Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Tak Sabar Menikah


__ADS_3

Garry meraih tangan Stella, kemudian mengecup punggung tangan wanita itu. Ia memainkan jari manis Stella, membelainya sambil tersenyum lebar. Ia membayangkan jika sebentar lagi sebuah cincin akan melingkar di jari manis Stella. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba.


Melihat apa yang dilakukan oleh Garry, Stella mengerutkan dahi. Wanita itu menelengkan kepalanya, menatap heran pada pria yang ada di hadapannya.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Stella.


Garry mengangkat kepalanya. Pandangannya beralih dari jari manis Stella ke iris mata Stella.


“Aku sudah tidak sabar untuk melamarmu secara resmi dan menyematkan cincin pernikahan kita di jari manismu,” jawab Garry sambil tersenyum penuh harap.


Stella terkekeh kecil. Dalam hati, ia sudah muak sekali mendengar kalimat manis yang diucapkan oleh Garry dari kemarin. Tapi, tidak. Ia tidak boleh menunjukkan hal tersebut karena dia memiliki misi untuk membalaskan dendamnya kepada Garry.


“Aku juga sudah tidak sabar, Gar. Kau tahu, ‘kan, kalau aku sangat mencintaimu?” tanya Stella. Tenggorokannya sempat tercekat saat dia mengucapkan kata cinta. Tapi, ia harus mengatakannya.


“Aku tahu, Stella.” Garry kembali mengecup punggung tangan Stella. “Aku juga sangat mencintaimu.”


Stella tersenyum tipis. ‘Apa gunanya kata cinta jika kau tidak bisa membuktikan kesetiaanmu, Gar?’ tanya Stella dalam hati. Hatinya masih menjerit terluka setiap kali dia mengingat tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Garry dan Feby.


“Oh, iya. Kudengar Feby diterima bekerja di perusahaanmu?” tanya Stella berbasa-basi.


“Ya,” jawab Garry singkat.


Pria itu merasa tidak nyaman setiap kali membicarakan tentang Feby bersama Stella. Entah kenapa, setelah apa yang dia dan Feby lakukan di belakang Stella, dia merasa canggung. Entah karena rasa bersalah atau karena ia mengingat hal-hal yang dia lakukan dengan Feby.


Stella menatap lurus ke arah Garry. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi Garry saat dia membicarakan tentang Feby. Dan benar saja, pria itu tampak tak nyaman dan bahkan mengalihkan tatapannya. Ia menatap kosong ke samping, menghindari mata Stella.

__ADS_1


Stella berdeham, membuat Garry menoleh ke arahnya kembali.


“Gar, aku sudah kenyang,” ucap Stella.


Garry mengangguk.


“Ya, sudah. Ayo, kita pulang.”


Garry mengangkat tangannya, membuat seorang pelayan menghampiri. Setelah membayar pesanan mereka, ia lantas menggandeng tangan Stella keluar dari restoran.


Sepanjang perjalanan pulang, Garry dan Stella mengobrol ringan. Meski tak sepenuhnya menikmati percakapannya dengan Garry, Stella tetap bersikap baik dan manis. Dia berusaha untuk semaksimal mungkin menghargai Garry sebelum rencananya untuk membongkar kebusukan Garry dilakukan.


Mobil Garry akhirnya berhenti di depan kosan Stella. Stella tak langsung turun dari mobil. Wanita itu justru menoleh ke arah Garry sambil menggigit bibir dalamnya.


“Kenapa kau melihatku seperti itu, Stella?” tanya Garry.


Garry mengerutkan keningnya. “Ada apa, Sayang?”


“Sebenarnya, beberapa hari lalu aku melamar bekerja di sebuah perusahaan. Kebetulan sekali ada lowongan untuk bekerja sebagai sekretaris direktur,” jelas Stella.


Garry terkejut mendengar hal itu. Pasalnya, sebelum Stella lulus kuliah, Stella pernah mengatakan niatnya untuk bekerja di perusahaan yang sama dengannya. Garry jadi bertanya-tanya apakah keputusan Stella ada hubungannya dengan Feby? Tapi, dia meragukan kecurigaannya sendiri sebab menurutnya, Stella tidak tahu mengenai hubungan gelapnya dengan Feby.


“Benarkah? Aku pikir kau ingin melamar kerja di kantorku,” balas Garry bingung.


“Awalnya memang itulah rencanaku.” Stella mengedikkan bahunya. “Tapi, setelah melihat lowongan ini aku jadi berubah pikiran. Lagi pula, di perusahaanmu lowongan yang tersedia bukan di jabatan setinggi itu, bukan?”

__ADS_1


Garry mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami alasan Stella memilih pekerjaan lain dibandingkan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja.


“Lalu, bagaimana hasilnya? Apakah kau diterima?” tanya Garry.


Senyum Stella mengembang. Wanita itu menganggukkan kepalanya antusias.


“Iya! Hari ini bahkan aku sudah mulai bekerja,” jawab Stella sambil tersenyum senang.


Senyum Garry ikut mengembang. Pria itu turut bahagia dengan pekerjaan yang didapatkan oleh Stella. Ia pun menarik Stella ke dalam pelukannya.


Sambil mengusap-usap punggung Stella, ia berkata, “Aku ikut senang mendengarnya, Stella.”


Stella melepaskan diri dari dekapan Garry.


“Kau tidak marah aku bekerja di tempat lain?” tanya Stella.


“Untuk apa aku marah? Justru aku merasa senang karena kau mendapatkan posisi yang bagus,” jawab Garry tulus.


Tak ada pikiran negatif apa pun yang hinggap di kepalanya. Dia bahkan juga tidak bertanya mengenai bos Stella sebab dia pikir, seorang direktur pastilah pria yang sudah berumah tangga dan tidak akan menggoda Stella.


“Benarkah?” tanya Stella.


Garry mengangguk. “Lagi pula, justru ini adalah hal yang bagus. Kebanyakan perusahaan memang tidak mengizinkan pasangan bekerja di perusahaan yang sama,” jawab Garry.


Garry sama sekali tidak punya pikiran lain selain itu. Tapi, di dalam hati Stella, wanita itu berpikir sebaliknya.

__ADS_1


‘Kau pasti berkata begitu karena tak ingin hubungan terlarang mu dengan Feby ketahuan olehku, ‘kan, Gar?’ batin Stella.


__ADS_2