
Esok harinya.
Sama hal nya dengan Damar yang mengkhawatirkan adiknya, Ane juga jelas mengkhawatirkan adiknya–Stella. Untuk itu Ane datang menemui Stella sebab mereka belum bertemu setelah kejadian tempo lalu.
“Kak Ane? Silakan masuk, Kak,” ucap Stella, membiarkan Ane masuk.
Wanita itu terkejut saat mendapati Ane berdiri di depan pintu apartemennya ketika dia baru saja pulang kantor. Seingatnya, Ane tidak berkata jika dia akan mampir ke apartemen Stella. Untung saja hari ini Stella pulang lebih awal jadi Ane tidak perlu menunggunya terlalu lama. 'Apa ini ada kaitannya dengan Garry yang tidak lagi datang mencari ku?' batinnya.
“Apakah Kak Ane sudah lama menungguku?” tanya Stella begitu dia dan Ane masuk ke dalam apartemennya.
“Tidak.” Ane menggeleng. “Kebetulan tadi aku sedang jalan-jalan di mall dan ingat kalau kau tinggal di apartemen ini sekarang. Jadi, aku sekalian mampir,” balasnya beralasan.
“Seharusnya tadi Kak Ane mengabariku supaya aku bisa memberikan password apartemenku dan Kak Ane tidak perlu menunggu di luar,” ucap Stella sambil terkekeh geli.
Ane ikut tertawa. “Ah, kau ini. Aku tidak keberatan menunggu,” ucap Ane.
Ane dan Stella duduk bersebelahan di sofa.
"Aku merindukanmu, Stella." Ane memeluk Stella, meluapkan rasa rindu dan kekhawatirannya pada adiknya tersebut.
"Aku juga merindukan kakak dan Bella, maaf aku jarang menjenguk kalian," ucap Stella membalas.
Stella menatap Ane dengan tatapan bingung. Dia menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada Ane namun dia ragu.
“Bagaimana liburanmu? Apakah kau sudah lebih tenang sekarang?” tanya Ane.
Stella mengedikkan bahunya.
“Begitulah. Setelah liburan pikiranku jadi lebih terbuka. Sekarang, aku sadar kalau kebahagiaanku lebih penting dari apa pun,” balas Stella sambil tersenyum lembut.
“Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya.”
“Bagaimana kabar Garry, Kak? Beberapa hari lalu dia sempat memintaku untuk kembali padanya tapi aku menolak. Setelah itu, aku tidak pernah melihat dia lagi,” tanya Stella pada akhirnya. Dia tak kuasa menahan rasa penasarannya, bukan bearti dia ingin Garry terus mengejarnya.
“Garry dipecat dari pekerjaannya, Feby juga,” jawab Ane.
__ADS_1
“Dipecat, Kak?” tanya Stella. Matanya membulat sempurna, terkejut dengan jawaban Ane.
“Iya, aku mendengarnya sendiri dari Damar.”
Perlahan, rasa bersalah menyusup di hati Stella. Dia kembali teringat pada komentar-komentar di sosial media mengenai kejadian itu. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, menyadari jika apa yang terjadi pada Garry dan Feby saat ini mungkin memang kesalahannya, karena ulahnya.
“Ini semua salahku, Kak. Jika aku tidak melakukan rencanaku untuk balas dendam, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini,” ucap Stella dengan wajah sedih.
“Stella, jangan menyalahkan dirimu. Apa yang terjadi bukanlah kesalahanmu. Ini semua sama sekali bukan kesalahanmu. Kebusukan mereka tercium oleh banyak orang, sangat wajar jika orang membenci mereka. Jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang menimpa mereka sebab semua yang terjadi pada mereka adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri,” ucap Ane, berusaha meyakinkan Stella jika ini semua bukan salah Stella.
“Tapi, jika aku tidak terobsesi untuk membalas dendam, mungkin keadaannya akan berbeda. Seharusnya aku langsung melabrak mereka saja tanpa perlu mempermalukan mereka. Ya Tuhan, aku benar-benar merasa bersalah,” celoteh Stella penuh sesal.
“Stella, berhenti menyalahkan dirimu. Ingatlah apa yang sudah mereka lakukan padamu. Apa yang terjadi dengan mereka tidak sebanding dengan rasa sakitmu.”
