sih kak. kakak itu kakak aku, masa aku harus jahat sama kakak." ucap Nara tulus


"Ya Allah Nara." ucap Rindu menitikan air mata


tap.. tap.. tap..


"sudah siuman rupanya jagoan pak Besari. bagaimana kondisi mu saat ini? apa yang kamu rasakan nak?" tanya Dokter Sonya yang memasuki ruangan tersebut.


"Merasa jauh lebih baik Dok" ucap Nara memperbaiki posisi duduknya di bantu Rindu. Dokter Sonya pun mengecek kondisi serta jahitan di luka Nara.

__ADS_1


"Great... semua baik-baik aja. lukanya juga bagus, tidak ada infeksi. Bersyukur ada dia yang mendonorkan darah untuk mu nak" ucap Dokter Sonya seraya menunjuk ke arah pemudah berambut keriting yang terlelap di sofa ruangan tersebut.


"Sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu ya supaya lukanya sembuh sempurna. Makan yang lahap supaya cepat sembuh oke " ucap dokter Sonya.


"Siap Dok" sahut Nara seraya menaruh hormat di dahi nya


"Baik kalau gtu saya permisi dulu. Mari" Dokter Sonya berlalu meninggalkan kakak dan adik tersebut.


"Kak Ibra mendonorkan darah untuk Nara kak?" tanya Nara pada Rindu.


"Ia Ra... waktu itu kakak mau mendonorkan darah untuk mu, namun golongan darah kakak dan kak Kemal itu O sedangkan golongan darah Nara AB. dan entah mengapa stok darah tersebut sedang kosong di rumah sakit. beruntung ada kak Ibra yang berkenan mendonorkan darah untuk mu." tukas Rindu.


"Makasih banyak ya kak" Nara memeluk Rindu dan menangis


"Hei, terimakasih nya sama kak Ibra. bukan sama kakak" ucap Rindu melepaskan pelukan adiknya.


"Qadarullah Ra. semua yang terjadi di muka bumi ini sudah atas ketetapanNya. kakak dan kak Ibra mungkin hanya sebagai perantara. semua sudah atas skenario Nya " jelas Rindu mengusap kepala Nara dengan penuh kasih sayang. Dua belas tahun ini, baru kali ini ia merasakan kehangatan memiliki seorang adik. yang tidak pernah ia rasakan bersama adik kandungnya sendiri, Angkasa.


"Kak, kakak mau kan jadi kakak Nara. kakak mau kan anggap Nara sebagai adik kak Rindu sendiri?" tanya Nara dengan tatapan penuh harap. Rindu pun terkejut mendengar kata-kata Nara. hatinya merasa ada kehangatan yang menyeruak.


"Of course boy" seraya memeluk Nara.


"Ishh kakak kok manggilnya kayak papa sih. papa juga kalo manggil Nara gtu"ucap Nara sembari tersenyum


"Satu frekuensi Ra" ucap Rindu terkekeh


"Sudah sadar Ra?" tiba-tiba terdengar suara berat khas bangun tidur.


"Udah bangun kak Ibra" tanya Rindu di jawab anggukan oleh Ibra. Ibra pun bangkit menghampiri Rindu dan Nara

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu Ra?" tanya Ibra


"Alhamdulillah kak, kata dokter great" jawab Nara nyengir


"Kak Ibra, makasih banyak ya. sudah mau mendonorkan darah untuk Nara. kalau gak ada kak Ibra entah gimana Nara sekarang" ucap Nara bergetar.


"Gak perlu sungkan Ra. ini namanya takdir. semua sudah di atur oleh Gusti Allah. yang penting kamu sekarang sudah baik-baik saja yaa. semangat supaya cepat sembuh" Ibra menyemangati Nara.


tap...tap...tap...


"Assalamualaikum...."....


"Wa'allaikumsallam..." jawab ketiga muda-mudi tersebut.


"Ayah..." Rindu sumringah lalu berhambur memeluk erat sang Ayah.


"Gimana keadaan kamu Nduk?" tanya Besari mengecup puncak kepala putrinya.


"Alhamdulillah baik-baik yah..." jawab Rindu masih bersandar di dada sang ayah.


"Hei boy. gimana keadaan mu nak?" tanya Besari pada Nara.


"Great pa kata dokter" jawab Nara terkekeh membuat seisi ruangan tertawa .


"Eh sebentar-sebentar. ini kok ayah, pak Budi dan Bu Inggit juga kamu Mal, Dho, kok pada pakai hitam-hitam sih? kayak mau ke pemakaman aja" Rindu berseloroh. Hal itu membuat seisi ruangan mendadak senyap.


"Yah, kok ayah diem aja. ada apa?" tanya Rindu.


"Nduk, kamu yang sabar ya...." ucap Besari dengan suara berat yang tertahan.

__ADS_1


__ADS_2