
Kabar tentang Garry–adiknya dengan cepat didengar oleh Damar. Damar yang baru saja menutup telepon dari temannya, bergegas pulang ke rumah kedua orang tuanya.
"Dimana Ane dan Bella?" tanya Yanti saat melihat Damar yang baru masuk ke dalam rumah.
"Mereka di rumah, aku langsung kemari dari kantor. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," jawabnya.
Keduanya menatap Damar dengan tatapan yang penuh rasa penasaran. Keduanya juga merasa gelisah sebab semua yang ingin Damar katakan pasti berhubungan dengan Garry, karena dari kedua putra mereka, hanya Garry yang sering kali berulah.
“Pa, Ma, aku mendapat kabar kalau Garry dipecat dari pekerjaannya,” ucap Damar seiring dia yang sudah duduk di depan kedua orang tuanya yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga.
“Apa mungkin Garry dipecat? Bukankah selama ini performanya di kantor bagus? Apa alsan dia dipecat?” tanya Deo sambil mengerutkan dahinya, tak percaya dengan ucapan putra sulungnya.
Damar mengedikkan bahunya, lalu mendaratkan bokongnya di sofa samping ayahnya.
“Temanku bekerja sebagai HRD di sana. Dia mengabariku saat di kantor. Katanya, Garry dipecat karena sering melamun dan pekerjaannya kacau,” jelas Damar. “Aku juga heran kenapa Garry bisa seperti ini.”
"Langsung dipecat tanpa diberi kesempatan?" tanya Yanti seakan tak terima mendengarnya.
"Setelah kejadian kemarin, Garry mendapat kesempatan tetap bekerja di sana meski punya scandal sebab dia salah satu karyawan terbaik disana, tapi Garry tak memanfaatkan kesempatan yang ada, dia justru mengabaikan pekerjaannya," terang Damar.
“Garry pasti sangat terpukul dengan apa yang menimpanya. Dia mungkin masih kepikiran tentang hal itu jadi pekerjaannya berakhir kacau. Terkadang mama masih tak habis pikir, jika dia sangat mencintai Stella, lalu kenapa menyakitinya?” timpal Yanti menghela napas kasar.
Wanita itu menatap suami dan putra sulungnya dengan tatapan kalut. Dia khawatir dengan kondisi Garry saat ini. Meskipun dia sadar jika apa yang terjadi pada Garry saat ini adalah murni kesalahan Garry sendiri, tapi Yanti tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan Garry saat ini. Karena tak hanya kehilangan pekerjaan, Garry juga kehilangan nama baik. Akibat ada yang sembunyi-sembunyi merekam kejadian hari itu meski mereka sudah berusaha meredam semua berita, tapi sia-sia. Kini kisah percintaan Garry berakhir viral dan orang-orang mengutarakan kebenciannya kepada Garry dan Feby.
“Apa yang dialami Garry saat ini adalah konsekuensi dari perbuatannya sendiri,” sahut Deo.
Meski prihatin dengan kondisi Garry saat ini. Tapi, Deo juga harus berpikir secara logis. Anggap saja apa yang terjadi pada Garry adalah karma karena telah mengkhianati Stella. Sebagai pribadi yang tegas, Deo tidak ingin membela Garry sekali pun putranya sendiri, sebab yang salah tetaplah salah menurutnya.
“Papa benar, Ma. Biarkan Garry menerima konsekuensinya dulu supaya dia bisa belajar dari kesalahannya. Biar anak itu tahu kalau kesalahan seperti itu tidak seharusnya dia lakukan,” ujar Damar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku bahkan masih merasa malu untuk bertemu dengan mertuaku," ucap Damar lagi mengingat kedua orang tua Stella yang sudah seperti mertuanya sebab Ane dibesarkan oleh kedua orang tua Stella.
__ADS_1
Di satu sisi, Yanti setuju dengan ucapan Deo dan Damar. Tapi, di sisi lain dia tak tega dengan Garry. Ibu mana yang tidak sedih jika putranya menjadi gunjingan di mana-mana? Kesalahan Garry mungkin memang besar. Tapi, jika dibiarkan, apa yang terjadi saat ini bisa berakibat fatal.
“Menurutku konsekuensi yang diterima Garry sudah lebih dari cukup, Pa. Dia kehilangan wanita yang dicintainya, pernikahannya batal, perselingkuhannya menjadi viral, dikucilkan oleh banyak orang, dia juga dipecat dari pekerjaannya. Aku tidak mau putra kita berakhir depresi karena hal ini,” ucap Yanti.
