Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Menolak Feby Sebagai Menantu


__ADS_3

Beberapa menit telah berlalu dan selama itu juga Stella terus mengeluarkan isi hatinya yang merasa tersakiti oleh Garry dan Feby–sahabatnya.


"Jika saja Feby berkata jujur padaku jika dia menyukai Garry, aku pasti tidak akan menjalin hubungan dengan Garry. Bahkan dulu dia sendiri yang sangat mendukung hubunganku dan Garry. Aku benar-benar tidak menyangka jika pada akhirnya dia juga lah yang menjadi orang ketiga dalam hubunganku dan Garry. Mereka begitu pandai bersandiwara di depanku hingga aku sama sekali tidak menyadari hal itu, jika aku tidak melihat langsung pengkhianatan yang telah mereka lakukan." Ucapan yang sama juga berulang kali Stella katakan.


"Sekarang semua sudah berakhir. Meski aku sadar caraku mungkin saja salah, tetapi aku juga merasa lega saat aku berhasil membalas mereka. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan menjadi wanita yang lemah seperti Stella sebelumnya. Aku akan menjadi Stella yang kuat. Aku tidak akan lagi bodoh karena cinta," ucapnya perlahan menghentikan tangisnya.


Stella mengambil nafas dalam lalu mengembuskan nya sebelum akhirnya menoleh pada Davin yang saat ini duduk di sampingnya.


"Seperti inilah wanita yang pernah aku temui dulu. Wanita yang tanpa sengaja aku jadikan pionku!" Davin terkekeh mengatakannya, sengaja berusaha mencairkan suasana.


"Jawab jujur! Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Stella lagi dengan penuh selidik menatap Davin.


"Aku mengikutimu karena aku tidak ingin kau sendirian di tempat sepi seperti ini. Lagipula aku juga butuh liburan dan setelah tahu tujuanmu, aku pikir ada baiknya aku ikut denganmu," jawab Davin tersenyum mengatakannya.


"Kau tahu semuanya?" tanya Stella lagi.


Pria itu kembali menatap ke depan, menatap lautan lepas sambil menganggukkan kepalanya. "Aku tahu semuanya," ucapnya.


"Bagaimana bisa?" Stella terus saja bertanya.

__ADS_1


"Setelah malam pertemuan kedua kita di pesta, aku mencari tahu semua tentangmu. Kau menjadi sekretarisku juga atas keinginanku, jujur saja aku yang mempermudah semua itu. Semuanya," jawab Davin jujur kembali menatap Stella.


Kata semua yang Davin ucapkan membuat Stella teringat akan beberapa kejadian yang sebelumnya Stella merasa sedikit janggal.


"Undangan?" tanyanya yang dianggukkan oleh Davin. "Foto?" tanya Stella lagi yang kembali diangguki oleh Davin.


"Sudah aku katakan, semuanya!" ucapnya.


"Kenapa Kau lakukan semua itu? Apa alasanmu?" tanya Stella mulai merasa tak nyaman dengan sikap Davin, Stella berdiri menjaga jarak dari Davin.


Davin yang melihat itu ikut berdiri, mencoba menyentuh tangan Stella, tapi Stella dengan cepat menghindar. "Dengarkan aku, dulu, Stella. Jangan salah paham!" ucapnya.


"Pertama karena aku pikir kita saling mengenal, karena kita dari kota yang sama dan karena orang tuaku dan orang tuamu berteman. Kedua karena aku peduli padamu, aku hanya ingin mempermudah urusanmu. Maaf jika sikapku membuatmu merasa tidak nyaman, aku janji setelah ini tidak akan terlalu banyak ikut campur lagi dalam urusanmu!" Davin mencoba menjelaskan pada Stella alasannya.


"Tidak akan terlalu. Itu artinya kau tetap akan ikut campur dalam urusanku!" tuding Stella membuat Davin salah tingkah.


"Sudahlah! Aku lelah dan ingin beristirahat. Tolong jangan mengganggu liburanku!" Stella bergegas meninggalkan Davin setelah mengatakan hal itu.


Davin hanya tersenyum menatap kepergian Stella. Stella adalah gadis pertama yang begitu acuh padanya dan itu membuat daya tarik Stella semakin kuat menurutnya. "Kau tahu Stella. Hanya padamu aku banyak berkata jujur. Kau wanita pertama yang ku perlakukan istimewa seperti ini," gumam Davin.

__ADS_1


***


Dikediaman keluarga Garry. Ane merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi hari ini, Ane merasa tak enak hati pada suami dan mertuanya sebab Ane turut membantu Stella dalam menjalankan rencana Stella.


"Ma, Pa. Tolong maafkan aku. Maafkan aku yang turut membuat kalian malu," ucap Ane berulang kali meminta maaf.


Yanti yang melihat menantunya merasa bersalah, segera menghampirinya. "An, semua ini bukan salahmu. Mama sama sekali tidak menyalahkan mu karena Mama sangat mengerti posisimu. Stella adikmu dan sangat wajar jika kamu turut merasa marah pada Garry sebab kami pun juga merasa marah dengan semua yang telah Garry lakukan pada Stella. Berhenti menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi," ucapnya dengan lembut memeluk Ane, mencoba menenangkan Ane.


"Yang Mama katakan benar, sayang. Semua bukan salahmu. Kami justru merasa bersalah dan sangat malu pada keluargamu atas apa yang sudah terjadi. Garry benar-benar pria yang tidak tahu diuntung. Bagaimana bisa dia mengkhianati Stella terlebih dengan sahabat Stella sendiri?" sahut Damar ikut menenangkan istrinya meski jauh di lubuk hatinya juga merasa malu atas apa yang terjadi hari ini pada keluarganya.


"Bagaimana selanjutnya? Semua orang tahu tentang Feby dan Garry, kedua orang tua Feby nanti pasti juga akan mendengar semua ini," tanya Deo begitu bingung menanggapi permasalahan yang ada.


"Apa pun itu. Aku tidak sudi Feby menjadi menantuku. Aku tidak akan pernah sudi wanita itu menggantikan posisi Stella. Aku tahu Garry sangat mencintai Stella, semua ini tidak akan terjadi jika bukan dia yang lebih dulu menggoda Garry!" Yanti lebih dulu mengutarakan rasa keberatannya.


"Tapi, Ma. Garry sudah me–"


"Tidak ada tapi-tapian. Mama tidak akan merestui hubungan mereka. Kalau pun keluarganya meminta Garry menikahinya, mama tetap tidak akan merestui hubungan mereka. Hubungan yang dibangun atas dasar menyakiti hati wanita lain, Mama tidak ingin menantu seperti itu." Yanti tetap menolak dengan keras.


"Dimana Garry sekarang? Papa ingin mendengar semua penjelasan darinya!" tanya Deo pada Damar.

__ADS_1


"Garry pasti tengah mencari Stella. Semua itu percuma karena Stella sudah pergi untuk menenangkan dirinya atas apa yang telah terjadi," jawab Ane pelan.


__ADS_2