Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Selamat Datang Kehidupan Yang Baru


__ADS_3

Setelah memastikan jika tidak ada yang tertinggal, Stella menarik kopernya keluar dari penginapan. Baru saja keluar pintu kamar, dia melihat Davin juga keluar dari kamarnya sambil membawa koper.


“Kau sudah siap?” tanya Davin.


Stella mengangguk. “Ya,” jawabnya sopan.


“Baiklah. Aku sudah memesan taksi. Ayo, kita keluar,” ucap Davin.


Setelah check-out dari penginapan, Stella dan Davin masuk ke dalam taksi yang akan membawa mereka menuju ke bandar udara. Hari ini, mereka akan kembali pada realitas kehidupan dan pulang ke Jakarta.


Jantung Stella berdebar-debar membayangkan apa yang akan terjadi setelah kepulangannya. Karena kalau boleh jujur, Stella belum siap pulang dan bertemu lagi dengan Garry dan Feby. Dia belum sanggup.


Sedari tadi, Davin memerhatikan Stella yang hanya diam sambil memandang ke luar jendela mobil. Pria itu berdeham, membuat Stella menoleh ke arahnya.


“Apakah kau gugup? Jika kau belum siap pulang, kau boleh memperpanjang cutimu,” ucap Davin.


Stella menggeleng. “Aku baik-baik saja. Lagi pula, tidak enak kalau aku mengambil cuti terlalu lama. Bisa-bisa aku dipecat,” balas Stella.


Davin terkekeh kecil. “Aku adalah bosmu. Aku janji tidak akan memecatmu,” katanya penuh percaya diri.


Stella tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya lagi tanpa membalas ucapan Davin. Dia tahu Davin punya kuasa untuk memberinya perpanjangan cuti. Tapi, Stella tidak mau terus-menerus lari dari kenyataan. Cepat atau lambat, dia harus kembali melanjutkan kehidupannya, bukan?


“Stella ....”

__ADS_1


Panggilan Davin membuat Stella menoleh. Ia mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya ada apa. Karena Davin tak kunjung membuka mulutnya, Stella pun mengambil alih untuk berbicara.


“Dav, aku sangat berterima kasih karena kau banyak membantuku di sini. Kau juga selalu menemaniku dan menghiburku,” ucap Stella.


Davin tersenyum lebar. “Tidak perlu berterima kasih. Ini bukan apa-apa,” balas Davin.


Mencuri perhatian Stella mungkin adalah hal yang sangat sulit untuk Davin. Maka dari itu Davin sudah cukup senang hanya dengan diizinkan masuk ke dalam kehidupan wanita itu.


“Ada satu hal yang aku minta darimu ....” Stella menghentikan ucapannya, ragu apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Dia hanya takut kalau Davin salah paham dengan ucapannya dan marah.


“Ada apa?” tanya Davin bingung.


“Setelah kita pulang dan kembali pada kehidupan kita, aku ingin kau melupakan apa pun yang terjadi selama liburan di sini,” ucap Stella. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Aku ingin kita bersikap normal layaknya atasan dan bawahan supaya aku nyaman bekerja.”


“Baiklah, aku setuju,” balas Davin tanpa ragu.


*****


Setelah perjalanan panjang, akhirnya Stella tiba di Jakarta.


Wanita itu masuk ke dalam sebuah apartemen kecil yang lokasinya tak terlalu jauh dari kantornya. Apartemen itu terletak di lantai teratas sebuah pusat perbelanjaan. Mulai sekarang, Stella akan tinggal di sana.


Usai beristirahat sejenak, Stella mengambil ponselnya dari dalam koper lalu menyalakannya. Segera dia menghubungi orang tuanya untuk memberikan kabar. Dia yakin kalau orang tuanya sedang menunggu kabar darinya saat ini.

__ADS_1


“Halo, Stella? Akhirnya kau menghubungi kami. Ibumu sangat khawatir denganmu. Dia bahkan sering melamun karena kau tidak bisa dihubungi,” tegur Anton begitu telepon mereka terhubung.


“Maaf, Pa. Aku sengaja mematikan ponselku karena aku tidak ingin diganggu. Maaf, jika aku sudah membuat kalian berdua khawatir,” ucap Stella sambil menggaruk tengkuknya.


“Stella, kau tidak apa-apa, ‘kan, Sayang?” Dini terdengar menyahuti ucapan Stella. Kini, Dini dapat bernapas lega setelah mendengar suara Stella. “Tidak terjadi sesuatu denganmu selama liburan, ‘kan?”


“Tidak, Ma. Mama tenang saja, aku baik-baik saja. Sekarang, aku sudah kembali ke Jakarta. Jadi, Mama jangan khawatir lagi denganku,” balas Stella sambil terkekeh pelan.


“Lalu, bagaimana dengan suasana hatimu? Apakah kau jauh lebih tenang sekarang?” tanya Dini.


“Iya, Ma. Liburan ternyata mampu mengubah suasana hatiku. Sekarang aku sudah lebih tenang,” jawab Stella.


“Baguslah kalau begitu. Kami senang mendengarnya.”


Stella mengobrol dengan orang tuanya selama beberapa menit, membicarakan tentang apa yang terjadi setelah Stella membongkar kebusukan Garry dan Feby hari itu.


Usai telepon terputus, Stella membuka sosial medianya. Matanya membelalak lebar saat mendapati ada ribuan notifikasi yang masuk. Dia terkejut saat melihat komentar berupa dukungan dari orang-orang asing. Dia sama sekali tak menyangka jika kejadian yang menimpanya berakhir viral di internet.


“Astaga, apakah itu artinya semua orang tahu tentang hal ini?” tanyanya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Stella senang karena banyak sekali orang yang mendukungnya. Tapi, di satu sisi dia juga sadar kalau kehidupannya  mungkin tak akan damai setelah ini. Namun, Stella bertekad untuk tetap menjalani harinya dengan baik.


“Selamat datang kehidupanku yang baru,” gumam Stella sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2