Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Tidak Peduli Lagi


__ADS_3

Stella memandang foto dirinya dan Garry di ponsel. Rasa sesak perlahan masuk ke relung hatinya, membuatnya seakan kesulitan untuk mendapatkan oksigen. Foto itu selalu mengingatkan Stella pada hari-hari bahagia yang dulu ia lewati bersama Garry. Hari-hari di mana luka belum terpatri di hatinya.


Kini, Stella tidak bisa melihat Garry dengan cara yang sama lagi. Tak ada lagi Garry yang selalu membuatnya bahagia hanya dengan memandang wajah pria itu. Yang tersisa sekarang hanyalah luka yang selalu muncul setiap kali ia bertemu dengan Garry. Rasa sakit yang Garry torehkan terlalu dalam hingga Stella tidak tahu apakah sakit hatinya bisa sembuh dalam waktu singkat.


[Stella, aku ingin mengajakmu pergi menonton akhir pekan ini. Apakah kau mau?]


Sebuah pesan singkat dari Garry muncul pada notifikasi ponselnya, membuat lamunan Stella sontak buyar. Tanpa ada niat sedikit pun untuk membalas pesan singkat itu, Stella memilih untuk meletakkan ponselnya di nakas samping tempat tidurnya, lalu melangkah menuju ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti.


Stella baru saja pulang dari interview. Setelah tadi mengabari orang tuanya, sebetulnya Stella berniat untuk menyiapkan keperluan hari pertamanya bekerja. Namun, fokusnya sedikit terdistraksi saat dia tak sengaja membuka sosial media dan melihat postingan lamanya.


Begitu ia selesai berganti pakaian, ponselnya kembali berdering. Stella pikir, yang menghubunginya adalah Garry sehingga ia dengan malas mengambil ponselnya. Meskipun ia kesal dan sakit hati dengan Garry, tetap saja dia harus bersikap baik untuk melancarkan rencananya, bukan?


Tapi, rupanya yang menelepon bukan Garry. Melainkan Ane. Segera Stella mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, Kak Ane?” sapa Stella.


“Halo, Stella. Bagaimana kabarmu?” balas Ane. Sebetulnya ada sesuatu yang ingin Ane tanyakan sejak beberapa hari belakangan. Namun, sayangnya dia belum menemukan waktu yang pas karena beberapa hari ini Damar sedang cuti. Dia takut jika ada yang mendengar pembicaraan mereka.


“Aku baik-baik saja, Kak. Aku justru saat ini sedang merasa senang karena aku lolos interview untuk bekerja,” jawab Stella sambil terkekeh-kekeh.

__ADS_1


“Benarkah? Di mana kau melamar pekerjaan? Apakah di perusahaan Garry?”


“Tidak, Kak.” Stella meletakkan pantatnya di tempat tidurnya yang empuk. “Aku melamar di perusahaan lain. Perusahaan ini cukup terkenal karena perkembangannya yang sangat pesat. Sebenarnya aku juga ragu, tapi ternyata aku diterima,” jelas Stella.


“Selamat kalau begitu, Stella. Aku ikut senang mendengarnya,” balas Ane dengan tulus.


Stella pun mengucapkan terima kasih kepada Ane.


Ada kesunyian yang menyelimuti keduanya setelah itu. Ane masih bingung apakah dia harus mengutarakan pertanyaannya. Sementara Stella juga bingung karena Ane hanya diam di seberang sana.


“Kak, apakah ada sesuatu yang ingin Kak Ane bicarakan?” tanya Stella seolah mengerti dengan jalan pikiran Ane.


Stella mengerutkan dahi. “Kalau begitu, tanyakan saja, Kak.”


“Aku merasa heran dengan Garry.”


“Heran kenapa, Kak?”


“Dia tidak terlihat gelisah sama sekali setelah dia berkata ingin melamarmu. Padahal, beberapa hari sebelumnya dia tidak pernah terlihat tenang sama sekali. Dia selalu saja uring-uringan tidak jelas,” jelas Ane.

__ADS_1


Stella mendengus. Wanita itu bisa menebak dengan jelas apa alasan sikap Garry berubah. Pria tersebut pasti berpikir jika kini Stella sudah kembali dalam genggamannya sehingga dia tidak perlu merasa gelisah lagi. Padahal, menurut Stella seharusnya Garry jauh lebih waspada karena Stella tidak mungkin memberikan kesempatan kedua secara instan.


“Mungkin karena dia pikir aku mau menikah dengannya,” jawab Stella seraya mengedikkan bahu.


“Garry sudah jarang bertemu dengan Feby,” tutur Ane, memberikan laporan kepada Stella. “Sepertinya juga mereka tidak pernah bertemu lagi selain di tempat kerja. Itu pun juga sangat jarang karena mereka bekerja di divisi yang berbeda.”


“Apakah Kak Ane yakin jika mereka sudah tidak pernah bertemu lagi? Bisa saja mereka bertemu tanpa ada yang mengetahui seperti biasanya,” balas Stella apatis.


“Tidak, Stella. Kali ini aku yakin jika Garry dan Feby sudah jarang bertemu,” balas Ane.


Stella tersenyum. Jujur, ia berharap jika ia bisa merasa senang saat mendengar hal tersebut. Tapi, hatinya justru terasa dingin dan kaku. Ia seolah sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Garry dan Feby.


“Baguslah kalau begitu. Itu artinya rencanaku berjalan lancar. Sekarang, Garry jauh lebih memilih menghabiskan waktu denganku dari pada Feby,” cicit Stella.


Ane terdiam sejenak, lalu kembali berkata, “Apakah kau akan terus melanjutkan rencanamu?”


“Aku sudah melangkah sejauh ini, Kak.”


“Tapi, kulihat sepertinya dia tulus mencintaimu,” celoteh Ane.

__ADS_1


“Tidak ada yang pernah bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya.” Stella tersenyum masam, lalu menatap kosong pada pantulan dirinya di cermin. “Tapi, apa pun itu, yang pasti aku akan membalaskan rasa sakit yang mereka berikan kepadaku. Mereka harus tahu bagaimana rasanya dikecewakan oleh orang yang paling dipercaya.”


__ADS_2