Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Ingin Menghabiskan Waktu Berdua


__ADS_3

“Maaf, Pak, kalau mungkin saya tidak sopan. Tapi—”


“Kau menolak tawaranku?” tanya Davin, memotong ucapan Stella.


Baru saja Stella bersyukur karena seharian ini Davin tidak mengganggunya tapi kini pria itu sudah kembali membuat ulah. Stella menggertakkan giginya hingga bergemeletuk. Ingin rasanya dia berteriak dan mengomeli Davin yang terus mendesaknya. Tapi, sebelum dia melakukannya, ia kembali teringat dengan ucapan atasannya yang berkata jika dia ingin Davin tidak mempersulit pekerjaannya maka dia tidak boleh membuat Davin kesal apalagi melawan ucapannya.


Stella menarik napas dalam-dalam, kemudian dengan amat sangat terpaksa tersenyum. Meski kesal, dia harus menuruti kemauan Davin jika dia masih ingin bekerja di perusahaan ini.


“Baiklah, Pak. Mari,” balas Stella pada akhirnya.


Davin tersenyum dalam hati. Sambil memasang wajah tenang, Davin mengayunkan tangannya, memberi isyarat kepada Stella untuk melangkah terlebih dahulu dan mereka pun pulang bersama.


“Jadi, kau sudah lama tinggal di Jakarta?” tanya Davin yang kini sudah duduk di balik kemudi.


Stella mengangguk. “Lumayan.”


“Apakah kau lapar? Jika kau lapar, kita bisa mampir untuk makan malam dulu,” usul Davin sembari mengemudikan mobilnya keluar dari area perkantoran.


Stella menggeleng. “Tidak, terima kasih,” jawab Stella singkat.


Sepanjang perjalanan, Davin sesekali melirik ke arah Stella. Melihat Stella yang kerap kali mengalihkan pandangannya dan mendengus pelan membuat Davin merasa geli sendiri. Entah kenapa, wajah tidak menyenangkan Stella justru membuatnya merasa senang.


Davin berulang kali mengajak Stella berbicara. Sayangnya, Stella selalu menjawabnya dengan jawaban apa adanya dan terkesan ketus. Tapi, hal itu tak membuat Davin menyerah sama sekali. Justru, bagi seseorang yang mendapat cap sebagai playboy, sikap Stella sangatlah menarik untuk Davin.

__ADS_1


Setibanya di tempat tinggal Stella, Stella tak mengambil waktu lama untuk turun dari mobil Davin. Ia sudah tidak sabar untuk terbebas dari pria itu.


“Terima kasih sudah mengantarku, Pak. Saya permisi,” ucap Stella, kemudian turun dari mobil Davin tanpa menunggu jawaban dari Davin.


Davin menatap punggung Stella yang perlahan menghilang di balik gerbang, lalu tersenyum miring.


“Menarik,” gumamnya pelan. Setelahnya, ia pun kembali melajukan mobilnya pulang.


Davin terus saja mengingat bagaimana sikap Stella kepadanya. Sebagai seorang pria yang tidak pernah menerima penolakan dari wanita, baginya Stella sangatlah menarik karena Stella berbeda dengan wanita-wanita yang pernah dekat dengannya.


*****


Stella melepaskan sepatu hak tinggi yang dia kenakan, lalu melemparkan tasnya ke atas tempat tidur. Wanita itu masih kesal sebab ternyata lagi-lagi Tuhan mempertemukannya dengan Davin. Seolah belum cukup ia dibuat kesal saya kembali bertemu dengan Davin di saat dia menghadiri acara penyambutan kepulangan Davin, kini Stella sepertinya harus belajar bersabar karena dia akan bekerja dengan Davin.


Ponsel Stella berbunyi.


Segera Stella mengangkat panggilan tersebut tanpa membaca dulu siapa yang menelepon.


“Halo?”


“Halo, Stella,” balas Garry. “Aku berencana untuk mengajakmu makan malam. Apakah kau mau?”


Stella berpikir sejenak. Hari ini, pikirannya sangat suntuk akibat bekerja. Makan malam dengan Garry sepertinya akan bisa membantunya untuk merilekskan pikiran.

__ADS_1


“Ya. Kita akan makan malam di mana?”


“Bagaimana jika di restoran kesukaanmu?”


“Baiklah, aku akan siap-siap dulu,” ucap Stella. Saat dia hendak menutup telepon, ia teringat tentang sesuatu. Ia pun kembali membuka suara, “Gar, apakah nanti Feby akan ikut juga?”


“Biasanya dia memang selalu ikut, ‘kan?” balas Garry.


Stella tersenyum kecut, kembali mengingat tentang kebodohannya yang selalu saja mengizinkan Feby untuk ikut makan malam atau bahkan ikut ke acara kencan mereka. Stelal yang dulu berpikir jika Feby tak akan berani macam-macam kini tak mau mengulangi kesalahannya lagi.


“Aku tahu. Tapi, bisakah malam ini kita pergi berdua saja? Aku ingin menghabiskan waktu denganmu berdua saja malam ini,” ujar Stella, beralasan demikian supaya Garry tidak curiga dengan sikapnya yang berubah.


“Tentu saja. Itu lebih baik karena aku sangat merindukanmu. Bersiaplah, sebentar lagi aku akan menjemputmu,” jelas Garry.


“Okay,” jawab Stella lalu mematikan sambungan telepon.


Begitu telepon ditutup, Garry yang saat ini masih berada di kantor pun bergegas menuju ke parkiran mobil. Dengan senyum yang mengembang, Garry pergi menjemput Stella.


Tanpa Garry sadari, Feby rupanya mendengar percakapannya dengan Stella. Feby yang tahu jika Garry akan pergi makan malam dengan Stella pun berniat untuk mengikuti mereka.


Kini, mereka sudah tiba di sebuah restoran bintang lima. Feby sengaja duduk di kursi yang terletak di sudut. Posisi Stella dan Garry membelakanginya sehingga mereka tidak akan tahu jika Feby mengikut mereka.


Feby mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya menatap tajam ke arah Stella yang mendapat perlakuan manis dari Garry. Ia merasa kesal saat melihat bagaimana mesranya Garry dan Stella.

__ADS_1


__ADS_2