Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Pembalasan Stella


__ADS_3

Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. 


Acara pernikahan Garry dan Stella diadakan di sebuah hotel bintang lima ternama di Jakarta. Dekorasi mewah menghiasi aula hotel tersebut. Dari pintu aula, tampak hiasan bunga mawar berjajar mengelilingi aula tersebut. Sementara di luar aula, papan nama kedua mempelai bertengger di sana.


“Apakah kau sudah siap, Gar?” tanya Deo, ayah Garry.


Garry tersenyum sembari merapikan dasinya. “Lebih dari siap, Pa,” jawabnya tanpa ada keraguan sedikit pun.


“Mama masih tidak menyangka jika anak bungsu Mama akan menikah hari ini,” ucap Yanti sambil menyeka air matanya menggunakan sapu tangan. Ia tak bisa menahan rasa haru yang menyelimuti hatinya.


Garry terkekeh kecil, lalu menghampiri Yanti dan memeluknya. Dukungan dari keluarga membuat Garry merasa jika pernikahannya dengan Stella akan sangat diberkati.


“Terima kasih, Ma, Pa, atas restu dari kalian,” ucap Garry.


“Tentu saja kami akan memberi restu kepada kalian. Kami sudah menantikan momen ini selama bertahun-tahun lamanya,” ucap Yanti.


Damar yang saat ini juga telah datang bersama Ane dan Bella di hotel menghampiri keluarganya yang masih berdiri di depan pintu aula. Ia berdeham, membuat orang-orang menoleh ke arahnya.


“Selamat, Gar. Akhirnya kau dan Stella akan menikah juga,” ucap Damar.


Garry melepaskan pelukan ibunya, kemudian menganggukkan kepala ke arah kakaknya.


“Terima kasih, Kak,” balasnya.


“Ayo, lebih baik kita masuk sebelum tamu-tamu undangan datang,” usul Deo.


Seluruh anggota keluarga Garry masuk ke dalam aula pesta. Ane yang paling terakhir masuk, memberikan kode kepada petugas keamanan melalui tatapan matanya jika rencana mereka bisa segera dilakukan.


Begitu semua orang masuk dan pintu aula ditutup kembali, seorang petugas keamanan mengganti papan nama mempelai dengan papan yang berbeda. Kini, tidak ada nama Stella di papan nama tersebut. Yang ada justru nama Garry dan Feby.


Ya, pernikahan ini tidak akan menjadi pernikahan Stella dan Garry. Melainkan pernikahan Garry dan Feby. Stella telah bekerja sama dengan pihak hotel mengenai hal ini.


Sementara itu, di tempat lain, Feby sedang menatap kotak yang dikirimkan oleh Stella. Kotak tersebut berisikan sebuah gaun yang sangat cantik. Kata Stella, gaun tersebut harus Feby pakai di pernikahannya karena Stella ingin Feby menjadi saksi pernikahannya.


Feby sendiri masih ragu apakah dia ingin datang atau tidak. Karena jujur saja, hatinya tak akan sanggup melihat pria yang sangat dia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Ponsel Feby lagi-lagi bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari Stella. Feby pun mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, Feb. Apakah kau sudah berangkat?” tanya Stella.


“Halo, Stella. Maaf, aku tidak tahu apakah aku akan berangkat atau tidak. Aku takut jika—”


“Feby, kau ini bicara apa? Memangnya kau tega membiarkanku menikah tanpa kedatanganmu?” tanya Stella, memotong ucapan Feby. “Kau adalah satu-satunya sahabatku. Memangnya kau tega denganku?”


Feby menghela napasnya. Jika Stella sudah memohon seperti ini, dia tak punya alasan untuk menolak lagi.


“Baiklah, baiklah. Aku akan datang. Mungkin aku akan tiba tiga puluh menit lagi,” ucap Feby pada akhirnya.


“Perfect! Aku akan meminta orang untuk menjemputmu, jangan khawatir,” ucap Stella.


“Aku akan bersiap-siap dulu, Stella,” balas Feby.


*****


Kembali ke aula pesta ....


Para tamu undangan mulai berdatangan. Orang tua Stella juga sudah hadir. Garry dan keluarganya tidak merasa curiga akan apa pun. Semuanya tampak normal baginya hingga Garry menyadari jika tatapan tamu-tamu undangan sangatlah aneh. Akan tetapi, Garry memilih untuk abai dan berpikir jika dia hanya gugup saja makanya tatapan orang terasa aneh untuknya.


“Pak, mempelai wanitanya akan segera datang. Anda lebih baik duduk di kursi depan penghulu terlebih dahulu,” ucap seorang wanita yang tak lain adalah pembawa acara pernikahannya dengan Stella.


Garry mengangguk, kemudian duduk di kursi mempelai dengan posisi membelakangi pintu aula.


Pintu Aula terbuka. Tampak Feby datang mengenakan gaun yang sangat indah. Tatapan mata semua orang tertuju ke arahnya, membuat Feby merasa semakin gugup. Feby bingung dengan tatapan orang-orang padanya. Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Kenapa dia ditatap seperti ini?