Damar menatap ayahnya. Kerutan tampak jelas terukir di pelipis ayahnya. Pria itu sepertinya sedang berpikir keras. Setiap langkah yang dia ambil memiliki konsekuensi.
“Baik, Ma. Kita harus bertemu dengan Garry malam ini juga,” ucap Deo memutuskan.
Damar mengangguk. “Aku akan menghubungi Ane jika aku pulang terlambat. Aku juga akan ikut, Pa,” timpalnya.
“Kalau begitu, Mama akan bersiap-siap,” balas Yanti sambil menghela napas lega.
Yanti, Deo, dan Damar pun pergi ke apartemen Garry.
***
“Garry, bagaimana kabarmu?” tanya Deo.
Garry menghela napasnya. “Ya, begitulah,” jawabnya singkat.
“Gar, kami di sini untuk memberikan dukungan padamu. Jangan merasa sendiri. Ada kami yang akan selalu mendampingiku dalam suka dan duka,” ungkap Yanti.
Melihat kondisi Garry yang seperti ini membuat hati Yanti terluka. Dia tak suka melihat buah hatinya terpuruk meskipun dia tahu jika ini semua adalah akibat dari perbuatan Garry sendiri.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang, Gar?” tanya Deo.
“Aku tidak tahu, Pa.” Garry mengedikkan bahunya. “Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku karena memikirkan Stella. Aku sudah berusaha untuk meminta Stella kembali padaku tapi dia tidak mau. Aku mencintainya, Pa. Kalian percaya pada cintaku, kan?" ucapnya lirih.
“Kami mengerti kenapa Stella bersikap seperti itu, Gar. Tidak ada seorang pun yang mau kembali pada seseorang yang telah menyakitinya,” balas Deo.
__ADS_1
“Tapi, aku tidak bisa hidup tanpa Stella, Pa, Ma.” Garry meraih tangan ibunya. Dengan wajah memelas dia berkata, “Bantu aku untuk kembali pada Stella, Ma. Aku mohon!”
Yanti dan Deo saling berpandangan. Permintaan Garry adalah permintaan yang mustahil untuk dilakukan.
“Garry, kau tahu, ‘kan, apa yang sudah kau lakukan pada Stella?” tanya Yanti.
“Aku tahu, Ma. Tapi, aku hanya menginginkan Stella. Tolong bantu aku untuk meyakinkan orang tua Stella dan Stella untuk kembali padaku, Ma,” pinta Garry, memohon dengan sangat.
“Kami tidak punya muka untuk melakukan itu, Gar. Kami jelas mengerti apa yang keluarga Stella rasakan, kami tidak bisa. Maaf,” balas Yanti penuh sesal.
“Tapi, Ma ....”
“Sudah waktunya untuk kau move on, Gar. Lanjutkan hidupmu meskipun tanpa Stella. Mungkin kau dan Stella memang tidak berjodoh,” sahut Damar coba menasehati adiknya.
"Aku tidak bisa, Kak. Aku mencintainya dan hanya ingin dia. Harusnya kami sudah menjadi suami istri sekarang," ucapnya penuh sesal.
"Semua itu gagal juga karenamu. Sadari itu! Jika kau di posisi Stella, kau pun tidak akan memaafkan orang yang sudah mengkhianatimu. Meski bisa memaafkan, tapi sulit untuk kembali!" bentak Damar.
“Papa setuju dengan kakakmu. Kau harus bangkit dan melanjutkan hidupmu lagi. Jika memang kau dan Stella berjodoh, biarkan waktu yang menjawabnya,” timpal Deo.
Garry menghela napas. Meski berat, ucapan Damar dan Deo ada benarnya. Dia harus melanjutkan hidupnya.
“Bekerjalah di perusahaan keluarga kita yang dipimpin kakakmu,” perintah Deo.
“Aku tidak mau, Pa. Papa tahu sendiri kalau aku selalu ingin sukses tanpa bantuan keluarga.”
“Aku mengerti, tapi akan lebih baik jika kau bergabung dengan kakakmu.”
“Gar, Papa benar. Lagi pula, dengan reputasimu yang sekarang ini akan sulit untuk kau mendapatkan pekerjaan. Lebih baik kau bergabung denganku di perusahaan keluarga ini,” paksa Damar
__ADS_1