
“Pukul sepuluh nanti Anda memiliki rapat dengan para investor asing, Pak,” ucap Stella, menjelaskan tentang jadwal rapat Davin hari ini.
“Oke. Kau tidak perlu ikut rapat,” balas Davin singkat.
Stella membuka bibirnya, hendak menanyakan alasan Davin. Namun, dia pada akhirnya mengurungkan niatnya dan hanya mengangguk.
Satu minggu telah berlalu semenjak hari di mana Davin mengungkapkan perasaannya kepada Stella. Sebab Stella menolaknya, Davin tampak menjaga jarak dari Stella. Pria itu bahkan kini bersikap cuek dan lebih banyak memilih untuk mengerjakan pekerjaannya tanpa Stella.
Hal tersebut tentu membuat Stella merasa kecewa dan menyayangkan sikap Davin. Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Stella bahkan yang meminta Davin untuk berhenti menyukainya.
Tanpa Stella ketahui, Davin sebetulnya menjauh dari Stella bukan karena dia membenci Stella. Sebaliknya, dia menjauh dari Stella karena dia tak sanggup jika perasaannya untuk Stella semakin besar. Dia takut jika hatinya tak mau berhenti menyukai wanita itu seperti apa yang Stella inginkan.
“Oh, sebelum kau keluar, bisakah kau mengambilkan beberapa dokumen di ruang arsip?” tanya Davin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer sedikit pun.
Stella memaksakan seulas senyum. “Baik, Pak,” jawabnya lalu keluar dari ruang kerja Davin.
*****
__ADS_1
Seorang wanita cantik bertubuh ramping melangkah masuk ke lobi perusahaan. Matanya menyapu ke sekitarnya. Senyuman mengembang sempurna di bibirnya.
“Selamat siang, apakah ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang petugas resepsionis.
“Aku ingin bertemu dengan Davin. Di mana ruangannya?” tanya wanita itu dengan pongah.
“Maaf, apakah Anda sudah memiliki janji dengan Pak Davin sebelumnya?” tanya resepsionis lagi.
“Tidak. Tapi, aku kenal dekat dengan Davin. Apakah aku perlu membuat janji untuk bertemu dengan orang yang aku kenal?”
“Maaf, jadwal Pak Davin sangat padat. Kami tidak bisa mengizinkan tamu masuk tanpa janji,” balas resepsionis tersebut dengan sopan, melarang wanita tadi untuk menemui Davin.
“Maaf, ada apa ini?” tanya Stella, menginterupsi perdebatan yang sedang terjadi di lobi.
“Wanita ini memaksa untuk bertemu dengan Pak Davin padahal saya sudah menjelaskan kalau tamu tanpa janji tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Pak Davin, Bu,” jelas si resepsionis.
Stella memandang wanita tadi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat bagaimana wanita itu memaksa untuk bertemu dengan Davin membuat Stella berpikir jika mungkin wanita itu memiliki urusan penting dengan Davin.
__ADS_1
“Sepertinya rapat Pak Davin dengan investor sudah selesai,” ungkap Stella sambil memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Mari, aku akan mengantarmu ke ruang kerja Pak Davin.”
Stella membawa wanita itu menuju ke ruang kerja Davin sebab sepertinya sangat genting. Namun, pikiran positif Stella tak berhasil baik untuk dirinya sendiri. Stella dibuat menyesali perbuatannya begitu dia mengetahui siapa wanita itu.
“Apakah kau sudah lama bekerja di sini?” tanya wanita tadi begitu mereka memasuki lift.
“Ya. Aku sudah bekerja sebagai sekretaris Pak Davin selama satu tahun,” balas Stella. “Kalau boleh tahu, siapa nama Anda dan ada urusan apa Anda ingin bertemu dengan Pak Davin?”
“Aku Cassandra, mantan kekasih Davin,” balas wanita tadi.
Stella terdiam begitu mendengarnya nama itu. Cassandra adalah nama cinta pertama Davin. Tiba-tiba saja perasaan tak nyaman menyelinap masuk ke hatinya.
Dengan perasaan campur aduk, Stella membawa Cassandra menemui Davin di ruang kerjanya. Begitu melihat Davin, Cassandra langsung berlari dan berhamburan ke dalam pelukan Davin. Stella membulatkan matanya saat melihat itu namun dia memilih untuk tidak menunjukkan rasa tak sukanya.
“Davin, maaf aku dulu meninggalkanmu dan memilih untuk menikah dengan pria itu,” ucap Cassandra.
Davin berdeham, merasa tak nyaman karena Stella melihatnya dipeluk oleh Cassandra.
__ADS_1
“Stella, bisakah kau keluar dari ruanganku? Aku ingin berbicara dengan Cassandra,” ucap Davin.
“Baik, Pak,” ucap Stella sambil berusaha keras menyembunyikan rasa cemburunya.