
Setelah mengetahui fakta jika Garry hari ini kembali ke Jakarta, Stella lebih banyak diam. Wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak lagi berbicara atau pun merespons pertanyaan dari Davin. Dia benar-benar diam dan dirasuki perasaan yang tidak menentu.
“Stella, kita mampir untuk makan dulu, ya?” tanya Davin. “Kebetulan aku sudah sangat lapar. Kau pasti juga lapar, ‘kan, karena tadi siang tidak sempat makan?”
Stella menoleh sekilas ke arah Davin, lalu mengangguk.
Davin sedari tadi hanya bisa menghela napas berat. Dia menyesal telah mengatakan yang sebenarnya kepada Stella. Jika tahu Stella akan banyak diam setelah tahu mengenai kepulangan Garry, pria itu pasti akan memilih untuk menyembunyikannya dari Stella dan pura-pura tidak tahu.
Mobil Davin melaju menuju ke restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Di sana, dia langsung mengajak Stella turun dan memesan makanan.
“Stella, kau mau makan apa?” tanya Davin.
“Apa saja, Vin,” balas Stella singkat.
Mendengar itu, Davin kemudian memesankan makanan yang sama untuk mereka. Setelah pelayan pergi ke dapur, Davin kembali memandang Stella yang tampak melamun.
“Kau jadi lebih pendiam setelah tahu kalau Garry akan pulang,” ucap Davin, memulai percakapan. “Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Stella?”
Stella menggeleng. “Tidak, Vin,” balasnya singkat.
__ADS_1
Perasaan Stella benar-benar campur aduk. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada Davin. Untuk itulah dia memilih untuk diam.
Mendengar jika Garry akan pulang, Stella kembali mengingat tentang pesan singkat yang terakhir kali Garry kirimkan padanya sebelum pria itu pergi. Wanita itu menggigit bibir dalamnya, ketakutan perlahan mengalir ke relung hatinya.
“Lalu, kenapa kau hanya diam dari tadi?” tanya Davin lagi.
Stella menghela napasnya. “Itu hanya perasaanmu saja.” Stella mengelak meskipun dia sendiri juga sadar kalau ucapan Davin adalah benar. Dia memang hanya diam dari tadi. Stella hanya tak tahu bagaimana dia akan menjelaskan tentang apa yang bercokol di kepalanya kepada Davin.
“Apakah kau masih mencintai Garry?”
Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Davin. Ada rasa khawatir dan rasa takut yang berpadu satu di hati Davin. Dia takut dengan kembalinya Garry, wanita yang ada di hadapannya ini akan berubah pikiran dan kembali mengabaikannya.
“Jika kau masih mencintai Garry, aku akan mundur. Aku tidak akan menghalangi kebahagiaanmu, Stella,” sambung Davin.
“Aku merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini, Vin,” balas Stella.
Davin meraih tangan Stella, kemudian meremasnya. “Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja,” ucapnya sambil tersenyum lembut untuk menenangkan kegelisahan Stella.
Setelah makan malam, Davin mengantar Stella pulang. Tepat saat mobil Davin berhenti di depan kosan Stella, mereka bisa melihat sosok Garry tengah berdiri di depan gerbang sambil membawa buket bunga di tangannya.
__ADS_1
“Garry?” cicit Stella dengan mata membulat sempurna. Firasatnya ternyata benar, ada sesuatu yang akan terjadi setelah kepulangan Garry di Jakarta.
“Untuk apa pria itu datang ke sini?” tanya Davin bingung.
Stella mengedikkan bahunya. “Aku bahkan tidak tahu dari mana dia mendapatkan alamat kosku yang baru,” balas Stella tak kalah bingungnya.
Stella tak langsung turun. Dia memilih untuk tetap diam di dalam mobil sambil mengatur detak jantungnya yang berdetak tak karuan.
“Apakah kau mau bertemu dengan Garry? Jika kau tidak mau, aku akan membawamu pergi dari sini,” ucap Davin, khawatir.
“Tidak apa-apa, Vin. Aku akan menemui Garry dan bertanya apa tujuannya datang ke sini,” balas Stella.
Davin mengangguk mengerti.
Stella pun turun dari mobil Davin.
Garry yang melihat hal tersebut langsung berlari menghampiri Stella.
“Garry, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Stella.
__ADS_1
“Stella, aku sangat merindukanmu,” ucap Garry seraya menarik Stella ke dalam pelukannya.
Sementara Stella hanya bisa diam mematung di tempatnya, belum dapat mencerna apa yang baru saja terjadi.