Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Maukah Kau Menjadi Kekasihku?


__ADS_3

“Stella, ada tamu untukmu. Ayo, keluar,” ucap Dini kepada putrinya.


Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu. Saat ini, Stella sedang mengambil cuti dan pulang ke kampung halamannya. Setelah satu tahun hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan dan berusaha untuk melupakan tentang Garry dan Feby, Stella memilih untuk pulang karena rindu dengan kedua orang tuanya.


“Siapa yang datang, Ma?” tanya Stella begitu dia membuka pintu kamarnya.


“Ada orang tua Davin datang bertamu,” jawab Dini. Tangannya menggandeng Stella, membawa wanita itu menuju ke ruang tamu.


Stella hanya bisa pasrah mengikuti ibunya.


“Stella, bagaimana kabarmu? Kita sudah lama tidak bertemu,” ucap Rianti, ibu Davin.


“Kabarku baik, Tante,” jawab Stella sambil tersenyum sopan.


“Apakah kau senang bekerja dengan Davin? Dia tidak memberikan pekerjaan yang berat kepadamu, ‘kan?”


Pertanyaan itu membuat Stella terkekeh. Wanita itu menggelengkan kepalanya.


“Tidak, Tante. Davin adalah atasan yang baik. Cuman, kadang dia memang terlalu perfeksionis saja,” balas Stella.


Stella pun mengobrol ringan dengan orang tuanya dan orang tua Davin. Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja pintu diketuk. Ibu Stella pun membuka pintu dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Davin datang ke rumah Stella.

__ADS_1


“Davin? Kau juga mengambil cuti?” tanya Stella bingung.


Davin mengangguk. “Iya. Hanya dua hari saja, kok,” balas Davin. “Ngomong-ngomong, aku sudah lama tidak jalan-jalan di sekitar sini. Bolehkah aku mengajak Stella keluar, Om, Tante?” sambung pria itu meminta izin.


“Tentu saja,” jawab ayah Stella tanpa ragu.


Stella dan Davin pun berpamitan dan pergi. Sementara orang tua Stella dan orang tua Davin tersenyum senang. Mereka berpikir jika hubungan Davin dan Stella sudah semakin dekat.


Stella dan Davin melangkahkan kaki mereka menyusuri jalanan pedesaan yang masih asri. Siang itu cuaca tidak terlalu panas sehingga mereka bisa menikmati perjalanan mereka tanpa khawatir dengan sinar matahari yang menyengat kulit mereka.


“Kapan kau pulang ke sini?” tanya Stella.


Stella memutar bola matanya. “Bilang saja kalau tidak ada yang bisa kau suruh untuk membuatkan minuman kalau kau sedang lembur,” cibir Stella.


“Ya, itu salah satunya,” balas Davin seraya mengedikkan bahu.


“Dasar menyebalkan!” gerutu Stella.


Davin tertawa kecil. “Tidak perlu menggerutu seperti itu. Lagi pula kau biasanya juga tidak protes,” ungkap Davin sambil mengacak-acak rambut Stella.


“Hei, jangan mengacak-acak rambutku!” omel Stella, berusaha menyingkirkan tangan Davin dari kepalanya.

__ADS_1


Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke perkebunan orang tua Stella. Di salah satu sisi perkebunan yang cukup sepi, Davin tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Stella juga ikut berhenti.


“Stella, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ucap Davin.


“Ya sudah, katakan saja,” balas Stella santai. Dia tidak berpikir macam-macam mengenai apa yang akan Davin ungkapkan padanya.


Davin meraih tangan Stella, menggenggamnya dengan erat. Jantungnya berdegup dengan kencang. Tatapan matanya menatap lurus pada iris mata Stella yang tampak berkedip bingung. Sejurus kemudian, Davin mengungkap apa yang selama ini bercokol di dadanya, mengenai perasaannya untuk Stella.


Davin menarik napas dalam-dalam, lalu memulai kalimatnya, “Stella, aku tahu kalau kita belum lama mengenal dan aku tidak tahu apakah kau sudah siap atau belum untuk menerima orang baru di hidupmu.”


Stella menatap Davin dengan satu alis terangkat. Dia bingung dengan arah pembicaraan Davin.


“Aku menyukaimu. Ah, tidak. Aku jatuh cinta padamu. Tidak ada satu wanita pun yang bisa membuatku jatuh cinta lagi selama ini. Tapi, setelah mengenalmu, aku akhirnya bisa kembali mencintai seseorang dengan tulus. Stella, maukah kau menjadi kekasihku?”


Stella terdiam sejenak mendengar itu.


“Maaf, aku tidak bisa.” Stella melepaskan tangannya dari genggaman Davin. Dia belum siap untuk membuka hatinya pada pria baru. “Jangan menyukaiku, Vin. Aku tidak mau merasa canggung saat bekerja.”


Davin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah kecewa. Mereka pun lantas pulang. Namun, ada satu hal yang Stella sadari ....


Sikap Davin berubah, dan Stella tak menyukai hal itu.

__ADS_1


__ADS_2