Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Pre-wedding


__ADS_3

“Kenapa Anda menatapku seperti itu?” tanya Stella kepada Davin.


Sejak kedatangannya di kantor lima belas menit yang lalu, Stella menyadari jika Davin tak berhenti menatapnya. Stella sudah berusaha untuk mengabaikan hal itu dan melakukan pekerjaan tanpa memedulikan tatapan Davin. Ia bahkan berpikir jika tatapan Davin hanya bagian dari delusinya saja. Tapi, semakin lama Stella bisa merasakan jika tatapan Davin semakin intens. Jujur, Stella merasa tidak nyaman ditatap seintens itu.


Davin menggeleng. “Lipstik merah cocok denganmu,” komentar Davin sambil menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyum miring.


Mendengar itu, Stella buru-buru mengambil kaca kecil dari tasnya. Matanya membulat saat menyadari jika dia salah mengenakan lipstik. Stella merutuki kebodohannya. ‘Bagaimana jika Davin berpikir kalau aku sedang ingin menggodanya dengan lipstik yang aku pakai?’ gerutu Stella dalam hati.


Segera Stella mengambil tisu di meja. Ia mengusap tisu di bibirnya, berusaha menghapus lipstik merah dari bibirnya.


“Maaf, Pak. Aku tidak seharusnya memakai lipstik warna ini,” ucap Stella. Wanita itu berdiri. “Aku permisi ke toilet dulu.”


Ketika Stella hendak keluar dari ruang kerja mereka, panggilan dari Davin menghentikan langkahnya. Ia membalik tubuhnya, kemudian bertanya pada Davin ada apa.


“Kau tampak cantik dengan lipstik itu,” puji Davin sambil mengedipkan sebelah matanya.


Pipi Stella terasa memanas saat mendengar pujian dari Davin. Pipinya merona semerah kelopak mawar. Jika saja yang memujinya bukanlah orang yang paling mengesalkan bagi Stella, mungkin Stella akan bahagia mendengarnya. Tapi, mengingat bagaimana bos genitnya selalu berusaha untuk mendekatinya akhir-akhir ini membuat Stella muak.


Stella memutar bola matanya. Tanpa membalas ucapan Davin, Stella melanjutkan langkahnya keluar dari ruang kerja. Dia harus segera ke toilet dan mengganti lipstiknya dengan warna yang lebih natural.


Di tengah-tengah harinya yang disibukkan dengan bos genitnya, Stella harus tetap melakukan rencananya. Hari ini, Stella izin untuk pulang lebih awal. Ia akan melakukan fitting baju pernikahan dengan Garry di sebuah butik terkemuka. Setelahnya, mereka akan melakukan foto pre-wedding di sebuah studio foto.


“Stella, apakah kau yakin tidak ingin melibatkan orang tua kita untuk persiapan pernikahan ini?” tanya Garry.


Saat ini, pria itu sedang menunggu Stella yang sedang mencoba beberapa gaun pernikahan. Orang tuanya terus bertanya apakah Garry dan Stella yakin tidak ingin dibantu oleh orang tua Garry untuk mempersiapkan pernikahan mereka.

__ADS_1


Stella menggeleng. “Bukankah kita sudah membahasnya beberapa hari lalu, Gar?” balas Stella.


“Aku tahu. Hanya saja, apakah perspektif dari orang tua tidak dibutuhkan? Aku hanya khawatir jika keluarga besar kita kecewa karena dilarang untuk terlibat.”


Stella tersenyum ke arah Garry.


“Gar, ini adalah pernikahan kita. Aku justru takut jika masing-masing keluarga kita memiliki pendapat yang berbeda dan malah menghambat persiapan pernikahan kita. Yang terpenting, mereka tetap mendukung kita berdua dan mau mendoakan persiapan pernikahan ini. Hanya itu yang kita butuhkan, Gar,” jelas Stella, memberikan pengertian kepada Garry.


Garry menghampiri Stella. “Orang tuaku tidak keberatan jika kita ingin melakukan semuanya sendiri. Tapi, kurasa mereka takut kita mendapat banyak tekanan karena mempersiapkan pernikahan bukanlah hal sepele,” balas Garry.


Stella terkekeh. “Aku mengerti, Gar. Tapi, mereka tidak perlu khawatir karena kita pasti bisa melakukannya secara mandiri,” ucap Stella.


Garry pun mengangguk mendengarnya.


