
“Stella, apa jadwalku hari ini?” tanya Davin begitu pria itu duduk di kursi kebesarannya.
Stella mengambil buku catatan kecilnya kemudian menjelaskan apa saja jadwal Davin hari ini.
“Pukul sembilan nanti Anda memiliki jadwal meeting dengan perwakilan delegasi dari Jerman. Setelah meeting, Anda akan makan siang di luar dengan mereka. Untuk setelahnya Anda tidak ada jadwal lagi, Pak,” jelas Stella.
“Apakah kau sudah memesan meja untuk makan siang nanti?” tanya Davin, ingin memastikan.
Stella mengangguk. “Aku sudah memesan ruang VIP di restoran bintang lima untuk Anda makan siang dengan delegasi dari Jerman. Di restoran yang seperti biasa, ‘kan, Pak?”
“Ya,” jawab Davin.
Davin terbiasa menjamu tamunya di sebuah restoran bintang lima yang tak terlalu jauh dari kantor. Dia selalu berusaha memberikan pelayanan seramah mungkin untuk memberikan kesan yang baik pada tiap kliennya.
“Apakah ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Pak? Jika tidak, aku akan permisi dulu untuk menyiapkan ruang meeting,” ucap Stella sopan.
Davin tersenyum tipis.
Dia dan Stella telah kembali bekerja. Mereka menjalani hari-hari dengan profesional seolah mereka telah melupakan apa yang terjadi di pulau tempo lalu. Meskipun begitu, Davin senang karena Stella sudah tidak begitu ketus padanya.
“Temani aku untuk makan siang dengan tamuku nanti,” ucap Davin memerintah.
“Maaf, Pak? Bukankah makan siang ini seharusnya hanya dihadiri Anda saja?” tanya Stella bingung.
Sebelumnya, Davin tak pernah mengajaknya kakak siang bersama klien. Pria itu hanya memerintahkannya untuk memesan meja di restoran lalu dia akan berangkat sendiri. Tidak biasanya Davin mengajaknya.
__ADS_1
“Kau sekretarisku, Stella. Seharusnya kau melakukan apa yang aku perintahkan tanpa bertanya alasannya,” ucap Davin tegas lalu memutar kursinya membelakangi Stella.
“Baik, Pak. Kalau begitu, aku permisi dulu,” kata Stella lalu berlalu.
Setelah memastikan Stella pergi, Davin kembali memutar kursinya. Pria itu menyunggingkan senyum miring. Meski dituntut untuk selalu bersikap profesional di kantor, Davin masih sering mendekati Stella di saat jam istirahat. Itu jugalah yang menjadi alasan kenapa mengajak Stella pergi makan siang, supaya dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Stella.
'Perlahan, Stella. Secara perlahan aku akan membawamu masuk ke dalam hidupku. Namun, hal pertama yang harus aku lakukan adalah berteman denganmu, membuatmu nyaman bersamaku, setelah itu barulah melanjutkan langkah selanjutnya. Menjadikanmu pasanganku,' gumamnya.
*****
Berhari-hari mencari keberadaan Stella dan tak kunjung menemukannya, Garry sama sekali tak menyerah. Cintanya untuk Stella jelas membuatnya tidak ingin kehilangan Stella. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan sosok wanita yang sempurna di matanya, menjadi sulit untuk Garry untuk melepaskan Stella. Garry nekat pergi ke kantor Stella saat jam makan siang. Posisi Stella di kantor ini bagus, tak mungkin jika Stella juga keluar dari pekerjaannya hanya untuk menghindar darinya, bukan? Itulah yang Garry pikirkan.
Pria itu turun dari mobilnya. Baru saja dia hendak masuk ke lobi, dua satpam bertubuh kekar berjalan menghampirinya. Garry di cegat dan dihalangi supaya tidak bisa masuk ke dalam kantor itu.
“Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk ke kantor ini,” ucap salah satu satpam.
Dia tahu jika kantor tempat Stella bekerja adalah kantor yang sangat ketat dengan pengawasan. Namun, dia tetap merasa bingung kenapa dia tidak diizinkan masuk padahal dia hanya ingin bertamu.
“Maaf, Pak. Tapi, ini perintah langsung dari direktur perusahaan ini. Anda tidak boleh masuk,” timpal satpam yang satunya.
“Kau mungkin salah orang atau mengira aku mirip dengan seseorang?”
“Tidak, Pak. Kami tidak mungkin salah. Diretur telah memberi perintah jika pria bernama Garry tidak boleh masuk ke kantor ini. Beliau bahkan juga menunjukkan foto Anda kepada kami,” jelas satpam tadi.
"Apa alasannya?" tanya Garry tak terima.
__ADS_1
"Anda jelas tahu jawabannya. Sekarang tolong pergilah dan jangan mempersulit pekerjaan kami," ucap pria bertubuh kekar itu dengan tajam menatap Garry.
Garry berdecap. Dia memutar tubuhnya, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Karena bingung tak diizinkan masuk, Garry lantas memilih untuk mengemudikan mobilnya kembali ke kantornya.
“Sepertinya aku lebih baik menemui Stella nanti sepulang kerja,” gumam Garry.
Sepulang kerja, Garry benar-benar kembali ke kantor Stella. Pria itu memarkirkan mobilnya agak jauh dari lobi sebab Garry sadar jika keamanan di perusahaan itu jelas sudah mengenalinya. Di sana, dia menunggu Stella keluar dari kantor dengan perasaan gelisah. Garry tetap berniat untuk meminta maaf sekaligus menjelaskan semuanya kepada Stella meski tahu semuanya tidak akan mudah.
Di sisi lain, Stella yang melihat mobil Garry terparkir di halaman kantornya menghentikan langkahnya.
Jantung Stella berdegup kencang. Dia masih belum siap untuk bertemu Garry dan berbicara dengan pria itu. Dia takut jika nanti dia akan mengiyakan hal-hal yang akan disesalinya jika dia harus berbicara dengan Garry sekarang. 'Pergilah, Gar. Menjauhlah dari hidupku,' batinnya.
Melihat Stella berdiri di depan lobi, Garry pun bergegas turun dari mobil. Pria itu segera menghampiri Stella, dia tak mau menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi.
“Stella!” sapanya.
Garry hendak menarik Stella ke dalam pelukannya namun dengan cepat wanita itu mundur dan menghindar.
Tatapan kecewa mendapat penolakan Stella jelas terlihat di pancaran mata Garry, tapi mengingat semua adalah karena kesalahannya sendiri, Garry hanya bisa menelan pahit semuanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Stella dengan suara nyaris berbisik.
“Aku ingin bertemu denganmu. Kita perlu mengobrol dan membicarakan semuanya. Aku juga sangat merindukanmu, Sayang,” jawab Garry dengan tatapan yang diselimuti kesedihan tapi juga harapan.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Aku tidak mau berbicara denganmu,” ucap Stella telak, menolak permintaan Garry.
__ADS_1
"Aku mohon, Stella. Tolong jangan menjauh dariku! Ini semua benar-benar menyiksaku," ucap Garry pelan.
"Semua yang kalian lakukan jauh lebih menyakitiku. Tolong menjauh dari hidupku!" ucap Stella berlalu pergi.