
Stella menarik napas dalam-dalam sebelum dia akhirnya melangkahkan kaki keluar dari bandara. Langkahnya terasa begitu berat, napasnya pun tercekat. Selama perjalanan dari kota menuju pulau tujuannya, Stella menahan air matanya supaya tidak luruh. Wanita itu berusaha keras untuk memperkuat diri supaya tidak ada seorang pun yang tahu jika saat ini dia sedang bersedih.
Wanita itu mengambil kacamata hitam dari tasnya, kemudian mengenakannya. Dia sengaja memakai kacamata untuk menutupi matanya yang memerah akibat menahan tangis. Bahkan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya sejak tadi.
Di sisi lain, Davin yang tadi berada di pesawat yang sama dengan Stella berjalan sedikit menjaga jarak dari Stella. Ingin sekali dia menghampiri Stella dan menenangkan Stella. Namun, sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat. Maka dari itu, Davin memilih untuk diam sambil berjalan mengekori Stella.
Keluar dari bandara, Stella masuk ke salah satu taksi yang akan membawanya ke penginapan.
“Selamat tinggal, Garry,” gumam Stella sambil menatap ke luar jendela.
Di tempat ini, dia akan menenangkan diri. Berharap saat dia kembali, dia sudah menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Stella berjanji pada dirinya sendiri jika setelah ini, Stella yang selalu menerima apa pun perlakuan Garry akan hilang, digantikan oleh sosok kuat yang tak akan membiarkan pria mana pun menginjak-injak harga dirinya.
Mobil yang ditumpangi Stella akhirnya tiba di dekat penginapan yang berada tak jauh dari pantai. Stella menarik napasnya dalam-dalam, mengisi rongga paru-parunya dengan udara segar pulau tersebut. Wanita itu tersenyum dalam hati. Sepertinya, keputusan untuk datang ke pulau ini untuk menenangkan diri adalah keputusan yang tepat. Pulau ini bukanlah pulau yang ramai dengan turis atau pun pelancong. Sehingga sangat tepat untuk dijadikan tempat menenangkan diri.
Usai meletakkan barang-barangnya di penginapan, Stella berjalan-jalan di tepi pantai. Wanita tersebut berdiri sambil menatap hamparan laut yang terbentang luas di hadapannya. Suara riak gelombang yang bertabrakan dengan batu karang terdengar seiring ombak menyapu telapak kakinya.
Air mata yang sejak tadi terbendung di pelupuk matanya akhirnya luruh. Di sana, Stella menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala kesedihan yang memenuhi hatinya.
__ADS_1
“Ini semua tidak adil. Kenapa orang-orang yang aku sayangi justru mengkhianatiku?” tanya Stella pada angin yang menerbangkan helai rambutnya.
Isak tangisnya terdengar pilu. Kali ini, Stella tak menahan segala kesedihan yang dia rasakan lagi. Kini, dia memilih untuk menunjukkan apa yang dia rasakan. Berharap jika setelah ini, kesedihan tak akan menghinggapinya lagi.
“Apa salahku dan kenapa kalian tega melakukan ini kepadaku?” Lagi-lagi Stella bertanya, berpikir jika deburan ombak akan memberinya jawaban yang dia dambakan.
“Kau tidak salah sama sekali, Stella.”
Ucapan itu membuat Stella sontak menoleh. Matanya membulat saat melihat Davin sudah berdiri di sampingnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha untuk memastikan apakah yang berdiri di sampingnya benar Davin atau bukan.
“Kenapa Anda ada di sini, Pak?” tanya Stella bingung.
“Aku tidak bisa bekerja tanpa sekretarisku,” balas Davin asal.
“Jangan mengada-ngada. Anda punya sekretaris sementara yang akan menggantikanku.” Stella menyipit tajam. “Apakah Anda mengikutiku?”
“Tidak usah terlalu kaku, kita tidak sedang di kantor,” balas Davin.
__ADS_1
“Apakah kau mengikutiku?” selidik Stella. Tak segera mendapatkan jawaban, Stella kembali menghela napas. “Lupakan saja. Aku sedang tak punya energi untuk berdebat denganmu.”
“Kau tahu, Stella. Jika seseorang menyakitimu bukan berarti ada sesuatu yang kurang darimu atau karena kau berbuat salah. Tapi, karena itu adalah kemauan mereka. Jangan salahkan dirimu karena kesalahan yang dilakukan oleh orang lain,” ucap Davin, dengan bijak menasihati Stella.
Mendengar itu, Stella hanya diam. Tapi, perlahan air matanya kembali jatuh. Hatinya begitu terluka hingga dia tidak tahu harus beraksi seperti apa selain menangis dan meluapkan kesedihannya.
“Aku hanya tidak mengerti kenapa mereka sangat tega melakukan ini padaku,” ucap Stella.
Davin hanya diam. Dia tahu, saat ini, Stella tidak membutuhkan seseorang untuk menceramahinya mengenai apa yang terjadi. Yang dia butuhkan adalah seseorang yang mau menjadi pendengar ceritanya.
“Selama ini, aku percaya kepada Garry dan Feby. Aku pikir, mereka hanya berteman biasa. Aku tidak tahu jika malam itu ... Malam itu ....”
Stella kembali menangis. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena duri seakan menusuk tenggorokannya setiap kali dia ingin membicarakan malam di mana dia memergoki perselingkuhan Garry dan Feby.
“Aku masih tidak menyangka jika malam itu aku akan memergoki mereka berdua sedang bercinta,” keluh Stella disusul tangisan tersedu-sedu. “Aku tidak tahu apa alasannya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan mereka melakukan itu semua. Hatiku hancur. Rasanya sangat sakit sekali.”
Davin mengusap-usap punggung Stella.
__ADS_1
“Hei, tenanglah. Setidaknya kau sudah tahu semuanya sebelum terlambat,” ucap Davin dengan nada lembut.