
“Sebentar lagi kita akan punya menantu, Pa!”
Rianti, ibu Davin berseru pada suaminya. Hatinya berbunga-bunga. Sudah bertahun-tahun dia menunggu momen seperti ini. Sang putra selama ini memang kerap kali menjalin hubungan dengan wanita yang menarik hatinya. Akan tetapi, baru kali ini Davin membicarakan wanita secara serius kepadanya setelah kejadian dulu dimana kekasihnya menikah dengan pria lain.
Rianti sangat senang apalagi saat Davin juga tadi sempat meminta restu darinya, yang menandakan jelas jika Davin tak bermain-main kali ini.
“Kita berdoa saja semoga Davin bisa segera mendapatkan hati Stella, Ma. Semoga juga Davin serius pada Stella dan tidak membuat kita malu pada akhirnya,” ucap Dion tanpa mengalihkan tatapannya dari koran yang sedang ia baca.
“Kalau begitu, aku akan menghubungi Dini. Dia harus tahu mengenai rencana Davin untuk mendekati Stella. Restu dari kedua orang tua sangat penting, ‘kan, Pa?” ucap Rianti sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dion terkekeh mendengar celoteh sang istri. Dia mengangguk setuju pada ucapan Rianti.
Mengantongi izin suaminya, Rianti langsung menelepon Dini. Dengan senyum yang merekah dia menunggu panggilan tersebut diangkat.
“Halo, Dini. Apakah kau sedang sibuk?” sapa Rianti begitu telepon mereka terhubung.
“Halo, Rianti. Tidak, aku sedang tidak sibuk. Tumben sekali kau menelepon, ada apa? Apakah ada sesuatu yang penting?” balas Dini bertanya.
"Ya, ini sangat penting." Ucapan Rianti jelas membuat Dini semakin penasaran. Meski cukup saling mengenal, tetapi tidak ada hal yang begitu serius antara mereka selama ini, mendengar Rianti berkata ada sesuatu yang penting membuat Dini bertanya-tanya.
"Jangan membuatku penasaran. Aku harap bukan sesuatu yang buruk!"
Rianti tertawa menanggapinya.
“Apakah kau tahu kalau Stella dan Davin bekerja di tempat yang sama sekarang?” tanya Rianti memulai pembahasannya.
“Ah, iya. Stella sempat bercerita kalau dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Davin. Tapi, aku tidak bertanya secara detail tentang hal itu.” Dini yang sempat tenang saat Rianti tertawa sebelumnya menjadi gelisah setelah tahu jika pembahasan mereka tentang Stella–putrinya. "Ada apa dengan putriku?" tanyanya lagi.
“Hei. Tenanglah! Tidak perlu tegang seperti itu. Ini bukan sesuatu yang buruk, ini justru kabar baik untuk kita," ucap Rianti mengerti kegelisahan temannya itu.
__ADS_1
Helaan napas panjang terdengar dari Dini yang berusaha menuruti ucapan Rianti.
"Sepertinya bekerja di tempat yang sama dengan Stella membuat Davin mengalami cinta lokasi,” ucap Rianti sambil terkekeh-kekeh.
“Maaf, aku tidak mengerti. Apa maksudmu?” Dini tak mengerti apa maksud ucapan Rianti.
“Davin baru saja menelepon dan mengatakan niatnya untuk mendekati Stella. Dia menyukai putrimu. Bukankah itu kabar yang bagus? Itu artinya, kita akan bisa segera berbesan,” jelas Rianti tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya menyampaikan kabar tersebut.
Di seberang sana, Dini yang mendengar ucapan Rianti melompat berdiri. “Benarkah?!” serunya yang mulai heboh.
“Iya. Tadi, Davin bertanya bagaimana rasanya jatuh cinta dan setelah aku menjelaskan semuanya, dia bilang kalau dia ingin mendekati Stella,” jawab Rianti. “Davin bukanlah pria yang mudah jatuh cinta. Baru kali ini putraku kembali jatuh cinta setelah dulu cinta pertamanya gagal dan aku merasa sangat senang karena orang yang disukai putraku adalah Stella. Putri dari orang yang aku kenal."
“Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka kita bisa berbesan. Semoga Davin bisa mengambil hati Stella dan segera menikah dengannya,” balas Dini turut senang.
"Itu artinya kau juga merestui hubungan mereka jika Davin berhasil?" tanya Rianti memastikan.
Wanita itu tanpa pikir panjang langsung menyetujui Davin dan Stella. Dia berharap jika pria yang dia kagumi kehebatannya itu bisa segera mengambil hati Stella dan membuat Stella melupakan Garry. Dia ingin Stella keluar dari kesedihannya, dia ingin putrinya segera bahagia kembali.
Obrolan Dini dan Rianti dilanjutkan dengan angan-angan kosong mereka tentang hubungan Davin dan Stella. Meski takdir belum pasti berpihak pada mereka, Dini dan Rianti berharap jika Tuhan mau menyatukan Davin dan Stella.
“Siapa yang menelepon, Ma?” tanya Anton yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Dini menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian menceritakan apa yang barusan dia bicarakan dengan Rianti.
“Rianti, ibunya Davin. Dia bercerita kalau Davin sedang berusaha mendekati Stella, Pa,” jawab Dini dengan semangat bercerita.
“Benarkah? Bagus itu. Dengan begitu Stella bisa segera melupakan masalahnya dengan Garry. Ditambah lagi kamu sudah lama menyukai Davin,” balas Anton tersenyum menyindir istrinya.
Dini tersenyum. “Betul sekali, Pa. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar perkembangan hubungan mereka,” ucap Dini.
__ADS_1
*****
Garry menatap kosong pada layar komputernya. Pikiran pria itu melalang buana, kembali pada momen di mana Stella menolak untuk kembali padanya.
Dia tahu kalau kesalahannya sangat besar dan mustahil termaafkan. Tapi, Stella adalah satu-satunya wanita yang mengisi ruang hatinya. Dia tidak akan bisa hidup tanpa Stella. Baginya, Stella seperti napas dalam hidupnya. Tanpa Stella, Garry tak tahu bagaimana cara melanjutkan kehidupannya.
‘Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau kembali padaku, Stella? Apakah aku benar-benar harus menyerah sekarang? Tapi, aku sangat mencintaimu,’ batin Garry dalam hati.
Akibat sering melamun di jam kerja, Garry tak pernah menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Pekerjaannya menumpuk setiap harinya. Tapi, seolah mati rasa, pria itu tak dapat berpikir jernih dan kembali bekerja. Sebaliknya, dia justru duduk diam sambil memandang komputernya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Ketukan di pintu membuat Garry terlonjak kaget. Pria itu tersadar dari lamunannya kemudian berkata, “Masuk.”
Kepala HRD perusahaan Garry masuk kemudian meletakkan sebuah surat di atas meja kerja Garry.
"Apa ini?" tanya Garry mulai merasakan perasaan tak enak di hatinya.
"Bacalah sendiri!" jawab pria yang masih berdiri di depan meja kerja Garry.
Garry mengambil surat tersebut lalu membacanya. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang barusan dia baca.
“Saya dipecat, Pak?” tanya Garry.
“Pak Direktur sudah memberikanmu kesempatan terakhir kemarin tapi kau malah menyia-nyiakannya. Pekerjaanmu kacau dan kau tidak bisa diandalkan lagi. Maaf, Pak Garry, kau tidak bisa melanjutkan pekerjaanmu di sini lagi.”
“Tapi, Pak—”
“Tidak ada tapi. Keputusan ini sudah diambil secara tegas oleh Pak Direktur. Saya hanya bisa menyampaikan dan melakukan perintah Direktur. Anda dipecat.” Garry terdiam lemas mendengarnya.
__ADS_1