Pembawa acara pernikahan tersebut menghampiri Feby. Ia menggandeng Feby, mengarahkan Feby menuju ke meja penghulu. Setelahnya, dia mendudukkan Feby di samping Garry.


Detik itulah Garry dan Feby mulai menyadari apa yang terjadi. Tak hanya mereka, keluarga Garry juga ikut terkejut melihatnya.


“Pak Garry, sepertinya akad bisa kita mulai sekarang,” ujar si penghulu.


Garry menatap bingung penghulu tersebut. “Apa maksudnya semua ini?” tanya Garry dengan nada suara yang meninggi.

__ADS_1


“Pengantin sudah lengkap. Bukankah sudah saatnya akad dimulai?” Si penghulu balik bertanya.


Garry dan Feby semakin bingung mendengarnya.


“Stella belum datang,” balas Garry dengan nada kesal.


“Siapa Stella?”


Penghulu, pembawa acara, dan orang-orang yang mengurus pernikahan tersebut justru bingung saat Garry menyebut nama Stella sebab yang mereka tahu, nama mempelai wanita pernikahan ini adalah Feby, bukan Stella.


Pengurus pernikahan memberikan data-data yang dia miliki mengenai pernikahan yang akan berlangsung. Di situlah Garry dan keluarganya terkejut karena di dalam data tersebut menyebutkan jika Garry akan menikah dengan Feby.


Garry menatap ke sekelilingnya. Layar yang seharusnya menampilkan foto pre-wedding-nya dengan Stella justru menampilkan foto-foto itu dengan wajah Feby sebagai pasangannya, bukan wajah Stella.


Kepala Garry berputar-putar. Berbagai pertanyaan bercokol di kepalanya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Stella?” tanya Garry sambil menggebrak meja akadnya.


Di tengah kebingungan orang-orang, layar tersebut kembali menampilkan foto-foto kebersamaan Garry dan Feby yang selama ini tidak ada seorang pun yang tahu. Semua tatapan sinis semakin tertuju pada Garry dan Feby, terlebih setelah foto-foto itu disusul dengan sebuah video mereka saat melakukan hubungan intim. Video tersebut di blur, tentu saja. Tapi, semua orang bisa mendengar jika itu adalah suara mereka. Suara pengkhianatan Garry dan Febby dibelakang Stella selama ini.


“Apa-apaan ini? Matikan videonya!” teriak Garry menjadi panik, sama hal nya dengan Feby yang merasa dunia nya hancur setelah semua itu terbongkar.


Mereka tidak tahu siapa yang merekam video itu dan kapan video itu diambil. Yang jelas, mereka merasa jika kehancuran sedang menunggunya.


Setelah video selesai terputar, layar berubah menjadi hitam. Beberapa detik kemudian, suara Stella terdengar.


“Garry, Feby, kalian tahu betapa aku sangat menyayangi dan percaya pada kalian. Kalian menjadi dua orang yang juga sangat penting dalam hidupku. Aku sangat mencintai Garry dan aku juga sangat menyayangiku sama seperti aku menyayangi kak Ane. Apa salahku pada kalian hingga kalian dengan tega menyakitiku seperti ini? Aku benar-benar kecewa dengan apa yang kalian lakukan di belakangku selama ini. Hampir satu tahun kalian bermain di belakangku, menertawakan kebodohanku yang tulus pada kalian. Aku sangat mempercayai kalian. Tapi, kenapa kalian dengan teganya menusukku dari belakang dan menghancurkan kepercayaanku?” tanya Stella.


Garry dan Feby saling tatap, kemudian menelan saliva. Mereka sama sekali tidak menyangka jika perselingkuhan mereka telah lama tercium oleh Stella.


“Om Deo, Tante Yanti, maaf aku harus melakukan ini. Aku minta maaf sudah mengecewakan kalian. Percayalah aku sangat menyayangi kalian dan sangat bahagia bisa menjadi calon menantu kalian, tetapi semua itu hanya sebagai calon, karena menantu kalian yang sebenarnya adalah Feby. Maafkan aku, Aku hanya ingin membalaskan rasa sakit ku kepada dua orang yang paling aku percayai. Aku ingin semua orang tahu apa yang sudah mereka lakukan padaku, gadis bodoh yang telah dikhianati ini,” ujar Stella, disusul dengan suara isak tangisnya yang terdengar pilu.


Semua orang menatap Garry dan Feby. Mereka sama sekali tidak menyangka jika mereka akan disuguhkan dengan skandal besar di acara pernikahan Garry.


“Selamat, Garry, Feby. Sekarang kalian tidak perlu bersembunyi lagi karena semua orang sudah tahu mengenai hubungan kalian dan kalian bisa menikah detik ini juga,” ucap Stella, mengakhiri kalimatnya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan menikahinya. Aku hanya mencintaimu, Stella!" teriak Garry berharap Stella mendengarnya.


"Stella, dimana kamu?"


__ADS_2