
Sebab tak dapat menemukan keberadaan Stella di area hotel, Garry bergegas mengendarai mobilnya menuju ke kosan Stella. Dia harus meminta maaf kepada Stella dan memperbaiki semuanya. Dia tidak mau kehilangan Stella. Pria itu merasa jika dia tidak akan mampu hidup tanpa kehadiran Stella di sisinya.
Sesampainya di kosan Stella, Garry berjalan cepat menuju kamar kos wanita tersebut. Dengan jantung berdegup kencang dan keringat yang membanjiri pelipisnya, Garry mengetuk kamar kos Stella sambil memanggil nama wanita itu.
“Stella, keluarlah. Aku tahu kau ada di dalam,” ucap Garry.
Pria itu terus mengetuk kamar kos Stella, berharap kalau wanita yang dia cintai akan segera membuka pintu dan menyambutnya. Namun, detik terus bergulir dan Garry tak kunjung mendapatkan jawaban dari Stella.
“Stella, maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Keluarlah,” ucap Garry, semakin frustrasi karena tak tahu harus berbuat apa lagi supaya Stella mau menemuinya.
Pria itu mencoba untuk menelepon Stella. Tapi, hasilnya nihil. Nomor Stella bahkan tidak aktif, seolah Stella benar-benar sedang menghindar darinya.
“Stella, aku hanya mencintaimu. Tolong, maafkan aku,” pinta Garry lagi.
Pria itu sudah mulai menyerah mengetuk pintu sebab tak kunjung ada jawaban. Dia menyandarkan kepalanya pada pintu seraya memejamkan matanya.
“Stella, keluarlah,” pintanya dengan suara yang kian lemah. Dia sudah kehabisan tenaga untuk sekadar meminta Stella keluar dari kamar kosnya.
Ketukan Garry rupanya didengar oleh pemilik kos-kosan tersebut. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster datang menghampiri Garry dengan dahi berkerut samar.
“Kau mencari siapa?” tanya ibu kos.
Garry tersentak, kemudian membalik tubuhnya.
__ADS_1
“Bu, apakah Anda tahu Stella di dalam atau tidak? Aku sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali tapi tidak ada jawaban,” tanya Garry.
“Mau kau mengetuk pintu kamar itu sampai tahun depan juga pintu itu tidak akan dibuka. Stella sudah pindah,” balas ibu kos Stella sambil tertawa kecil.
Garry membelalakkan matanya. “Pindah, Bu?” tanyanya tak percaya. Padahal, kemarin dia masih mengantarkan Stella pulang ke kos ini. Tidak mungkin Stella pindah secepat itu, bukan?
Ibu kos Stella mengangguk.
“Kapan Stella pindah, Bu?”
“Tadi pagi-pagi sekali dia pamit. Tapi, barang-barangnya sudah sempat dibawa pergi dari beberapa hari sebelumnya. Mungkin ke tempat kosnya yang baru,” jelas ibu kos.
Garry meneguk salivanya. Dia sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Jika memang Stella sudah menyiapkan kepindahannya dari beberapa hari lalu, apakah itu artinya Stella sengaja meninggalkan Garry di hari pernikahan mereka? Itulah yang ada di dalam pikiran Garry saat ini.
“Tidak. Dia tidak bilang kalau soal itu,” jawab ibu kos apa adanya.
Garry pun pamit pulang. Masuk ke dalam mobilnya, Garry kembali mencoba menelepon Stella. Namun, panggilan tersebut tidak tersambung sama sekali.
“Sebenarnya kau ada di mana, Stella?” gumam Garry.
*****
“Stella belum bisa dihubungi, Pa?” tanya Dini kepada suaminya.
__ADS_1
Anton menggeleng. Dia meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur, lalu melepas dasinya.
Saat ini, Anton dan Dini sudah kembali ke kamar hotel di mana mereka menginap. Meski tahu di mana Stella berada saat ini, dari tadi Dini tampak tak tenang dan terus meminta Anton untuk menelepon Stella dan menanyakan kabarnya.
“Mungkin Stella saat ini masih di pesawat atau tidak ada sinyal di pulau itu,” balas Anton.
“Aku sangat khawatir dengan Stella, Pa. Aku takut kalau terjadi sesuatu dengan Stella,” ungkap Dini sambil berjalan mondar-mandir di depan Anton.
Hati Dini terasa tak tenang. Sebelumnya, tak pernah sekali pun dia dan suaminya mengizinkan Stella pergi ke luar kota tanpa seorang teman menemaninya. Stella adalah permata hati mereka. Jadi, wajar saja jika mereka selalu menjaga Stella dengan baik.
“Ma, Stella sudah dewasa. Aku yakin Stella bisa menjaga diri,” ucap Anton.
Dini menghela napas berat. Dia mendaratkan pantatnya di tepi tempat tidur, tepat di samping suaminya.
“Stella pergi dalam keadaan sedih, Pa. Aku takut pikiran Stella kacau dan dia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya,” ucap Dini.
Anton memegang pundak Dini, mencoba untuk menenangkan istrinya.
“Kita harus percaya pada Stella, Ma. Lagi pula, menurutku justru bagus jika Stella ingin menyendiri di pulau. Dia sudah mengalami banyak hal berat akhir-akhir ini, sebaiknya dia memang beristirahat sambil menenangkan pikiran,” ucap Anton, memberikan penjelasan kepada sang istri.
Dini mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia paham dengan apa yang suaminya maksudkan. Jika dia berada di posisi Stella, dia mungkin juga akan melakukan hal yang sama.
“Semoga saja setelah pulang Stella bisa menemukan kebahagiaannya lagi, Pa,” ucap Dini penuh harap.
__ADS_1