Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Menerima Lamaran


__ADS_3

“Stella, ada tamu untukmu.”


Kalimat tersebut membuat Stella yang saat ini tengah bersantai di kamar sambil mengenakan masker wajah menoleh ke arah pintu. Di sana ia melihat ibunya berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang tak bisa dia artikan.


“Tamu? Siapa, Ma?” tanya Stella.


Dini menutup pintu kamar Stella, kemudian menghampiri Stella. Wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang, di samping Stella, lalu meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya supaya Stella memelankan suaranya.


“Jika kau tidak mau bertemu dengan tamu ini, kau tidak perlu keluar dan Mama akan beralasan jika kau sedang tidak enak badan atau sudah tidur,” jelas Dini.


Stella mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti dengan apa maksud ucapan Dini.


“Memangnya siapa yang datang, Ma?” tanya Stella sekali lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.


“Garry.”


Nama tersebut lolos dari bibir Dini.


Mendengar itu, Stella membulatkan matanya. Ia sontak melompat berdiri, kemudian berlari menuju pintu dan mengintip dari celah pintu apakah yang dikatakan ibunya benar atau tidak.


Saat melihat sosok Garry betul-betul ada di sana, Stella menelan salivanya dengan susah payah. ‘Apa yang dia lakukan di sini?’ tanya Stella dalam hati. Dia pikir, Garry tak mungkin jauh-jauh datang ke kampung halamannya jika Garry hanya ingin Stella membalas pesan singkatnya. Pasti ada hal lain. Stella yakin sekali.


“Sayang, jika kau tidak ingin bertemu dengan Garry, Mama akan menyuruhnya pulang. Mama tahu kalau kau pasti masih sakit hati,” ucap Dini.


Stella membalik tubuhnya, lalu menggeleng.

__ADS_1


“Tidak, Ma. Aku akan menemui Garry. Justru ini bagus, aku bisa segera melakukan rencanaku untuk membalas rasa sakitku,” jawab Stella.


“Baiklah. Mama akan menunggumu di depan.”


Stella mengangguk. Setelah Dini keluar dari kamarnya, Stella pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sesudah itu barulah ia keluar kamar untuk menemui Garry.


Keluar dari kamar, Stella mendapati Garry tengah duduk di ruang tamu dengan orang tuanya. Ia bisa merasakan tensi yang panas di ruangan tersebut. Keramahan orang tua Stella terhadap Garry seolah raib setelah mereka mengetahui tentang perselingkuhan Garry dan Feby. Kini, mereka bahkan tak menunjukkan perhatian sama sekali. Mereka hanya bersikap sopan dan menerima Garry di rumah ini ala kadarnya.


“Stella, duduklah,” perintah Anton.


Stella mengangguk, lalu duduk di samping Dini.


“Garry, kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?” tanya Stella, memandang bingung ke arah Garry.


“Stella, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu dan orang tuamu,” ucap Garry, memulai kalimatnya.


Stella memandang ke arah orang tuanya. Melihat orang tuanya juga sama memandangnya membuat Stella berpikir jika Garry juga belum membicarakannya dengan mereka.


“Ada apa?” tanya Stella.


“Aku berniat untuk melamar dirimu,” jawab Garry.


Stella tersentak. Napasnya tercekat tatkala ia mendengar jawaban Garry.


Tiga tahun berpacaran, momen seperti ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh setiap wanita. Tapi, setelah apa yang Stella ketahui, kini niat Garry sudah terlambat. Lamaran Garry sudah tidak bisa membuat Stella bahagia.

__ADS_1


“K-kenapa tiba-tiba sekali?” balas Stella, tergagap.


“Aku merasa jika kau mungkin berpikir jika aku tidak serius dengan hubungan ini. Maka dari itu, aku ingin meyakinkanmu dengan cara melamarmu.” Garry meraih tangan Stella, lalu meremasnya. “Aku sangat mencintaimu, Stella. Aku ingin kau menjadi istriku dan menemaniku hingga kita menua bersama.”


“Kau ingin menikah dengan Stella?” tanya Anton sambil mengerutkan dahinya.


Sebagai seorang ayah, dia tidak menyangka jika seseorang yang sudah menyakiti putrinya bisa memiliki keberanian dan niat untuk melamar putrinya. Dia tidak habis pikir ke mana perginya logika dan hati nurani Garry.


“Iya, Om. Aku berniat untuk membawa orang tuaku ke sini untuk meresmikan lamaranku kepada Stella. Bagaimana pendapat Om dan Tante?” tanya Garry tanpa dosa.


Anton dan Dini yang sudah mengetahui kebusukan Garry hanya bertukar pandang dan diam. Mereka bingung harus menjawab pertanyaan Garry dengan jawaban seperti apa. Mereka juga belum tahu jelas apa rencana Stella selanjutnya, jadi mereka hanya bungkam.


Tak kunjung mendapat jawaban dari orang tua Stella, Garry pun kembali memandang Stella.


“Apakah kau mau menerima lamaranku, Stella?”


“Tentu saja aku mau,” jawab Stella sambil tersenyum lebar.


Dalam hati, Stella tersenyum culas dan berpikir jika rencananya akan segera berhasil. Ia berniat untuk membuat Garry jatuh ke dalam pelukannya kembali dan membuat Feby kehilangan Garry.


Kini, Stella hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala kebusukan Garry.


***


Kak, bantu komen ya, nanti aku bales. Mau ngobrol sedikit, penting. Dr kemarin aku tulis catatan di sini nggak lolos2 bab nya.🙏

__ADS_1


__ADS_2