Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Ulang Tahun


__ADS_3

“Bagaimana kelanjutan kontrak kita dengan perusahaan X. Apakah mereka sudah memberi kabar?” tanya Davin.


Stella mengangguk. “Sudah, Pak. Mereka meminta untuk dijadwalkan meeting dengan Anda secepatnya untuk membahas mengenai kelanjutan kontrak,” jawab Stella.


Davin menyipitkan matanya, membuat Stella menatapnya bingung.


“Bukankah aku sudah bilang kalau kita sedang berdua saja tidak perlu terlalu formal?” tanya Davin. Ia melipat tangannya di depan dada, tanda jika dia tidak suka dengan sikap Stella.


Stella tertawa renyah. “Aku hanya ingin tetap terlihat profesional di kantor, Vin,” balas Stella.


Beberapa bulan telah berlalu semenjak hari di mana Feby dan Garry pergi dari hidup Stella. Setelah hari itu, Davin dan Stella kerap menghabiskan waktu bersama. Saat itu, sebab Stella dilanda rasa bersalah, Davin selalu ada di sisi Stella untuk meyakinkan wanita tersebut jika dia tidak perlu merasa bersalah. Hal tersebutlah yang menjadi jendela baru untuk pertemanan mereka.


Meski Stella masih tampak membatasi diri, hubungan Stella dan Davin kian membaik. Stella kini sudah mulai bisa menerima kehadiran Davin di dalam hidupnya. Stella bahkan sudah begitu akrab dengan Davin.


“Oh, baiklah, Bu Stella. Kalau begitu, apa jadwalku setelah ini?”


Pertanyaan Davin mengundang senyuman Stella. Wanita itu tersenyum geli pada pria di hadapannya.


“Satu jam lagi Anda ada meeting dengan direksi perusahaan.  Oh, jangan lupa nanti malam Anda ada janji makan malam dengan salah satu klien,” jelas Stella menjabarkan jadwal Davin hari ini.


“Janji makan malam?”


Davin mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak ingat kalau dia memiliki janji makan malam dengan salah satu kliennya. Pria itu mengusap-usap dagunya, berpikir sejenak mengenai janji makan malam itu.


“Iya, Pak. Anda satu minggu yang lalu memintaku untuk mengatur jadwal makan malam ini. Apakah Anda lupa?” balas Stella bingung.


“Aku ingat kalau aku memiliki janji makan malam. Tapi, aku tidak ingat kalau itu hari ini,” lirih Davin.


Stella menyipitkan matanya. Dia merasa aneh dengan sikap Davin karena tidak biasanya pria itu melupakan jadwal-jadwal penting yang dia miliki. Apalagi, janji makan malam ini dengan salah satu klien yang penting.


Drrtt ... Drrtt ....


Telepon kantor berbunyi. Stella pun langsung mengangkat panggilan tersebut. Sambil menunggu Stella berbincang-bincang dengan orang yang menelepon, Davin kembali mengingat-ingat tentang janji makan malam yang dia miliki.


“Pak, baru saja sekretaris Pak Glen menelepon dan meminta jadwal makan malam kalian ditunda karena Pak Glen harus melakukan perjalanan ke luar negeri secara mendadak,” ucap Stella, menyampaikan inti dari panggilan yang barusan dia lakukan.


“Baguslah kalau begitu!” seru Davin senang.

__ADS_1


“Bagus?” tanya Stella tak mengerti. Dia semakin yakin jika ada sesuatu yang salah dari bosnya. Pasalny tadi bos nya sedikit terkejut dan terlihat keberatan dengan jadwalnya, sekarang justru terlihat senang.


“Ya ... bagus. Aku lelah sekali hari ini, ingin istirahat,” ucap Davin sambil menggaruk tengkuknya.


"Benarkah? Atau ada hal lain?" tanya Stella penuh selidik.


"Tidak ada hal apa pun yang pentung, aku hanya lelah dan ingin istirahat malam ini," jawab Davin berusaha meyakinkan Stella.


*****


"Aku duluan, ya! Aku benar-benar lelah hari ini," ucap Davin yang pulang lebih dulu dari Stella.


Stella yang melihat itu hanya mengangguk acuh, meski dia sedikit heran dengan sikap Davin ,sebab biasanya sesibuk apa pun Davin, dia hampir selalu menawarkan untuk mengantar Stella pulang.


