Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Pria Itu...


__ADS_3

“Stella, nanti malam ikutlah kami ke sebuah acara.”


Ucapan sang ibu membuat Stella meletakkan secangkir tehnya, lalu menoleh. Ia mengangkat sebelah alisnya, menatap orang tuanya dengan tatapan bingung.


“Acara apa?” tanya Stella.


“Anak salah satu teman kami baru saja menyelesaikan studi S3 di luar negeri dan orang tuanya mengadakan acara penyambutan kepulangannya. Datanglah dengan kami,” jawab Dini.


Anton melipat koran yang tadi ia baca, kemudian ikut menimpali, “Anak itu bahkan langsung mendapatkan tawaran untuk bekerja di perusahaan besar cabang Jerman yang ada di Indonesia. Dia pasti sangat berprestasi selama kuliah di luar sana.”


Stella memutar bola matanya.


“Aku tidak mau ikut,” ucapnya mantap.


Satu minggu tinggal di kampung halamannya, hidup Stella terasa jauh lebih tenang dan nyaman. Satu minggu belakangan, Stella lebih banyak menghabiskan waktu di kebun teh atau bersantai di rumah. Ia rasanya masih enggan jika harus kembali bersosialisasi dengan banyak orang. Karena itulah ia menolak ajakan orang tuanya.


“Kau harus ikut, Stella. Siapa tahu nanti kau bisa menambah relasi di acara itu,” usul Anton. “Untuk menjadi sukses, kita tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan kerja keras. Kita juga butuh relasi, Stella.”


“Papamu benar,” timpal Dini. “Setidaknya, datanglah dulu. Jika kau merasa tidak nyaman atau bosan, kau boleh pulang lebih dulu.”


Stella menghela napas lelah. Menolak ajakan orang tuanya adalah sesuatu yang cukup mustahil untuk Stella. Orang tuanya selalu memiliki beribu-ribu alasan supaya Stella mau ikut dengan mereka.


“Baiklah, aku akan ikut dengan kalian,” jawab Stella pada akhirnya. Meski terpaksa, ia akhirnya setuju juga.


*****


Mobil yang dikendarai Stella dan kedua orang tuanya berhenti di sebuah rumah mewah yang telah dihias dengan berbagai lampu kelap-kelip. Dari luar, terlihat ada banyak sekali mobil yang terparkir di halaman rumah tersebut.

__ADS_1


“Ma, Pa, sepertinya aku batal ikut,” ucap Stella.


“Kenapa? Kita sudah sampai di sini,” balas Dini. “Ayo, ikut masuk sebentar saja.”


Dini menarik tangan Stella supaya Stella ikut turun dari mobil.


“Aduh, Ma. Kepalaku tiba-tiba pusing,” ucap Stella sambil memegang pelipisnya.


Dini menggeleng-gelengkan kepalanya. “Memangnya Mama tidak tahu kalau kau sedang berbohong? Sudah, ayo cepat keluar. Tidak enak jika kau tidak ikut masuk,” sahut Dini.


Stella menghela napas berat, mau tak mau ia akhirnya ikut turun.


Melangkah masuk, Dini tampak menggenggam tangan Stella dengan erat seolah dia takut jika putrinya akan kabur.


“Lihat ke depan dan tersenyumlah,” ucap Dini, memperingatkan Stella namun tak diindahkan putrinya.


Stella mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada satu orang pun yang Stella kenal di sini. ‘Ini akan menjadi malam yang membosankan,’ pikirnya. Hingga matanya berhenti pada seseorang yang sedang mengobrol dengan beberapa pria berjas.


‘Pria itu ....’


Dua tahun lalu, di Paris.


Stella dan teman-temannya tengah menghabiskan waktu liburan semester di Paris, Perancis. Saat ini, dia dan teman-temannya tengah berjalan menuju ke sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari penginapan.


Dalam perjalanan, Stella tak sengaja melihat seorang pria tengah berdebat dengan seorang wanita. Si wanita terus mengejar pria itu meskipun pria tersebut menolaknya.


“Kau tahu, Lucille, aku akan segera menikah,” ucap pria tadi. Pria itu menyisir ke sekelilingnya, saat melihat Stella, ia lantas menghampiri Stella dan memeluk Stella secara tiba-tiba. “Dia adalah tunanganku.”

__ADS_1


“Kau ....”


Wanita tadi tak melanjutkan kalimatnya. Ia justru berlari sambil menangis meninggalkan Stella dan pria tadi. Sementara Stella hanya terdiam sebab dia belum dapat memahami apa yang baru saja terjadi.


Setelah wanita tadi pergi barulah Stella menyadari apa yang terjadi.


Dengan kasar Stella melepaskan pelukan pria tadi, lalu menjauhkan diri.


“Dasar pria gila! Kenapa kau mengaku sebagai tunanganku? Aku saja tidak kenal siapa dirimu!” omel Stella, marah kemudian berjalan menjauhi pria tadi.


‘Kenapa dia bisa ada di acara penyambutan ini?’ tanya Stella dalam hati.


Di saat yang sama, pria yang Stella kenali menoleh. Menyadari kehadiran Stella, pria itu tersenyum lalu berjalan menghampiri Stella.


“Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi di sini,” ucap pria itu, Davin Elmar.


Stella tersenyum tipis, lalu memutar bola matanya.


“Apakah kalian sudah saling kenal?” tanya Anton.


“Iya.”


“Tidak!”


Davin dan Stella menjawab secara hampir bersamaan dengan dua jawaban yang berbeda. Anton dan Dini pun saling berpandangan dan menatap bingung dua orang tersebut.


“Aku tidak mengenal pria ini,” sambung Stella.

__ADS_1


Davin tersenyum. “Aku kenal denganmu,” sahutnya, bertolak belakang dengan ucapan Stella.


“Mungkin kalian pernah bertemu tapi Stella lupa,” timpal Dini, menengahi Stella dan Davin. “Kalau begitu, kenapa kalian tidak mengulangi perkenalan kalian saja?”


__ADS_2