
“Tidak! Aku tidak mau menikah dengan Feby!” teriak Garry.
Pria itu bangkit berdiri. Ia berjalan mundur menjauh dari meja akad. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menatap orang-orang di sekitarnya. Tatapan bingung ia dapati dari wajah tamu-tamu undangan. Saat ia menoleh ke arah orang tuanya, tampak mereka menatapnya dengan tatapan penuh luka.
“Garry ....”
Panggilan Feby membuat Garry sontak menoleh. Dia menatap tajam ke arah Feby, seolah wanita itu adalah satu-satunya penyebab kerusakan hubungannya dengan Stella. Padahal, semua orang juga tahu kalau perselingkuhan dilakukan oleh dua orang yang bersalah, bukan salah satu.
“Aku tidak pernah mencintaimu dan tidak akan pernah menikah denganmu!” sentak Garry sambil menunjuk ke arah wajah Feby.
Feby tercekat mendengarnya. Wanita itu menahan napasnya. Matanya memanas, air mata perlahan turun dari sudut matanya. Hatinya hancur berkeping-keping tatkala mendengar ucapan Garry. Seolah ribuan jarum menusuk-nusuk tepat di ulu hatinya, membuatnya seolah lupa caranya bernapas kembali. Orang yang sangat dia cintai, berhasil menghancurkan hatinya hingga menjadi abu.
Bisik-bisik tamu undangan terdengar. Sebagian dari mereka menyindir kebodohan Feby. Ada juga yang menatap iba kepadanya. Tapi, kebanyakan mereka menatap rendah wanita itu. Bagi mereka, seseorang yang rela menjadi selingkuhan adalah kasta terendah dari umat manusia.
Garry mengedarkan pandangannya. Pria itu berpikir jika Stella masih ada di sekitar sana, menyaksikan apa yang terjadi padanya saat ini.
“Stella, aku tahu kau ada di sini. Keluarlah!” teriak Garry seperti orang kesetanan. “Stella, aku sangat mencintaimu! Aku tidak mencintai Feby. Demi Tuhan hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai.”
Damar yang menyaksikan adiknya dipermalukan tidak diam saja. Dia pun naik ke atas panggung dan merebut mikrofon dari tangan pembawa acara.
“Maaf, sekali acara pernikahan ini batal. Silakan tamu-tamu keluar dari ruangan ini!” ucap Damar dengan tegas.
“Huuuuh!!”
Sorakan dari tamu undangan terdengar. Tapi, keluarga besar Garry yang sudah kepalang malu tak memedulikannya.
__ADS_1
“Apalagi yang kalian tunggu? Cepat bubar!” seru Damar sebab tamu undangan tak juga pergi meninggalkan aula hotel tersebut.
Satu per satu, perlahan tamu undangan pergi meninggalkan aula hotel. Kini, yang tersisa hanyalah keluarga besar Garry. Orang tua Stella bahkan juga ikut keluar dari aula karena mereka merasa jika putri mereka sudah mendapatkan sebuah kemenangan dengan membalaskan rasa sakit hatinya kepada orang-orang yang telah menyakitinya.
“Ane, apakah kau tahu jika Garry dan Feby telah berselingkuh dari Stella?” tanya Yanti kepada menantunya.
Ane menatap ibu mertuanya bingung. Dia tidak tahu apakah dia harus berkata jujur atau tidak. Ia takut jika mertuanya marah dan menganggap dia sebagai pengkhianat.
“Jujur saja kepada kami, Ane. Kami tidak akan marah padamu,” sahut Damar yang sudah turun dari panggung.
Ane menghela napasnya. “Ya, aku sudah tahu,” jawab Ane. “Sejak hari ulang tahun Bella.”
Yanti menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Pria itu menghampiri Garry. Amarah tampak berkilat-kilat di bola matanya. Ia menatap Garry seolah Garry baru saja melakukan dosa besar kepadanya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Garry. Garry menatap ayahnya bingung. Sementara tangannya mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu.
“Kenapa Papa menamparku?” tanya Garry.
“Kau masih bertanya kenapa?” Deo berdecih. “Tidak hanya mempermalukan nama baik keluarga. Kau juga telah menyakiti Stella!”
“Pa, aku bisa menjelaskannya. Aku tidak—”
__ADS_1
“Kenapa masih mengelak di saat bukti sudah jelas bahwa kau memang berselingkuh, Garry?” sahut Yanti, memotong ucapan Garry. “Mama kecewa denganmu. Kau tahu, ‘kan, kalau kami sangat menyayangi Stella?”
“Ma, Pa ....”
“Kami sangat kecewa denganmu,” balas Deo sambil menatap tajam putranya.
“Kau juga, Feby. Kenapa kau tega menyakiti sahabatmu sendiri?” tanya Yanti sinis.
“Tante, aku mencintai Garry,” cicit Feby.
Yanti memutar bola matanya, lalu mengalihkan pandangan dari Feby dan Garry.
Deo dan Yanti tidak menyalahkan Stella atas kejadian ini. Sebaliknya, mereka merasa kecewa dan marah dengan Garry dan Feby yang telah menyakiti Stella. Mereka sudah menyayangi Stella seperti anak mereka sendiri. Mereka betul-betul menyayangkan sikap Garry yang lebih memilih untuk berselingkuh.
“Persetan!” Garry berteriak kemudian keluar dari aula hotel.
Pria itu berlari keluar sambil memanggil-manggil nama Stella. Ia berharap jika Stella masih ada di sana dan dia bisa berlutut meminta maaf wanita tersebut.
Tapi, semuanya sudah terlambat.
Saat ini, Stella sudah berada di pesawat dalam perjalanan menuju ke sebuah pulau yang akan dia jadikan tempat untuk menenangkan diri sementara waktu.
Tanpa Stella ketahui, di dalam pesawat tersebut ada seorang pria yang sedang tersenyum membayangkan waktu yang akan dia habiskan dengan Stella. Pria itu adalah Davin.
Davin berniat untuk menemani Stella dan berusaha mengambil kesempatan untuk mendekati Stella.
__ADS_1