Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Pendapat Orang Tua


__ADS_3

Selama meeting berlangsung, Davin tak bisa mengalihkan pandangannya dari Stella yang sedang memimpin presentasi. Pria itu merasa kagum dengan bagaimana Stella menjelaskan tiap detail dari proyek baru mereka. Dia juga kagum dengan bagaimana Stella menjawab pertanyaan pegawainya yang lain tanpa harus bertanya ulang padanya, seolah Stella tahu apa yang diinginkan oleh Davin mengenai proyek ini.


“Pak Davin, apakah Anda ingin memberikan sebuah masukan?”


Pertanyaan itu membuat Davin tersentak dari lamunannya. Pria itu membetulkan posisi duduknya, lalu berdeham.


“Tidak. Apa yang kau jelaskan dalam presentasi ini sudah semua dengan apa yang aku harapkan. Mungkin sekarang kita harus membahas mengenai finansial yang akan dibutuhkan untuk proyek ini,” balas Davin.


Pegawai dari divisi finansial mengambil alih untuk mempresentasikan perkiraan finansial yang dibutuhkan untuk menggarap proyek baru mereka. Davin menyimak presentasi tersebut sambil sesekali melirik Stella yang tengah merangkum apa yang disampaikan.


Usai rapat, Stella dan Davin kembali ke ruang kerja mereka. Stella mendaratkan pantatnya di kursi, lalu menyandarkan tubuhnya.


“Apakah kau sengaja ingin mengerjai ku?” tanya Stella, kesal dengan Davin yang tiba-tiba saja memintanya mewakili Davin untuk memimpin rapat.


“Kode etik pegawai, tidak boleh protes dan menolak permintaan atasan,” balas Davin cuek.


Stella memutar bola matanya.


“Kau punya potensi besar, Stella. Aku hanya mendorong potensi itu supaya bisa keluar,” sambung Davin.


Stella menghela napasnya. Dia mengedikkan bahunya. Mungkin ucapan Davin ada benarnya. Karena selama ini Stella tak tahu jika dia bisa memimpin sebuah rapat dan ternyata rapat tadi berjalan dengan baik.


Dari tempatnya duduk, Davin tersenyum. Dia suka melihat wajah kesal Stella. Wanita itu selalu menggembungkan pipinya dengan wajah merah padam. Sangat menggemaskan, pikir Davin.


“Apa jadwalku setelah ini, Stella?” tanyanya.


“Anda memiliki rapat dengan investor, Pak,” jawab Stella, kembali menggunakan bahasa formal. “Aku harap Anda tidak memintaku untuk menggantikan Anda kali ini.”


Davin terkekeh. “Tenang saja. Aku hanya ingin kau ikut rapat nanti,” balas Davin.


“Baik, Pak,” jawab Stella sambil mengembuskan napas lega.

__ADS_1


Usai Davin memeriksa beberapa dokumen yang harus dia tandatangani, mereka pun bersiap untuk keluar dari ruang kerja. Sebelum keluar, Stella menghentikan langkah Davin.


“Dasi Anda belum rapi, Pak,” ucap Stella.


Davin bingung, dia lantas mengencangkan dasinya secara asal, membuat kerah kemejanya justru terlipat ke dalam.


Stella terkekeh. “Maaf,” ucapnya lalu membantu Davin merapikan dasinya.


Davin menahan napasnya. Berada dalam posisi sedekat ini dengan Stella membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Tatapan matanya terpaku pada Stella yang tampak berkonsentrasi merapikan dasinya.


Jika sebelumnya Davin hanya peduli dan tertarik pada Stella, hari ini Davin baru sadar jika dia mulai menyukai Stella. Perasaan sukanya terhadap Stella bukan perasaan yang dia rasakan saat menjadi casanova di luar negeri yang hanya sekedar ingin berkencan lalu putus. Tapi, kali ini dia benar-benar menyukai Stella dari lubuk hati terdalamnya.


“Sudah, Pak. Mari, kita ke ruang meeting,” ucap Stella.


Davin berdeham, lalu dengan canggung mengangguk dan keluar dari ruang kerja mengekori Stella.


‘Sial, apa yang sudah Stella lakukan padaku sampai aku jadi seperti ini? Apa ini benar-benar perasaan suka?’ tanyanya dalam hati.


Malam harinya, setelah pulang dari kantor Davin menelepon orang tuanya. Pria itu ingin kembali memastikan apakah perasaan yang dia rasakan pada Stella memang nyata atau tidak dengan meminta pendapat orang tuanya.


“Halo, Davin?” sapa ibu Davin.


“Halo, Ma,” balas Davin.


“Tumben sekali kau menelepon dulu. Biasanya, kau bahkan sulit dihubungi,” ucap ibunya seraya terkekeh kecil.


“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, Ma.”


Davin melepaskan dasinya, kemudian melipat lengan panjang kemejanya sampai ke siku.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya ibunya.

__ADS_1


Davin menggaruk tengkuknya. Sebetulnya dia malu ingin mengatakannya karena dia tidak pernah membicarakan tentang wanita kepada orang tuanya, terlebih selama ini Davin hampir tidak pernah mengejar wanita, justru wanita lah yang selalu mengejarnya.


“Kenapa kau malah diam? Jangan membuat Mama khawatir, Davin,” desak ibunya.


“Ma, bagaimana rasanya jatuh cinta?” tanya Davin membuat ibunya tertawa.


"Ma, seperti apa jatuh cinta?" ulang Davin bertanya.


“Wah, wanita mana yang akhirnya berhasil membuat putraku jatuh cinta?”


Bukannya menjawab pertanyaan Davin, ibunya justru balik bertanya. Davin berdecap kesal. Dia jadi menyesal telah menanyakan hal konyol itu pada ibunya.


“Ma, jawab saja pertanyaanku,” gerutu Davin kesal.


Ibunya terdengar terkekeh. “Kalau kau jatuh cinta, kau akan merasa peduli dengan orang itu. Kau juga akan melakukan apa saja untuk tidak membuatnya sedih, melindunginya, dan memerhatikannya. Jantungmu juga akan berdetak cepat di dekat dia. Jadi, siapa wanita ini? Apa benar kau sedang jatuh cinta?”


"Ma, aku merasakan perasaan itu sekarang," jujur Davin.


"Siapa dia?"


“Stella, Ma. Aku berniat untuk serius mendekati Stella. Aku menyukainya,” jawab Davin tanpa ragu.


“Stella? Maksudmu putri Dini dan Anton?”


“Iya, Ma.”


“Papa setuju kalau kau ingin mendekati Stella,” sahut ayahnya yang mendengar percakapan Davin dan ibunya karena ibunya men-loudspeaker telepon tersebut.


"Papa?" beo Davin.


“Kau sudah dengar jawabannya, ‘kan? Kami setuju kalau kau mendekati Stella, Davin. Dia gadis yang cantik, dia juga baik. Terlebih kita satu kampung dan kami mengenal baik keluarganya," timpal ibunya seakan memberi semangat baru untuk Davin yang tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


Davin tersenyum senang. Restu orang tuanya sudah dia kantongi. Sekarang, saatnya dia mencuri hati Stella.


__ADS_2