Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Menolak Garry


__ADS_3

“Tapi, kenapa, Stella?”


Pertanyaan Garry membuat Stella menghela napas panjang.


“Apakah ucapanku masih belum jelas? Aku sudah tidak mencintaimu,” ucap Stella. Dia menatap lurus pada manik mata Garry agar pria itu tahu jika dia tidak main-main dengan ucapannya. “Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai.”


“Stella, kita bisa memulai semuanya dari nol. Aku sudah berubah, aku yakin kita bisa mengulangi semuanya dari awal,” ucap Garry, masih enggan merelakan Stella.


Stella menggeleng.


“Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Selamat tinggal, Gar,” ucap Stella lalu masuk ke dalam kosannya dan menutup pintu gerbang.


Garry tak lagi mengejar Stella. Pria itu hanya diam sambil memerhatikan Stella masuk ke dalam kosannya. Hatinya mencelos. Rasa sakit dan kecewa bercampur menjadi satu. Tapi, di posisinya yang seperti ini, dia tidak bisa menyalahkan Stella. Dia juga tidak mungkin memaksa Stella untuk mencintainya jika Stella tidak mau.


Di sisi lain, Stella baru bisa bernapas lega setelah dia masuk ke dalam kamar kosnya. Dia menutup pintu rapat-rapat, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur.


Tak dapat memejamkan mata sebab hatinya terasa tidak tenang. Stella pun mengambil laptop dan menghubungi orang tuanya melalui Skype.


“Halo, Stella. Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Anton. Pria itu tampak berjalan menuju dapur kemudian memperlihatkan Dini yang sedang memotong bahan-bahan makanan. “Ma, Stella menelepon.”

__ADS_1


Stella membalas sapaan orang tuanya. Mereka mengobrol ringan sejenak untuk membicarakan kabar satu sama lain. Hingga akhirnya, Stella tak bisa menahan lagi untuk mengungkapkan apa yang sedang mengganggu pikirannya.


“Ma, Pa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucap Stella.


Anton dan Dini tampak mengerutkan dahinya. Dini bahkan sampai mematikan kompor karena merasa jika ada hal penting yang ingin putrinya katakan dan dia tidak ingin masakannya gosong karena itu.


“Ada apa, Stella?” tanya Dini dengan mimik wajah penuh tanda tanya.


“Tadi, saat pulang dari kantor Garry menemuiku,” ucap Stella.


“Bukannya Garry sudah pindah?” beo Dini bingung.


“Memang. Garry memang sudah pindah. Hari ini dia kembali dan langsung menemuiku,” jelas Stella.


“Apa yang dia katakan padamu, Nak?” tanya Anton. Meski sebagai seorang ayah dia tak banyak berkomentar, dia tetaplah seorang ayah yang protektif kepada putrinya. Dia tidak mau Garry kembali menyakiti Stella.


“Dia berkata jika sekarang dia sudah sukses, sudah berubah lebih baik, dan dia berkata jika dia ingin menikahiku.”


Raut terkejut jelas tampak terlukis di wajah orang tua Stella. Dini bahkan tampak menutup mulutnya dengan telapak tangan saking terkejutnya.

__ADS_1


“Aku menolaknya, tentu saja. Aku sudah tidak mencintai Garry lagi,” sambung Stella.


“Kami rasa itu adalah keputusan terbaik untuk masa depanmu, Stella,” balas Dini yang dihadiahi anggukan setuju dari Anton.


“Ma, Pa, bagaimana jika aku mencintai Davin? Apakah menurut Papa dan Mama aku sudah siap untuk membuka hati lagi?” tanya Stella.


Anton dan Dini tersenyum.


“Stella, yang tahu apakah kau siap atau tidak adalah dirimu sendiri,” jelas Anton. “Coba kau pejamkan matamu dan bertanya pada dirimu sendiri apakah kau sudah siap untuk jatuh cinta lagi atau belum.”


Stella melakukan seperti apa yang diperintahkan ayahnya. Senyum manis terukir di bibirnya beberapa detik setelahnya. Ia pun membuka mata dan berkata, “Sepertinya aku jatuh cinta pada Davin, Ma, Pa.”


Dini terkekeh. “Kami senang jika pria yang berhasil mengetuk pintu hatimu lagi adalah Davin. Kami akan memberikan restu pada hubungan kalian,” ucapnya.


Sementara itu, malam itu juga, Garry yang kecewa dengan jawaban Stella langsung memesan tiket pesawat menuju ke kota di mana dia selama ini tinggal dan membangun kariernya. Pria itu tidak bercerita banyak pada orang tuanya mengenai apa yang terjadi padanya dan Stella. Dia hanya berkata jika dia akan pergi karena Stella tak lagi menginginkannya.


Di saat yang sama, Davin juga sedang berjalan cepat masuk ke dalam bandara. Rasa kecewa membuncah di hatinya karena dia pikir Stella akan menikah dengan Garry.


Untuk itulah Davin memilih untuk menenangkan diri tanpa mendengar penjelasan Stella terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2