Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Berniat Melamar Stella


__ADS_3

Garry mengusap wajahnya frustrasi. Ucapan teman-temannya terus terngiang-ngiang di kepalanya, membuat Garry tak bisa berhenti memikirkan hal tersebut.


Saran dari temannya tidak terlalu buruk. Melamar Stella mungkin akan membuat Stella percaya dengan keseriusannya terhadap hubungan mereka. Namun, ada keraguan yang muncul di hatinya. Bagaimana jika Stella menolaknya? Bagaimana jika Stella sudah tidak mau memiliki hubungan dengannya? Karena kalau boleh Garry akui, sikap Stella belakangan ini membuat Garry kalang kabut. Pria itu takut jika Stella tidak mencintainya lagi.


“Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melamar Stella seperti saran teman-temanku?” gumam Garry.


Seharian bekerja, Garry sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pria itu terus memikirkan tentang nasib hubungannya dengan Stella yang tidak jelas ini. Dia tidak tahu apa alasan Stella berubah. Yang jelas, Garry tak suka dengan sikap acuh tak acuh Stella terhadapnya.


Dering suara ponsel Garry terdengar. Buru-buru Garry mengecek ponselnya, berharap jika Stella yang menelepon. Tapi, saat melihat jika yang menghubunginya adalah Feby, Garry sontak mematikan panggilan tersebut.


“Aku harus membicarakan ini kepada Mama dan Papa,” gumam Garry.


Garry menyambar ponselnya. Setelahnya, ia menelepon ayahnya.


“Halo, Gar. Ada apa?” sahut sang papa, Deo.


“Pa, apakah nanti sore Papa ada waktu? Aku ingin membicarakan sesuatu kepada Papa dan Mama. Sekaligus meminta pendapat, sih,” balas Garry.


“Nanti sore Papa dan Mama akan ke rumah Damar. Kau datang saja ke sana jika ingin bertemu dengan kami,” jawab Deo.


“Baiklah, Pa. Nanti sepulang kerja aku akan ke rumah Kak Damar,” balas Garry lalu mematikan panggilan tersebut.


Setelah itu, Garry meletakkan ponselnya ke atas meja kerjanya kembali. Ia menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Sambil menatap kosong ke arah komputer, ia kembali memikirkan tentang niatnya untuk melamar Stella. Tidak ada cara lain. Hanya ini satu-satunya cara yang dapat Garry lakukan untuk meyakinkan Stella tentang keseriusannya.


*****

__ADS_1


“Halo, Feb? Ada apa?”


Dengan malas Garry menjawab telepon dari Feby.


Pria itu baru saja pulang bekerja dan saat ini sedang berada di dalam perjalanan menuju ke rumah Damar. Sebab Feby tak berhenti menelepon, Garry mau tak mau akhirnya menepikan mobilnya dan mengangkat telepon tersebut.


“Apakah kita bisa bertemu malam ini?” tanya Feby.


“Aku malam ini ke rumah Kak Damar,” jawab Garry tanpa basa-basi sedikit pun.


“Ah, begitu? Apakah kau tidak bisa datang setelah dari rumah Kak Damar?”


Meski ditolak, Feby tetap bersikukuh untuk mengajak Garry bertemu.


Garry menghela napas. “Maaf, Feb. Malam ini benar-benar tidak bisa. Aku tutup dulu teleponnya, aku sedang di jalan.”


Tut. Garry mematikan panggilan tanpa menunggu Feby menyelesaikan ucapannya. Sesudah itu, ia langsung mengendarakan mobilnya kembali menuju ke rumah Damar.


Saat ia sampai, dia mendapati orang tuanya, Damar, Ane, dan Bella tengah berbincang-bincang santai di ruang tamu. Ia pun ikut bergabung dengan mereka dan duduk di kursi yang kosong.


“Kau ke sini hanya sendiri? Di mana Stella?” tanya Yanti, ibu Garry dan Damar.


Orang tua Garry memang begitu menyukai Stella. Dari awal mereka bertemu dengan Stella, mereka sudah menganggap Stella seperti anak mereka sendiri. Garry bahkan sempat terkejut saat melihat bagaimana Stella mudah akrab dengan orang tuanya.


“Stella sedang pulang kampung, Ma,” jawab Garry.

__ADS_1


“Sayang sekali. Padahal aku sudah lama tidak bertemu Stella,” balas Yanti.


“Tenang saja, Ma. Stella sebentar lagi pasti kembali ke sini,” ucap Garry, meskipun dia sendiri juga tidak yakin dengan apa yang dia katakan.


“Apa yang ingin kau bicarakan kepada kami, Gar?” tanya Deo. Ia sudah penasaran dengan apa yang ingin Garry katakan dari tadi.


“Ini mengenai Stella, Pa.”


“Stella? Ada apa dengan Stella?” sahut Ane, lalu diam-diam mendengus dingin.


Semenjak mengetahui tentang perselingkuhan Garry dan Feby, Ane jadi sedikit sensitif setiap dia mendengar Garry menyebut nama Stella.


“Stella tidak apa-apa, Kak.” Garry tersenyum ke arah Ane, lalu kembali menatap orang tuanya. “Aku berniat untuk melamar Stella.”


Pernyataan itu membuat Ane tersedak salivanya sendiri. Ia terkejut bukan main saat mendengar ucapan Garry. Bagaimana bisa seseorang yang telah berkhianat justru berniat untuk menikahi wanita yang dia selingkuhi? Itulah yang ada di pikiran Ane saat ini.


“Melamar?”


Yanti dan Deo saling berpandangan, lalu tersenyum lebar.


“Tentu saja kami akan mendukungmu. Kami sudah tidak sabar untuk memiliki menantu seperti Stella,” balas Yanti.


“Kapan rencananya kau akan melamar Stella?” tanya Deo.


“Secepatnya, Pa. Kemungkinan aku akan melamar Stella di kampung halamannya dulu. Baru nanti meresmikannya lagi di Jakarta,” jelas Garry.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu, kami akan mendukungmu.”


Semua orang di sana tampak senang dan mendukung keputusan Garry. Berbeda sekali dengan Ane yang hanya diam karena sadar jika itu semua sudah terlambat sebab kini, rencana Stella akan segera berhasil.


__ADS_2