Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Memulai Kisah Baru


__ADS_3

Sekarang sudah pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Stella berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang kerjanya. Sesekali, dia akan mengintip keluar dan memeriksa ke ruangan Davin apakah pria itu sudah datang atau belum. Hampir tiga jam menunggu dengan gelisah, Stella mulai menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan pria itu. Tidak biasanya Davin terlambat bekerja sampai tiga jam lamanya. Stella yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Davin.


Tak kunjung melihat batang hidung Davin, Stella memutuskan untuk menemui bawahan Davin yang biasanya bertugas untuk menerima telepon dadi klien-klien penting Davin.


“Selamat pagi, Bu Stella. Apakah ada yang bisa aku bantu?” tanyanya.


“Selamat pagi. Aku ingin bertanya, apakah kau tahu di mana Pak Davin saat ini? Mungkin dia meneleponmu dan berkata jika dia izin atau semacamnya,” tanya Stella.


“Pak Davin sedang ada pekerjaan di luar kota saat ini.”


“Pekerjaan di luar kota? Kenapa aku tidak diberitahu? Bukankah aku sekretarisnya?” tanya Stella bingung. Selama satu tahun bekerja dengan Davin, tidak pernah sekali pun Davin pergi ke luar kota tanpa pemberitahuan kepada Stella.


“Maaf, tapi hanya itu yang aku tahu.”


“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih,” ucap Stella lalu kembali ke ruang kerjanya.


Stella tak lantas menyerah. Dia pun memeriksa jadwal Davin yang biasanya dia catat. Di dalam catatannya, tidak ada satu jadwal pun yang menyebutkan bahwa Davin memiliki pekerjaan di luar kota dalam waktu dekat.


Deg!


Jantung Stella berhenti berdetak saat dia mengingat jika semalam Davin pergi setelah dia turun untuk berbicara dengan Garry.


 “Apakah Davin sengaja menghindariku?”


Meski terdengar konyol, Stella percaya pada intuisinya.


Semalam, Davin sempat berkata jika Stella masih mencintai Garry maka Davin akan menyerah. Dan bodohnya, Stella tidak memberikan jawaban pasti kepada Davin. ‘Dia pasti menghindariku karena aku tidak memberinya kepastian,’ pikir Stella.


Tanpa berpikir panjang, Stella lantas menghubungi ibunya.


“Halo, Stella. Ada apa?” tanya Dini begitu sambungan telepon mereka terhubung.


“Ma, aku dengar dari salah satu pegawai kantor jika Davin berada di luar kota. Tapi, Davin tidak memiliki jadwal pekerjaan di luar kota. Apakah mungkin Davin pulang ke Jambi?” tanya Stella 

__ADS_1


“Tunggu, tunggu. Memangnya apa yang terjadi?” tanya Dini bingung.


“Aku juga tidak tahu, Ma. Aku rasa Davin menghindariku,” celoteh Stella, berusaha menahan emosinya supaya dia tidak menangis.


“Stella, kau tenangkanlah dirimu dulu. Mama akan mencari tahu apa yang terjadi,” ucap Dini.


Sesudah Stella mengucapkan terima kasih, Dini mematikan sambungan telepon mereka.


Tak sampai lima belas menit, Stella mendapati ponselnya berdering. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Stella mengangkat panggilan dari ibunya.


“Ma? Apakah Mama sudah tahu di mana Davin?” tanya Stella.


“Mama mendapatkan informasi dari orang tua Davin kalau Davin saat ini sedang menenangkan diri. Davin pikir kau menerima lamaran Garry,” jelas Dini.


Stella mengusap wajahnya frustrasi. “Tapi, aku tidak menerima Garry, Ma,” rengek Stella.


“Apakah kau tahu di mana Davin mungkin berada saat ini untuk menenangkan diri? Jika kau tahu, kenapa kau tidak temui dia saja?” saran ibunya.


“Ma, sepertinya aku tahu di mana Davin berada saat ini.”


Seolah tahu di mana Davin berada, Stella buru-buru memesan tiket pesawat menuju ke pulau di mana dia dulu menenangkan diri. Dia tidak mau membuang banyak waktu lagi. Dia harus menjelaskan segalanya kepada Davin sebelum dia terlambat.


Intuisi seseorang yang sedang jatuh cinta memang tidak pernah salah.


Stella menghembuskan napas lega ketika dia melihat Davin tengah berdiri di tepi pantai sambil mengucapkan tentang kesedihannya seolah dia sedang bercerita pada ombak yang menyapu telapak kakinya.


Posisi Davin yang memunggungi Stella membuat pria itu belum menyadari kehadiran Stella. Menarik napas dalam-dalam, Stella pun berjalan mendekati Garry dan berhenti tepat di belakang pria itu.


“Aku mencintaimu, Vin,” ucap Stella tiba-tiba. Dia memeluk Davin dari belakang. Dia bisa merasakan tubuh Davin menegang tepat saat dia memeluk pria itu.


Davin menahan napasnya. Dia terkejut saat mendengar suara tersebut dan berpikir jika dia sedang berhalusinasi saja. Namun, pelukan di tubuhnya terasa sangat nyata. Tapi setelah membalik tubuhnya ....


Davin langsung disambut oleh ciuman Stella. Pria itu hanya bisa membelalakkan matanya sambil memproses apa yang sedang terjadi. ‘Bagaimana Stella bisa tahu aku ada di sini?’ tanya Davin dalam hati.

__ADS_1


“Stella? Kau benar-benar nyata? Aku tidak sedang bermimpi?” tanya Davin begitu Stella mengakhiri ciuman itu.


Stella tersenyum. “Aku di sini, Vin. Untukmu.”


“Tunggu, bukankah tadi malam kau dan Garry ....” Davin menghentikan kalimatnya, tak sanggup untuk membicarakan apa yang terjadi tadi malam.


Stella menggeleng. “Aku menolak lamaran Garry. Aku berkata padanya kalau aku sudah tidak mencintai dia lagi,” jelas Stella.


Rasa kecewa yang awalnya menguasai hati Davin perlahan tergantikan dengan bahagia yang menggebu-gebu. Senyuman tak bisa dia tahan lagi. Dia pun kini menatap Stella sambil tersenyum senang.


“Kau tahu kenapa aku menolak Garry?”


“Kenapa?”


“Karena aku sekarang jatuh cinta padamu. Mana mungkin aku menikah dengan pria lain di saat kau adalah satu-satunya pria yang mengisi hatiku saat ini?”


Davin menangkup wajah Stella, lalu mendaratkan sebuah ciuman pada bibir manis wanita tersebut.


“Aku sangat mencintaimu, Stella.”


“Aku juga mencintaimu, Davin.”


Hari itu, di tempat di mana kedekatan mereka dimulai, dua sejoli itu juga memulai kisah yang baru. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi, satu hal yang pasti, mereka akan selalu mendampingi satu sama lain hingga maut memisahkan mereka.


Stella tersenyum lebar seiring dengan jemarinya yang bertautan pada jemari Davin.


Setelah melewati badai yang memporak-porandakan hatinya, kini Stella akhirnya mendapatkan pelangi indah yang akan menghiasi hidupnya dengan Davin.


Hati Stella mungkin pernah hancur. Tapi, dia percaya jika Davin bisa mengembalikan kepingan hatinya yang pernah hancur hingga menjadi utuh kembali.


—TAMAT—


Hai kakak semuanya, mampir dan bantu ramaikan juga ceritaku yang lain ya kak, siapa tau kalian suka. Judulnya "The Billionaire's Scandal" Di tunggu.🥰Terima kasih semuanya.

__ADS_1


__ADS_2