
“Namaku Davin Elmar.” Davin mengulurkan tangannya ke arah Stella, lalu menyambung kalimatnya, “Dan kau?”
Stella menatap tangan Davin yang terulur tanpa ada niatan untuk membalas jabatan tangan pria itu. Namun, tatapan tajam ibunya membuat Stella dengan sangat terpaksa membalas jabatan tangan Davin.
“Stella,” jawabnya singkat tanpa menatap Davin sedikit pun.
Pertemuan mereka di Paris dua tahun lalu bukanlah pertemuan yang menyenangkan. Bahkan, Stella masih merasa kesal karena Davin seenak hati mengakuinya sebagai tunangan pria itu. Untung saja waktu itu wanita yang berdebat dengan Davin langsung pergi. Kalau saja wanita itu mengamuk, bukan tak mungkin jika Stella yang akan menjadi sasaran kemarahannya, bukan?
Meski tak mendapat sambutan yang baik dari Stella, Davin tetap tersenyum. Sejak detik di mana matanya mendarat pada Stella, ia belum mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia masih menatap lurus pada wajah Stella.
Dini dan Anton menyadari arti tatapan mata Davin. Mereka pun saling pandang, kemudian tersenyum penuh arti.
“Stella, Davin, kalian mengobrol saja dulu. Kami akan menemui rekan-rekan kami dulu,” pamit Anton.
“Oh, tentu. Silakan, Om, Tante,” balas Davin.
Stella menatap ibunya memelas. Tapi seolah tak mengerti maksud tatapan Stella, Dini justru mengekori Anton dan meninggalkan Stella berdua dengan Davin.
“Jadi, kau adalah pria yang baru saja lulus S3 di luar negeri dan mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan besar itu?” tanya Stella.
Davin tersenyum. “Kau tahu tentang itu?”
__ADS_1
“Tentu saja.” Stella memutar bola matanya. “Orang tuaku tidak bisa berhenti membicarakannya selama perjalanan tadi.”
Davin mengangkat sebelah alisnya. Baru saja ia hendak membalas ucapan Stella, dari panggung tampak orang tuanya memberinya kode untuk naik ke atas panggung.
“Maaf, aku permisi dulu,” pamit Davin pada Stella.
“Hm, ya,” balas Stella acuh tak acuh.
Begitu Davin pergi, Stella langsung mengembuskan napas lega. Ia pun lantas menghampiri meja yang tak jauh dari posisinya saat ini kemudian mengambil segelas minuman.
“Kenapa aku harus bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi?” gerutu Stella pelan, lalu melirik ke arah panggung.
Acara pesta penyambutan kepulangan Davin ke tanah air. Sepanjang acara, beberapa kali Stella tampak menguap karena bosan tak memiliki teman bicara. Orang tuanya sibuk mengobrol dengan rekan-rekan mereka. Sementara Stella yang tidak mengenal siapa pun di pesta tersebut hanya bisa duduk di kursi sambil menikmati hidangan yang disajikan.
Stella dapat bernapas lega karena dia akhirnya bisa melepas sepatu hak tinggi yang dia pakai sepanjang malam.
Saat ini, Stella tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memijat kakinya yang terasa pegal. Dini dan Anton juga duduk di sofa yang berseberangan dengannya.
“Stella, di mana kau bertemu dengan Davin sebelumnya? Kalian seperti sudah mengenal satu sama lain cukup lama,” tanya Dini tiba-tiba.
Stella sontak saja menoleh. “Kami hanya sempat bertemu saat aku liburan di Paris. Dan kami tidak mengobrol atau semacamnya. Hanya tidak sengaja bertemu,” jelas Stella.
__ADS_1
Ia sangat berharap kedua orang tuanya akan berhenti membahas tentang Davin. Stella kesal bukan main sebab sepanjang perjalanan pulang, kedua orang tuanya tak berhenti membahas tentang Davin. Ia jadi muak sendiri mendengar celoteh orang tuanya.
“Davin adalah pria yang baik. Dia juga sangat sopan dan memilik wawasan luas,” sahut Anton.
“Kau dan Davin pasti bisa mudah akrab karena kalian memiliki ketertarikan yang sama di bidang bisnis. Dan dengan ilmu yang dia dapatkan, dia pasti bisa mengajarimu banyak hal,” timpal Dini.
Stella menyipitkan matanya. Ia merasa jika orang tuanya sangat berharap jika dia bisa dekat dengan Davin.
“Ma, Pa, jika kalian berniat untuk menjodohkanku dengan Davin. Aku tidak mau,” ujar Stella tegas. “Urusanku dengan Garry saja belum selesai. Aku tidak tertarik untuk dekat dengan pria mana pun saat ini.”
Dini dan Anton saling berpandangan, kemudian menghela napas panjang. Niat mereka untuk mendekatkan Stella dengan Davin rupanya sudah tercium oleh Stella.
“Bukankah hubunganmu dengan Garry akan segera berakhir?” celetuk Anton.
Pertanyaan itu membuat Stella bungkam. Wanita tersebut tampak menundukkan kepala sembari menghela napas lelah. Ia tersenyum kecut saat menyadari fakta bahwa hubungan yang telah dia jalin dengan Garry selama tiga tahun akan kandas karena sebuah pengkhianatan.
Dini yang menyadari perubahan ekspresi Stella menjadi sedih pun menghampiri Stella, kemudian menepuk pundaknya.
“Stella apakah kau masih mencintai Garry?” tanya Dini iba.
Stella melepaskan tangan Dini dari pundaknya, kemudian berdiri. Tanpa menatap ke arah orang tuanya, Stella mengedikkan bahunya.
__ADS_1
“Kesalahan Garry sulit untuk dimaafkan,” jawabnya.
Setelah mengatakan itu, Stella masuk ke dalam kamarnya.