“Tapi—”
“Sudah, tidak usah dipikirkan. Ini semua bukan salahmu, tapi salah mereka sendiri. Feby dipecat karena tidak pernah berangkat bekerja. Sementara Garry dipecat karena selalu terlambat dan melakukan kesalahan di kantor,” jelas Ane.
Stella menghela napas lelah, meski sulit untuk menghilangkan perasaan bersalahnya, tapi Stella berusaha tenang dan mengangguk.
****
Davin memerhatikan Stella yang tengah duduk termenung di balik meja kerjanya. Davin menyadari jika beberapa hari ini Stella tampak sering melamun. Wanita itu bahkan tak terlalu banyak bicara dan lebih banyak menyimak saat sedang rapat, membuat Davin penasaran dengan apa yang mengganggu pikiran wanita tersebut.
Davin menghampiri Stella, lalu duduk di seberang Stella.
“Stella, kau tampak sering melamun akhir-akhir ini,” ucap Davin.
Stella tersentak dari lamunannya, lalu menoleh. “Tidak, Pak. Aku tidak melamun,” ucapnya.
“Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kau bisa bercerita padaku. Kau lupa apa yang pernah aku bilang? Aku akan selalu ada jika kau butuh teman.”
“Maaf, Pak. Tidak sopan jika kita mengobrol di jam kerja. Dan sekali lagi saya sudah mengingatkan Anda untuk tidak membahas apa yang pernah terjadi saat liburan,” balas Stella, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Davin mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
“Hei, ini diluar pekerjaan. Jam kerja sudah selesai dari tiga puluh menit lalu. Kau asyik melamun sampai tidak sadar, rupanya,” sindir Davin.
“Benarkah?” tanya Stella, terkejut. “Maksudku, aku tahu. Aku hanya sedang ingin di sini dulu.” Dia mengoreksi ucapannya sendiri karena tertangkap basah berbohong.
“Stella, tidak usah sungkan. Aku bisa menjadi pendengar yang baik,” desak Davin.
Stella menghela napas lelah. Sepertinya untuk mengalihkan perhatian Davin sangat sulit. Dia tak punya pilihan lain selain berkata jujur sekarang.
“Garry dan Feby dipecat dari pekerjaan mereka. Aku merasa sangat bersalah,” ucap Stella sambil menundukkan kepala. “Jika saja aku tidak mempermalukan mereka, pasti mereka masih bisa berkarier sekarang. Aku merusak hidup mereka.”
“Stella, jangan menyalahkan dirimu,” balas Davin. Davin menyentuh kedua bahu Stella, mengarahkan Stella agar menatapnya.
"Kau sama sekali tidak bersalah."
“Aku harap bisa semudah itu. Tapi, rasanya sangat sulit. Aku tetap saja merasa semua itu karenaku.”
Davin meraih tangan Stella, lalu menggenggamnya dengan erat.
“Apa yang terjadi pada Garry dan Feby adalah konsekuensi dari perbuatan mereka kepadamu. Kau tidak bersalah. Ini memang karma dari Tuhan untuk mereka.”
“Tapi—”
“Tenanglah. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Apa pun yang terjadi dengan mereka sekarang ini bukanlah kesalahanmu, tapi konsekuensi perbuatan mereka sendiri,” sambung Davin, meyakinkan Stella.
Stella mengangguk.
"Ingat, tidak sekali pun kau berniat jahat pada mereka. Kau hanya memberi mereka pelajaran atas apa yang sudah mereka lakukan. Kau sama sekali tidak bersalah. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu, Oke. Semua orang tahu kau tidak bersalah. Berhentilah menjadi orang yang terlalu baik, agar orang-orang tidak memanfaatkan hal itu darimu. Sekarang tenanglah, oke."
Stella kembali mengangguk.
Lagi dan lagi, dia merasa jika Davin selalu berhasil untuk menghiburnya.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
"Lupakan. Ayo aku akan mentraktrikmu makan. Ada tempat baru yang sangat ingin aku datangi tapi belum sempat mencobanya!" Tanpa penolakan, Davin mengajak Stella pergi.
__ADS_1