
Hangat cahaya mentari menyusup masuk ke dalam kamar melalui celah-celah kecil jendela. Merasakan cahaya yang perlahan mulai mengusik tidur nyenyaknya, Stella menggulingkan tubuhnya ke sisi tempat tidur. Sambil menguap lebar, Stella mengambil posisi duduk.
Stella tidak ingat kapan terakhir kali dia tidur senyenyak itu setelah mengetahui tentang pengkhianatan Garry dan Feby. Yang pasti, sudah lama sekali dia tidak tidur nyenyak seperti semalam. Setelah menangis dan mengeluarkan sesak di dadanya, pikiran Stella jauh lebih ringan. Beban yang selama ini dia pikul sendiri di pundaknya seolah berkurang. Itulah kenapa dia dapat tidur nyenyak semalam.
Tok ... Tok ... Tok ....
Stella mengerutkan dahi. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi sekali? Itulah yang ada di pikirannya saat ini. Stella pun bangkit berdiri. Dengan langkah terseok-seok, Stella berjalan menuju ke arah pintu.
Saat membuka pintu, Stella terkejut sekaligus bingung mendapati seorang pelayan penginapan membawa baki berisi makanan.
“Selamat pagi, Nona Stella. Maaf, jika saya mengganggu tidur Anda. Saya ditugaskan untuk mengantarkan sarapan untuk Anda,” ucap pelayan itu sambil tersenyum ramah.
Stella tersenyum canggung. “Maaf, apakah kau tidak salah ruangan? Aku belum memesan room service apa pun,” balas Stella. Dia bingung karena merasa belum memesan sarapan. Bahkan, dia saja baru bangun tidur.
“Ini pesanan dari pria yang menginap di kamar sebelah, Nona,” jawab pelayan itu menjelaskan. “Dia memesankan sarapan ini untuk Anda.”
“Ah, begitu?” Stella menerima baki berisi makanan tersebut. “Baiklah kalau begitu, terima kasih,” ucapnya.
Setelah pelayan pergi, Stella menatap ke kanan dan ke kiri. Dia penasaran siapa yang telah mengirimkan sarapan untuknya. Tapi, jika dipikir lagi, dia seharusnya bersyukur karena dia tidak perlu repot-repot ke kantin penginapan untuk sarapan.
Masuk ke dalam kamarnya, Stella meletakkan baki yang dia bawa ke meja. Awalnya, dia merasa tak nafsu makan. Tapi, setelah melihat makanan yang dipesan adalah makanan kesukaannya, Stella akhirnya tergoda untuk memakannya.
Ketika hendak mengambil sendok, mata Stella tak sengaja melihat sebuah kertas di atas baki. Dia pun mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan yang ada di sana.
__ADS_1
‘Jangan menangis lagi. Hari yang indah sedang menunggumu. D.’
Stella tersenyum, lalu meletakkan surat itu di meja. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri jika semalam akan menjadi tangisan terakhirnya untuk Garry. Mulai hari ini, dia akan memulai kehidupan yang baru dan menikmati liburannya.
*****
“Apakah kau mau naik jetski?” tanya Davin pada Stella yang berjalan di sampingnya.
“Aku tidak bisa mengemudikannya,” jawab Stella singkat.
“Tenang saja, ada aku,” balas Davin. Pria itu melirik Stella. Melihat Stella yang hanya diam saja, dia pun berinisiatif untuk menarik tangan wanita itu. “Ayo!”
Mau tak mau, Stella ikut Davin menuju ke dermaga. Di sana, ada petugas penjaga pantai yang menyewakan jetski. Setelah memakai pelampung, mereka pun naik ke atas jetski.
“Sudah,” jawab Stella singkat.
Menyadari jika Stella berpegangan pada pundaknya, Davin memutar bola matanya. Tapi, dia tidak protes karena dia sadar jika mendekati Stella tidak akan mudah mengingat Stella baru saja disakiti oleh seorang pria.
Davin menyalakan mesin jetski, lalu mengemudikan jetski menyisir sekitar pulau. Stella memejamkan matanya, menikmati angin yang menerbangkan rambutnya, juga air laut yang membasahi kakinya.
Meski belum benar-benar menerima kehadiran Davin, Stella tak menyesal telah mengizinkan Davin menemaninya. Setidaknya, dia tidak merasa kesepian dan menyedihkan lagi. Davin selalu mencari cara untuk menghiburnya dan Stella sangat bersyukur akan hal itu.
“Apakah kau menyukai ini?” tanya Davin.
__ADS_1
“Ya, ternyata seru juga menaiki jetski,” balas Stella.
Davin terkekeh. Dia menambah kecepatan jetski, membuat Stella sontak saja memukul bahunya karena terkejut dan memintanya untuk memelankan laju jetski.
“Apakah kau berniat untuk membunuhku?!” teriak Stella.
Davin tertawa kencang. “Aku suka melihatmu kesal, itu saja,” balasnya jahil.
Hari-hari pun berlalu. Stella benar-benar menikmati liburannya tanpa ada kesedihan di wajahnya. Wanita itu menjalani setiap aktivitasnya tanpa mengingat tentang pengkhianatan Garry dan Feby sama sekali.
Dia tidak tahu apa yang terjadi di hari pernikahan Garry setelah dia membongkar kebusukan Garry dan Feby. Dia juga tidak tahu apakah Garry dan Feby akhirnya menikah atau tidak. Dia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya dan menghindari kabar tentang hari itu.
“Hei, kenapa kau melamun?” tanya Davin.
Stella mengangkat kepalanya, menoleh ke arah balkon kamar Davin. Balkon kamar mereka memang bersebelahan jadi tidak heran jika Davin bisa melihat Stella sedang melamun.
“Aku mengantuk,” jawab Stella singkat.
“Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu ke pesta api unggun malam ini,” ucap Davin. Davin selalu menemani Stella menjalani rutinitasnya di pulau meskipun kerap kali Stella mengabaikannya.
“Ada pesta api unggun?”
“Ya, apakah kau mau ikut?”
__ADS_1