Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Tidak Mau Tahu


__ADS_3

Stella menatap kesal ponselnya yang terus saja berdering, tak mendapat tanggapan oleh Stella yang jelas menandakan jika dia enggan berbicara dengan Feby, tapi Feby tetap saja mencoba menghubungi Stella dengan nomernya yang lain membuat Stella muak lalu menjawabnya.


“Stella, berhenti menghindari ku! Kita harus bertemu.”


Ucapan Feby dari seberang sambungan telepon membuat Stella mengerutkan dahinya bingung. Waktu itu, Feby sempat menelepon Stella untuk meminta maaf dan Stella sudah bilang jika dia belum bisa memaafkan kesalahan Feby. Apakah ucapan Stella waktu itu belum cukup jelas untuk Feby?


“Apa lagi yang kau inginkan, Feb? Aku rasa urusan kita sudah selesai,” balas Stella acuh tak acuh. “Aku sudah bilang kalau aku belum bisa memaafkanmu dan sekarang aku juga melepaskan Garry. Jadi, untuk apa lagi kita harus bertemu? Masalah kita sudah jelas selesai."


Helaan napas terdengar dari seberang sana. Satu detik setelahnya, Feby kembali mengutarakan niatnya untuk bertemu dengan Stella.


“Aku tidak akan bisa tenang jika aku belum bertemu denganmu, Stella. Tolong jangan seperti ini, kita sudah kenal lama. Kita semakan seminum seperjuangan, susah senang kita selalu bersama. Tolong jangan menghindar dariku,” ucap Feby membuat Stella tertawa.


Ya itulah bodohnya Stella. Dia menganggap Feby sahabatnya karena itu susah senang bersama, tetapi Feby justru rakus dan menginginkan lebih seperti menginginkan hal yang sama yaitu Garry. Sesuatu yang jelas tidak bisa dibagi.


Stella memutar bola matanya jemu. Tidak Feby, tidak Garry. Mereka berdua memiliki sifat yang sama yaitu sangat keras kepala dan selalu memaksa jika menginginkan sesuatu.


“Baiklah, nanti malam kita akan bertemu. Apakah sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi? Aku harus kembali melanjutkan pekerjaanku,” balas Stella malas.


“Tunggu, Stella. Bisakah nanti malam kita bertemu di tempat yang tertutup? Aku tidak mau pertemuan kita diketahui oleh orang lain. Aku malu," pinta Feby pelan.


“Oke, nanti aku akan kirimkan alamatnya,” jawab Stella setuju.


Setelah panggilan ditutup, Stella melempar ponselnya ke meja, lalu bersandar di sandaran kursinya. Dia menghela napas lelah. Awalnya Stella pikir dengan putus dari Garry maka masalahnya akan segera selesai. Dia pikir dia akan bisa terlepas dari Feby dan Garry. Tapi, harapan hanyalah sebuah angan jika Tuhan tidak menghendakinya. Kini, Stella justru tak henti-hentinya diganggu oleh Feby dan Garry.

__ADS_1


“Wajahmu kelihatan tegang sekali. Siapa yang menelepon?” tanya Davin yang sedari tadi memerhatikan Stella.


“Feby,” jawab Stella singkat.


“Selingkuhan Garry?” tanya Davin lagi.


Stella mengangguk.


“Kenapa dia menelepon?”


“Dia mengajakku untuk bertemu,” jawab Stella seraya mengedikkan bahunya cuek.


Davin mengangguk-anggukkan kepalanya sementara bibirnya membentuk huruf ‘O’. Pria itu merasa iba dengan Stella. Setelah putus dari Garry, wanita itu justru dikejar-kejar oleh Garry dan Feby. Selain itu, kini hampir semua orang di kota ini tahu tentang siapa dirinya, membuatnya kesulitan mendapatkan privasi.


*****


Karena berpenampilan seperti itu, Feby bahkan sempat dihentikan oleh satpam dan diminta untuk menunjukkan kartu identitasnya. Setelah meyakinkan satpam kalau dia mengenal salah satu orang yang tinggal di apartemen, barulah satpam mengizinkannya masuk.


Di dalam lift, Feby harus mati-matian menahan amarahnya karena dua orang yang berada di lift membicarakannya.


“Apakah kau tahu video yang sedang viral itu?”


“Ya. Memalukan sekali. Jika aku jadi wanita di video itu, aku pasti sudah kabur ke luar negeri atau mengurung diri selamanya.”

__ADS_1


“Apakah wanita itu masih kenal malu? Bercinta dengan pacar sahabatnya sendiri saja tidak malu.”


Dua orang tadi mencibir, lalu tertawa terbahak-bahak. Sementara Feby yang berdiri di belakang mereka hanya bisa mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.


Turun dari lift, Feby buru-buru ke apartemen Stella. Dia mengetuk pintu itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka.


“Masuk,” ucap Stella.


Feby masuk ke dalam apartemen Stella. Stella pun mempersilakan Feby duduk di sofa.


“Apa yang ingin kau bicarakan, Feb?” tanya Stella tanpa basa-basi lagi. “Jika kau ingin meminta maaf, keputusanku masih sama. Aku belum bisa memaafkanmu.”


Feby menghela napasnya. Dia masih tak menyangka jika dia akan kesulitan mendapatkan maaf dari Stella. Padahal, dulu Stella adalah wanita yang sangat pengertian dan selalu memaafkan setiap kesalahannya. Feby baru sadar jika kesabaran seseorang ada batasnya juga.


“Meskipun begitu, aku akan tetap meminta maaf. Aku tahu kesalahanku tidak termaafkan. Tapi, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku menyesal,” ucap Feby.


Stella hampir saja trenyuh dengan ucapan Feby. Hingga kalimat selanjutnya membuatnya tak habis pikir dengan mantan sahabatnya itu.


“Aku ingin kau membujuk Garry untuk menikahiku,” sambung Feby.


Stella mendengus. Wanita itu tersenyum sinis mendengarnya.


“Aku tidak bisa membantu apa pun. Aku sudah melepaskan Garry dan aku tidak akan melarang jika kau ingin mengejar Garry,” balas Stella dingin.

__ADS_1


“Tapi, Garry tidak mau menikah denganku, Stella,” ucap Feby. “Aku ingin menikah dengan Garry tapi dia tidak mau. Aku butuh bantuanmu untuk membujuknya.”


“Ingin menikah atau tidak, itu kembali lagi padamu dan Garry. Aku sudah tidak mau tahu dengan urusan kalian,” balas Stella dengan tegas.


__ADS_2