
“Bagaimana rasanya? Apakah enak?” tanya Davin berharap-harap cemas.
“Ya. Rasanya sangat lezat.” Stella menelan sisa kuenya, lalu melanjutkan ucapannya, “Dari mana kau belajar membuat kue?”
“Saat aku berkuliah di luar negeri, aku mau tidak mau harus belajar memasak. Salah satunya adalah membuat kue,” jelas Davin dengan bangga. “Aku senang jika kau menyukai kuenya.”
“Kue ini lezat. Kapan-kapan kau harus mengajariku cara membuatnya,” balas Stella sambil tersenyum lebar.
Davin memerhatikan Stella yang tengah sibuk melahap kue buatannya. Perasaan hangat menyusupi hatinya tatkala melihat wanita yang dia sukai menikmati kue buatannya. Davin tak menyesal harus melakukan usaha lebih untuk membuat kejutan ulang tahun Stella.
Semakin lama dia bersama dengan Stella, semakin dia menyadari jika perasaan yang dia miliki terhadap Stella tumbuh semakin besar. Perasaan yang awalnya Davin pikir akan pergi seiring berjalannya waktu justru tumbuh menjadi perasaan yang tidak bisa dia sepelekan sama sekali.
‘Ya Tuhan, ingin sekali aku memiliki wanita ini,’ gumam Davin dalam hati.
Jika kalian berpikir jika Davin menyukai Stella karena parasnya saja, maka kalian salah. Karena nyatanya, setiap hal tentang Stella berhasil membuatnya jatuh hati. Mulai dari senyuman Stella hingga kepribadiannya. Semuanya Davin suka.
“Berhenti menatapku seperti itu,” tegur Stella.
__ADS_1
Stella yang sadar jika sedang diperhatikan menghentikan kunyahannya, lalu menoleh. Tepat saat matanya bertemu dengan mata Davin, pria itu mengalihkan pandangannya.
“Menatapmu seperti apa? Aku dari tadi tidak melihatmu,” kilah Davin.
“Sudah, tidak perlu banyak alasan. Aku tahu kalau kau dari tadi menatapku,” balas Stella tak mau kalah. “Kau pasti sedang menunggu momen untuk mengusap noda di bibirku, ‘kan?”
“Kau ini terlalu banyak menonton film, Stella,” ujar Davin lalu tertawa kecil. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Meskipun benar dia menatap Stella, tapi dia tidak menyangka jika Stella berpikir dia melakukannya karena ingin mengusap noda di bibir wanita itu.
Mereka pun mengobrol panjang setelahnya. Sesekali mereka saling ejek dan bercanda.
Hati Davin berbunga-bunga. Tak pernah terpikirkan baginya jika suatu saat dia bisa membuat Stella tersenyum dan tertawa. Karena dari awal mereka saling mengenal, hubungan mereka tidak berawal dengan baik. Stella bahkan dulu sangat ketus padanya karena apa yang dilakukan oleh Davin di Paris beberapa tahun silam.
Wanita itu kembali teringat bagaimana dulu dia begitu membenci Davin karena Davin telah mengaku-ngaku sebagai kekasihnya padahal mereka tak saling mengenal waktu itu.
“Ck, kau dulu terlalu judgemental terhadapku. Padahal, dari dulu juga aku adalah pria yang baik,” ucap Davin seraya berdecap kesal.
“Ah, benarkah? Kenapa aku tidak percaya, ya?” balas Stella lalu mengedipkan sebelah matanya. “Tapi, aku serius. Kau ternyata memang pria yang baik, berbeda sekali dengan ekspektasiku saat kita pertama bertemu.”
__ADS_1
“Jangan terlalu memujiku, aku tidak sebaik itu,” balas Davin pada akhirnya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar wanita itu setelah kau berkata jika aku adalah tunanganmu?” tanya Stella, mengungkit kembali kejadian di masa silam.
Davin mengedikkan bahunya. “Kalau boleh jujur, aku tidak tahu. Setelah hari itu, aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi. Dia bahkan memblokir semua kontakku termasuk akun sosial mediaku. Tapi, sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan dia,” jelas Davin acuh tak acuh.
Stella menelengkan kepalanya. Matanya menyipit tajam saat mendengar penjelasan Davin.
“Dia pasti sangat sakit hati waktu itu,” celetuk Stella.
“Mungkin, entahlah. Aku tak tahu,” balas Davin cuek.
Stella menyandarkan tubuhnya pada lengan kursi. Sambil menatap Davin penuh selidik dia berkata, “Kau sepertinya membenci wanita itu.”
“Membenci adalah sebuah kosa kata yang terlalu kuat. Kurasa aku hanya tidak nyaman dengan kehadiran dia,” sanggah Davin.
Dahi Stella berkerut samar. “Memangnya apa yang dia lakukan?” tanya Stella penasaran.
__ADS_1
“Hari itu, sebenarnya aku dan dia sudah putus. Aku baru berkencan dengan dia dua minggu, tapi aku sudah tidak kuat dengan sikapnya. Wanita itu terlalu posesif, aku tidak menyukai sifat itu. Aku sudah memutuskannya tapi dia terus-menerus mengejarku. Maka dari itu saat melihatmu aku langsung mengaku jika kau adalah tunanganku,” jelas Davin.
“Apakah kau pernah mencintai seseorang dan tidur dengan wanita, Vin?” tanya Stella, membuat Davin bungkam.