
“Garry jahat!!!!”
Feby berteriak sekencang mungkin. Dia tidak peduli jika teman kosnya akan terganggu dengan teriakannya. Yang ada di kepalanya saat ini hanya satu, yaitu berteriak dan melepaskan amarah yang membara di hatinya.
“Kau jahat, Garry! Tega-teganya kau memperlakukanku seperti ini setelah apa yang aku lakukan untukmu,” keluh Feby terdengar pilu.
Sedari tadi, air mata membanjiri pipinya. Wanita itu terus menangis sepanjang perjalanan pulang dari hotel hingga sampai di kamar kosnya. Hati Feby betul-betul hancur saat dia mengingat ucapan Garry jika Garry tidak mencintainya dan tidak akan pernah menikah dengannya.
“Bodoh! Dasar bodoh!” cecar Feby pada dirinya sendiri.
Dia membenturkan kepalanya di meja beberapa kali, merutuki kebodohannya yang mudah sekali menyerahkan tubuhnya untuk Garry. Ia merasa seolah Garry hanya memanfaatkan tubuhnya saja selama ini. Garry tidak pernah benar-benar menyukainya. Pria itu selama ini bersikap manis kepadanya hanya karena dia mengincar kenikmatan duniawi yang Feby tawarkan.
“Stella, maafkan aku. Aku menyesal,” ungkap Feby sambil terisak-isak.
Wanita itu sungguh-sungguh menyesali perbuatannya. Dia baru menyadari jika dia sudah sangat jahat pada sahabatnya sendiri. Tidak hanya menghancurkan hubungan Stella dan Garry, dia juga menghancurkan hubungan persahabatan yang sudah bertahun-tahun dia miliki dengan Stella.
Dan kini, apa yang Feby dapatkan? Feby justru dipermalukan di depan umum oleh penolakan Garry dan kini semua orang tahu apa yang sudah dia lakukan kepada sahabatnya. Feby bahkan tidak yakin besok dapat berangkat bekerja tanpa mendapat tatapan sinis dari orang-orang yang tadi hadir di pesta pernikahan palsu itu.
__ADS_1
Feby mengangkat kepalanya. Seraya menatap pantulan dirinya di cermin, Feby bertanya, “Apa yang kurang dari diriku sampai-sampai kau tidak mau memilihku, Gar?”
Meski menyesal karena telah menyakiti Stella, tak bisa dipungkiri jika Feby sangat mencintai Garry dan belum rela untuk melepaskan pria itu.
*****
Di sisi lain, saat ini Garry sedang duduk termenung di apartemennya. Pria itu memandang kosong pada televisi yang menyala. Tubuhnya mungkin berada di sana, tapi jiwa dan pikirannya melalang buana entah ke mana.
“Stella, maafkan aku ....”
Pernikahan impiannya dengan wanita pujaan hancur menjadi abu. Semua mimpi-mimpi indah untuk membangun bahtera rumah tangga dengan Stella harus dia kubur dalam-dalam karena kesalahannya. Pengkhianatan yang dia pikir tak akan pernah diketahui oleh Stella rupanya menjadi bom bunuh diri untuknya. Dia tidak menyangka kalau hal semacam ini akan terjadi padanya.
Garry melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sedari tadi, ponselnya berdering. Damar dan ibunya tak berhenti menelepon sejak tadi. Namun, bukan panggilan itu yang dia tunggu. Dia menunggu panggilan masuk dari Stella, bukan orang lain.
“Ke mana sebenarnya dirimu, Stella? Kenapa kau pergi meninggalkanku?” tanya Garry sembari mengusap wajah frustrasi.
Hatinya tak akan pernah tenang sebelum dia bertemu dengan Stella. Dia merasa jika dia harus menjelaskan segalanya kepada Stella. Meskipun sebetulnya, tanpa dia menjelaskan apa-apa pun semuanya sudah sangat jelas bagi Stella.
__ADS_1
“Stella, aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” ucap Garry lirih sambil memejamkan matanya, membayangkan bagaimana kelanjutan hidupnya tanpa Stella.
Keesokan harinya ....
Garry menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel bintang lima di mana orang tua Stella menginap. Pagi ini, Garry ingin bertanya langsung kepada mereka tentang keberadaan Stella karena dia yakin sekali kalau orang tua Stella pasti tahu di mana keberadaan wanita itu sekarang.
Baru saja Garry masuk ke dalam lobi hotel, dia melihat orang tua Stella keluar dari lift sambil menyeret koper. Buru-buru Garry menghampiri orang tua Stella karena sepertinya mereka hendak pulang ke Jambi.
“Selamat pagi, Om, Tante,” sapa Garry.
Anton dan Dini menghentikan langkah mereka. Mereka menatap Garry bingung. Kenapa Garry mendatangi mereka?
“Pagi,” balas Anton acuh tak acuh.
Garry meneguk salivanya. Dia sadar betul jika orang tua Stella memiliki alasan kuat untuk bersikap dingin padanya. Orang tua mana yang tidak marah jika putri mereka disakiti oleh kekasihnya? Semua orang tua pasti akan marah.
“Om, Tante, aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku tidak ada niatan untuk menyakiti Stella sama sekali. Aku tahu kesalahanku tidak termaafkan. Tapi, aku benar-benar menyesal,” ucap Garry. Pria itu menghela napasnya. “Aku harus minta maaf kepada Stella. Apakah Om dan Tante tahu di mana Stella berada?” sambungnya.
__ADS_1
Dini tersenyum tipis. “Kami kecewa padamu, Garry,” ucapnya mewakili sang suami. “Dan maaf, kami tidak bisa memberitahumu di mana Stella berada.”
“Sebaiknya kau menjauhi Stella. Hanya itu yang kami minta,” timpal Anton kemudian menarik istrinya pergi dari hadapan Garry.