Stella dengan mudahnya meyakinkan Garry jika dia ingin melakukan persiapan pernikahannya sendiri. Orang tua Garry juga tidak keberatan karena mereka percaya Stella adalah perempuan pintar yang bisa melakukan segalanya sendiri.


Garry menatap Stella dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pria itu merasa terharu saat melihat Stella dalam balutan gaun pengantin. Ia masih tak percaya jika momen seperti ini akan tiba juga di mana dia akan menikah dengan Stella.


“Gaun apa pun akan selalu cocok kau pakai, Stella,” balas Garry. “Asalkan kau nyaman memakainya, aku tidak masalah.”


Stella tersenyum. “Kalau begitu, aku akan memilih gaun yang ini saja,” ucapnya.


Usai memilih gaun, Garry dan Stella pergi ke sebuah studio foto untuk melakukan foto pre-wedding. Keduanya tampak menawan dengan memakai setelan jas dan juga gaun berwarna senada. Mereka diminta untuk melakukan begitu banyak pose dengan beberapa setelan yang berbeda.


Stella tersenyum ke arah kamera, menyadari jika rencananya akan segera terjadi dan dia akan terbebas dari segala dendam yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


“Stella, apakah kita perlu pergi ke percetakan undangan setelah ini?” tanya Garry.


Stella menguap. “Aku sudah lelah, Gar. Sekarang juga sudah jam sembilan malam. Besok, aku akan memesannya ke salah satu temanku yang bekerja di percetakan saja,” ucap Stella.


“Baiklah kalau begitu. Ayo, kita pulang. Jangan sampai kau sakit karena kelelahan,” usul Garry sambil menggandeng tangan Stella keluar dari studio foto.


Di sisi lain, Feby yang mengetahui jika pernikahan Garry dan Stella mendapat dukungan dari semua pihak merasa cemburu. Hatinya hancur berkeping-keping ketika dia menyadari jika sebentar lagi, Garry akan menjadi suami sah sahabatnya. Perasaan yang dia pupuk untuk Garry selama ini seolah sia-sia. Pengorbanan yang sudah dia lakukan demi Garry tidak ada artinya.


Setiap malam, Feby menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan. Hal tersebut terdengar sampai ke telinga Stella. Awalnya, Stella ingin bersikap acuh tak acuh. Tapi, dia tidak tega. Dia pun menghampiri Feby di sebuah kelab malam dan mendapati sahabatnya sedang mabuk di salah satu ruang VIP.


“Stella, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Feby dengan tatapan sayu. Untuk mengangkat kepala saja dia sudah tidak sanggup saking banyaknya alkohol yang telah dia konsumsi. “Pergilah dan siapkan pernikahanmu. Jangan pedulikan aku.”


“Feb, kau ini bicara apa, sih? Kalau kau punya masalah, kau bisa bercerita padaku. Jangan malah mabuk-mabukan tidak jelas seperti ini,” ucap Stella.


Stella mengambil tempat untuk duduk di samping Feby. Stella datang dan mencoba untuk menghibur Feby. Dengan lembut ia berusaha menenangkan Feby yang tengah terpuruk meski ia tetap pura-pura tidak tahu mengenai alasan Feby terpuruk.


“Feb, tenanglah.” Stella menarik Feby ke dalam pelukannya. “Apa pun masalahmu sekarang, aku yakin kau pasti bisa melewatinya. Kau adalah wanita yang kuat, aku percaya padamu.”


Tangis Feby pecah. Rasa bersalah muncul di hatinya. Feby sadar jika Stella adalah sahabat yang baik. Tapi, tak bisa dipungkiri jika dia juga tidak bisa melupakan Garry. Dia terlalu mencintai Garry sampai-sampai lupa untuk menjaga hati Stella.


Feby semakin terpuruk. Ia merasa jika dia adalah orang terburuk di dunia karena tak bisa memilih antara Garry atau Stella.


Sambil memeluk Feby, dalam hati Stella menyayangkan sikap sahabatnya itu. ‘Jika saja kau berkata jujur kalau kau mencintai Garry dari awal, mungkin aku akan mengalah. Sekarang, kau justru menghancurkan semuanya dengan mengkhianatiku,’ ucap Stella dalam hati.


***

__ADS_1


Sabar ya Guys, sebentar lagi kebusukan Garry n Feby terbongkar. 😌😌


__ADS_2