
“Stella, kau benar-benar pulang, Nak?” tanya Dini, masih tak menyangka jika putri yang tadi tengah mereka bicarakan tiba-tiba saja muncul di depan matanya.
Stella terkekeh. “Mama, Papa, aku tidak bisa bernapas kalau kalian memelukku seerat ini,” cicit Stella.
Anton dan Dini saling lirik, lalu melepaskan pelukan mereka kepada Stella, membuat Stella kini dapat bernapas lega.
“Ayo, duduklah, Sayang. Kita makan malam bersama. Tadi kau bilang kalau kau merindukan ayam goreng tepung buatan Mama, bukan?”
Stella memberikan anggukan atas pertanyaan Dini.
Mereka bertiga pun duduk di kursi meja makan.
“Kami pikir kau tidak akan pulang karena kau berkata jika kau akan melamar pekerjaan di ibukota setelah kau lulus, Stella,” ucap Anton, seiring dengan Dini yang tengah mengambilkan makanan untuk Stella.
Stella memang pernah bercerita kalau dia akan melamar pekerjaan di tempat Garry bekerja setelah lulus. Maka dari itu kepulangannya di kota asalnya membuat orang tua Stella terkejut. Di sisi lain, Dini juga jadi semakin takut kalau kekhawatirannya benar jika Stella sedang tidak baik-baik saja.
Stella menghela napas panjang. “Aku berubah pikiran, Pa,” balasnya.
“Berubah pikiran? Tidak biasanya putri Papa yang sangat berteguh pada pendirian ini berubah pikiran. Apakah ada masalah di sana, Stella?”
Stella menggeleng, tak mungkin dia membicarakan tentang masalahnya dengan Garry kepada orang tuanya. Stella tak mau membuat mereka khawatir.
__ADS_1
“Tidak, Pa. Aku hanya merasa kalau aku ingin menganggur dulu sementara waktu supaya aku bisa menghabiskan uang Papa dan Mama,” gurau Stella, membuat Anton dan Dini tertawa renyah.
Orang tua Stella adalah pemilik perkebunan teh terbesar di kota kelahirannya. Tak ayal jika Stella berkata demikian untuk menghibur diri. Meskipun berasal dari keluarga yang tersohor karena kesuksesan perkebunan teh mereka, orang tua Stella terkenal ramah dan dermawan, membuat orang-orang menyukai keluarga Stella.
“Tentu saja kau boleh menghabiskan uang Mama dan Papa, Sayang,” balas Dini. “Tapi, benar, ‘kan, kalau kau sedang tidak kenapa-kenapa?”
Stella meraih tangan ibunya sambil tersenyum hangat. Hatinya trenyuh mendengar pertanyaan sang ibu. Memang betul kata orang kalau seorang ibu pasti memiliki firasat yang kuat mengenai kondisi anak-anaknya. Tapi, Stella tak mau membuat orang tuanya khawatir, jadi untuk sementara waktu dia akan merahasiakan tentang apa yang terjadi dengannya dari mereka.
“Aku tidak kenapa-kenapa, Ma. Aku pulang ke sini sebetulnya karena aku merindukan kalian. Sudah lama sekali aku tidak pulang ke sini,” ucap Stella.
“Kami juga merindukanmu, Stella. Kami senang kau memilih untuk pulang dulu sebelum melamar pekerjaan,” jelas Dini sambil mengusap-usap punggung tangan Stella.
“Sudah-sudah, lebih baik kita makan malam sekarang. Stella juga pasti butuh istirahat setelah melakukan perjalanan,” usul Anton yang langsung disetujui oleh Dini dan Stella.
*****
Di kota lain ....
Garry menggerutu sebab sepulang kerja dia berencana untuk menemui Stella di kosan wanita itu tapi macet menghalanginya. Sudah satu jam lamanya dia terjebak macet padahal dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya.
“Sial! Kenapa macetnya panjang sekali?” ucap Garry sambil menekan klakson mobilnya.
__ADS_1
Garry melirik jam tangannya. Sekarang sudah hampir pukul tujuh malam, tapi mobilnya tak bisa bergerak juga. Ia pun lantas menyandarkan tubuhnya di sandaran jok sambil memijat pelipisnya.
Setelah tadi ia menelepon Stella, sampai sekarang masih belum ada juga kabar dari Stella. Garry semakin yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tidak biasanya Stella bersikap seperti ini mengingat Stella bukanlah tipe wanita yang dingin dan cuek.
“Ck! Kalau macetnya tidak selesai-selesai, bisa-bisa aku kemalaman,” gerutunya. “Lagi pula apa yang sebenarnya terjadi dengan Stella? Kenapa aku merasa jika dia mengabaikan ku?”
Setelah hampir dua jam bergumul di tengah kemacetan, akhirnya Garry pun tiba di kosan Stella. Pria itu langsung saja berjalan cepat keluar dari mobilnya menuju kamar Stella dan mengetuk pintu kamar kos Stella.
“Stella, buka pintunya. Ini aku, Garry!” seru Garry sambil mengetuk-ngetuk pintu tersebut.
Nihil. Tidak ada jawaban dari dalam sana. Garry tak lantas menyerah, dia pun kembali mengetuk-ngetuk pintu tersebut sambil memanggil nama Stella.
Sepertinya kedatangan Garry mengundang perhatian seseorang. Ibu kos Stella pun menghampiri pria itu.
“Maaf, apakah kau mencari Stella?” tanya ibu kos.
Garry menoleh, lantas balik bertanya, “Iya, Bu. Apakah Stella sedang keluar?”
“Stella tadi pamit untuk pulang kampung. Sore tadi dia berangkat ke bandara,” jawab ibu kos.
“Pulang kampung?”
__ADS_1
“Iya.”
Garry tak bisa percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Ia merasa kecewa dengan sikap Stella yang sekarang. Biasanya, Stella tak pernah melakukan sesuatu tanpa izin darinya. Tapi sekarang? Stella bahkan tak berdiskusi dulu dengannya saat ingin membuat keputusan.