Stella melanjutkan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai, saat jarum jam menunjukan pukul setengah enam sore, Stella keluar dari kantor.


Stella pulang ke apartemennya menggunakan mobil kantor yang bisa dia gunakan atas izin Davin. Baru saja Stella tiba di apartemennya, Stella mendapat telepon dari kedua orang tuanya.


"Halo, Ma."


"Halo sayang, kamu baru pulang?" tanya Dini dengan suaranya yang terdengar begitu menenangkan.


"Ya, ini Papa."


"Ada apa, Ma?" tanya Stella lagi berpikir mungkin ada yang ingin kedua orang tuanya tanyakan. "Jika bertanya kabarku, tenang saja. Aku baik disini," sambung Stella terkekeh.


"Syukurlah. Mama dan Papa senang mendengarnya. Kalau begitu kamu istirahat saja, mama menelepon hanya ingin memastikan keadaanmu," ucap Dini sebelum panggilan terputus.


***


Beberala jam berlalu.


Stella mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu. Dia menoleh ke samping, menatap pada jam dinding yang menunjukkan waktu pukul dua belas lebih tiga menit.


“Siapa yang datang tengah malam begini?” gumamnya bertanya-tanya.


Stella teringat akan sesuatu yang sepertinya tidak asing dan pernah terjadi. Dia kembali mengingat tanggal berapa sekarang ini. Matanya membulat sempurna saat mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Stella pun melompat berdiri kemudian buru-buru berlari menghampiri pintu.

__ADS_1


"Tidak mungkin mereka," gumamnya.


Biasanya yang memberinya kejutan adalah Garry dan Feby. Kini, dua orang itu sudah tidak ada di hidupnya lagi. Lantas, siapa yang datang?


Begitu saja membuka pintu, Stella terkejut mendapati Davin berdiri di depan kamarnya sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala di atasnya.


"Davin!" ucapnya berbisik.


“Kejutan!” seru Davin dengan senyum sumringah di wajahnya.


“Stttt!” Stella meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Davin untuk memelankan suara pria itu. “Jangan berisik, nanti ada yang mendengar.”


Stella menutup pintu kamarnya. Dia menarik tangan Davin lalu mengajak pria itu pergi ke sebuah taman kecil yang ada di sekitar apartemen. Di sana, mereka duduk di sebuah kursi untuk merayakan ulang tahun Stella.


"Dari mana kau tahu ulang tahunku?" tanya Stella.


"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu jika aku tahu semuanya tentangmu." Davin mencubit gemas pipi Stella.


“Ayo, tiup lilinnya,” pinta Davin, khawatir jika lilinnya akan segera habis karena tadi dia sudah menyalakannya dari sebelum mengetuk pintu kamar Stella.


“Baiklah.”


Stella menganggukkan kepalanya. Dia memejamkan matanya, merapal doa, lalu meniup lilin-lilin yang menyala.


“Sekarang, cobalah kuenya. Aku tadi membuatnya sendiri,” ucap Davin seraya menyodorkan pisau kue kepada Stella.


“Kau membuatnya sendiri?” tanya Stella tak percaya.


Davin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya. Maka dari itu tadi aku senang karena janji makan malam dengan klien batal. Karena aku ingin menyiapkan kejutan ulang tahun untukmu,” jelas Davin.


"Karena aku?" ucap Stella yang ditanggapi Davin dengan anggukan kepala.


Stella menatap Davin dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia merasa terharu dengan sikap Davin yang kini sudah dia anggap sebagai temannya jika di luar pekerjaan. Pria itu benar-benar menjadi teman terbaik untuknya setelah teman yang sangat dia percaya mengkhianatinya.


“Terima kasih, Dav. Aku senang bertemu denganmu," ucapnya yang mulai menetes antara bahagia dan sedih mengingat semua yang sudah terjadi.


Davin mengusap air mata Stella. "No no no, aku tidak ingin melihat kau menangis. Ini hari bahagiamu, ayo tersenyum!"

__ADS_1


Stella tersenyum memotong kuenya dan memberikan pada Davin potongan pertamanya. "Untukmu, teman terbaikku," ucapnya.


__ADS_2