
Stella baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika dia melihat Davin berdiri di depan pintu lift. Buru-buru wanita itu kembali masuk ke dalam ruang kerjanya sebelum Davin melihatnya. Dari kaca ruang kerjanya, Stella mengamati keadaan di luar. Begitu Davin masuk ke dalam lift, barulah Stella keluar dari ruang kerjanya lagi.
“Huft, untung saja Davin tidak melihatku,” ucap Stella. Ia bernapas lega karena dia tidak perlu berinteraksi dengan Davin setelah kejadian tadi siang. Dia masih belum tahu apa yang harus dia lakukan setelah ciuman mereka. Dia merasa sangat gugup.
Sambil menundukkan kepala, Stella melangkah menuju ke depan lift.
“Hai, Stella,” ucap Davin dari dalam lift, membuat Stella membulatkan matanya.
“D-Davin?” balas Stella bingung. Dalam hati dia bertanya bukankah tadi Davin sudah pergi? Bagaimana bisa pria itu masih berada di dalam lift?
“Aku tadi tidak sengaja melihatmu. Aku pikir, tidak ada salahnya jika aku menunggumu,” balas Davin.
“A-aku ... sebenarnya aku masih ada urusan,” ujar Stella, mencari alasan untuk menghindari Davin.
“Urusan apa? Bukankah pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Davin sambil mengerutkan dahinya.
Stella memejamkan matanya. “Ha! Iya. Aku lupa,” balas Stella lalu mau tak mau dia masuk ke dalam lift bersama dengan Davin meskipun jantungnya terus berdetak tak karuan.
__ADS_1
Hari-hari pun berlalu, Stella selalu menghindar setiap kali dia bertemu dengan Davin. Dia bahkan selalu mencari-cari alasan supaya dia tidak perlu mengobrol lama dengan Davin, meskipun itu menyangkut tentang pekerjaan. Stella melakukan hal tersebut karena dia merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar setiap kali dia mengobrol dengan Davin dan mengingat ciuman mereka kala itu.
Hal sebaliknya justru dilakukan oleh Davin. Semakin Stella menghindar darinya, maka semakin gencar pula Davin mendekati wanita itu. Sikap Stella yang seperti ini justru semakin meyakinkan Davin jika Stella memang menyimpan perasaan untuk dirinya. Sama sekali tak ada keraguan di hatinya akan hal itu.
Sepulang kerja, melihat Stella yang hendak menaiki taksi, Davin buru-buru menarik tangan Stella dan membawa Stella masuk ke dalam mobilnya.
“Davin, kau ini apa-apaan? Kenapa kau malah mengajakku masuk ke dalam mobilmu?” protes Stella sambil menatap Davin dengan tatapan tajam miliknya.
“Kau tidak bisa terus-menerus menghindariku, Stella,” ucap Davin sambil menatap lurus pada manik mata Stella.
“A-aku tidak menghindarimu,” sanggah Stella tergagap.
“Itu hanya perasaanmu saja,” balas Stella singkat.
Davin menghela napasnya, sepertinya memancing Stella dengan cara seperti ini tidak akan membuahkan hasil yang dia inginkan.
Senyap mengelilingi mereka berdua. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara sesudahnya.
__ADS_1
Terdiam, pikiran Stella melayang-layang ke sana ke mai. Hingga satu pertanyaan hinggap di kepalanya. ‘Bagaimana kabar Garry dan Feby? Apakah mereka sekarang sudah bisa hidup tenang setelah kejadian itu?’ Itulah pertanyaan yang bercokol di benak Stella saat ini.
Davin yang melihat Stella tengah melamun seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Stella. Pria itu mendesah pelan, menyayangkan sikap Stella yang masih saja dihantui oleh masa lalunya. Davin tak menyalahkan Stella, dia juga pernah mengalami hal yang sama. Dia hanya menyayangkan sikap wanita itu.
“Feby akan menikah,” ucap Davin secara tiba-tiba, membuat Stella sontak menoleh ke arahnya.
“Hah?” Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Stella untuk mewakili keterkejutannya.
“Feby sebentar lagi akan menikah,” ucap Davin lagi.
“Kau tahu dari mana, Dav?” tanya Stella. Dia saja yang pernah berteman dengan Feby tidak tahu mengenai hal ini. Bagaimana mungkin Davin yang tidak pernah berteman dengan Feby tahu?
“Salah satu temanku waktu kuliah ternyata adalah saudara dari calon suami Feby.” Davin memperlihatkan bukti yang dia miliki berupa undangan digital kepada Stella. “Feby dijodohkan dengan putra teman orang tuanya dan sebentar lagi akan menikah.”
Stella tersenyum. Meskipun dia tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan Feby, dia merasa senang karena sahabatnya akan menikah.
“Jika Feby akan menikah dengan pria lain, lalu bagaimana dengan Garry?” tanya Stella secara spontan.
__ADS_1
Davin terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah kau masih menyimpan perasaan untuk Garry?”