Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Candu Bagi Davin


__ADS_3

Bibir pria itu bergerak lembut pada bibir Stella, menyalurkan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh wanita itu. Dari jarak sedekat ini, Stella bisa mencium aroma musk yang memabukkan dari Davin. Wanita itu memejamkan matanya, membiarkan Davin mengecup tiap inci bibirnya. Setiap kecupan Davin membuat tubuh Stella seolah melayang, hingga jiwanya menyentuh langit ke tujuh.


Stella tak diam saja. Bibirnya ikut bergerak mengimbangi ritme gerakan bibir Davin. Stella tak pernah berciuman seintens ini dengan pria mana pun. Bahkan, ciuman yang pernah ia lakukan dengan mantan kekasihnya hanyalah sebuah kecupan kecil.


Ada yang berbeda dengan dirinya saat dia sedang bersama dengan Davin, Stella menyadari itu. Ciuman Davin bukanlah ciuman penuh hasrat dan nafsu yang menuntut, melainkan sebuah ciuman penyalur gejolak yang membara di hatinya.


Jantung Davin berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Euforia memenuhi relung hatinya tatkala ia menyadari jika Stella mungkin memiliki perasaan yang sama dengannya. Pria itu tersenyum dalam hati. Sebentar lagi, seluruh dunianya akan berubah. Sebentar lagi, Davin akan berhasil memenangkan hati tambatan cintanya.


Ciuman itu terus berlanjut. Hingga tanpa sadar detik telah berubah menjadi menit. Bibir mereka saling memagut, seolah tak ingin melepaskan satu sama lain.


Mereka baru melepaskan ciuman itu ketika mereka mulai kehabisan napas. Dengan deru napas yang tidak beraturan, Davin melepaskan ciuman mereka. Pria itu menyandarkan dahinya di dahi Stella.


Aroma vanila pada wanita itu membuat candu bagi Davin. Ah, sial, bahkan bibir Stella rasanya seperti vanila. Bagaimana bisa Davin melanjutkan hidupnya tanpa ciuman dari Stella sekarang?

__ADS_1


Stella menjauhkan tubuhnya dari Davin. Dia mengalihkan pandangan dari Davin dengan pipi yang merona. Wanita itu salah tingkah, menyadari jika hubungannya dengan Davin tidak akan sama lagi setelah ciuman yang mereka lakukan.


Sementara Davin hanya bisa tersenyum saat melihat Stella salah tingkah di hadapannya. Pria itu jadi mengingat apa yang tadi mereka bicarakan. ‘Apakah tadi Stella benar-benar cemburu?’ tanya Davin dalam hati.


“Cassandra datang untuk meminta maaf dan ingin berteman denganku,” jelas Davin tanpa Stella memintanya. Dia merasa jika dia harus menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi supaya Stella tidak salah paham dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Cassandra.


Mendengar itu, Stella sontak menoleh. Kerutan samar tampak terlukis di dahinya. “Berteman?” tanyanya bingung.


Stella tak pernah tahu jika sepasang mantan kekasih bisa berteman kembali. Kebanyakan dari teman-temannya yang kembali berteman dengan mantan pacar mereka pasti akan kembali berpacaran. Entah kenapa Stella tak suka gagasan Davin dan Cassandra akan berteman kembali.


“Kau mengatakan hal itu pada Cassandra?” tanya Stella.


“Ya, tentu saja. Kau benar-benar cemburu, ya?” balas Davin.

__ADS_1


Mendengar itu, pipi Stella semakin merona. Kini, wajah wanita itu bahkan tampak seperti kepiting rebus. Salah tingkah, Stella pun melepaskan genggaman tangan Davin lalu mundur beberapa langkah.


“Stella, kau tadi cemburu, ‘kan?” desak Davin sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda Stella.


“U-untuk apa aku cemburu?” balas Stella tergagap, berusaha menyembunyikan kegugupannya.


“Ayolah, jujur saja padaku,” goda Davin lagi.


Stella berdecap. “Maaf, Pak. Aku harus kembali ke ruanganku untuk mengerjakan laporan. Jika Anda membutuhkanku, Anda bisa menemuiku si ruang kerjaku,” ucap Stella cepat kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Davin.


Davin terkekeh geli menyaksikan itu semua. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kau masih saja malu mengakui perasaanmu, Stella?” gumamnya.


Sementara Stella yang sudah berada di ruang kerjanya menepuk-nepuk pipinya. Wanita itu merutuki kebodohannya yang dengan mudahnya terhanyut dalam ciuman Davin.

__ADS_1


“Bodoh! Kenapa tadi aku membalas ciuman Davin?”


Stella duduk di kursinya, lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja. “Mau ditaruh mana mukaku kalau aku bertemu dengan Davin lagi?” rutuknya kesal.


__ADS_2