Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Apakah Kau Cemburu?


__ADS_3

“Davin, aku—”


“Oh, ada satu hal lagi yang harus kita bicarakan, Pak. Yaitu mengenai tentang pengeluaran tambahan yang kita butuhkan untuk acara launching proyek terbaru kita,” ucap Stella, lagi-lagi memotong ucapan Cassandra yang hendak mengajak Davin berbicara.


“Pengeluaran tambahan? Aku belum mendengar tentang ini,” balas Davin sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Belum? Astaga, Pak! Bagaimana bisa Anda belum mendengar tentang ini?” seru Stella. Menyadari nada bicaranya yang mengejutkan Davin dan Cassandra, Stella pun memelankan suaranya. “Maksud saya, sepertinya saya lupa menyampaikan hal ini kepada Anda, Pak.”


Kerut Davin berkerut samar. Sebuah dengusan halus keluar dari bibirnya. Davin telah membaca seluruh dokumen yang dikirimkan oleh pihak finansial perusahaan dan tidak ada satu pun poin yang menyebut jika mereka membutuhkan pengeluaran tambahan. Dia tahu apa yang sedang Stella lakukan sekarang. Wanita itu sedang mencari-cari alasan untuk tetap berada di ruang kerja Davin dan tidak mau membiarkan Davin mengobrol dengan Cassandra.


Tiga puluh menit berlalu, Stella tetap tidak menyerah untuk bertahan di ruangan Davin. Wanita itu bahkan selalu mencari topik pembicaraan mengenai pekerjaan padahal biasanya Stella tak pernah seagresif ini dalam melakukan pekerjaannya.


“Davin, bisakah kita bicara sebentar saja? Berdua,” ucap Cassandra sambil melirik ke arah Stella. Dia sudah kehabisan kesabaran karena dari tadi ucapannya selalu dipotong oleh Stella.


“Maaf, Bu. Tapi, apakah Anda tidak lihat jika Pak Davin sedang sibuk?” sahut Stella.

__ADS_1


“Aku tidak berbicara denganmu,” jawab Cassandra tegas. Wanita itu mengalihkan pandangannya kepada Davin. “Sebentar saja, Vin. Aku janji tidak akan lama dan mengganggu pekerjaanmu.”


Davin menatap Cassandra dan Stella secara bergantian. Menyadari jika Stella menatapnya seolah tak menginginkan dia menyetujui permintaan Cassandra, Davin justru melakukan yang sebaliknya.


“Baiklah. Kita bicara di luar saja,” ucap Davin, menyetujui permintaan Cassandra. Pria itu berdiri. Melihat jika Stella hendak protes, dia dengan tegas berkata, “Kita lanjutkan pembahasan soal proyek ini nanti.”


Davin berjalan keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh Cassandra di belakangnya. Stella yang penasaran pun buru-buru berjalan ke arah pintu dan mengintip melalui kaca. Sayangnya, karena Davin dan Cassandra mengobrol cukup jauh dia tidak bisa mendengar apa pun yang sedang mereka perbincangkan.


Stella membalik tubuhnya. Dengan langkah mengentak-entak dia menggerutu.


“Apa yang ingin mereka bicarakan sampai-sampai Davin menjauh dariku?” gerutu Stella. “Memangnya apa masalahnya jika aku mendengar percakapan mereka? Apakah mereka pikir aku adalah paparazi yang akan memberitakan tentang ini kepada semua orang?”


“Untuk apa aku memikirkan mereka? Baguslah jika Cassandra ingin kembali dengan Davin. Setidaknya Davin tidak akan menyukaiku lagi. Itu yang aku inginkan, bukan?” umpat Stella.


“Sial! Tapi, aku tidak suka melihat mereka bersama. Bagaimana jika mereka benar-benar akan kembali menjalin hubungan?”

__ADS_1


Stella terus menggerutu dan merutuki Davin dan Cassandra. Tanpa wanita itu sadari, Davin telah kembali ke ruangannya dan berdiri tepat di belakangnya.


“Demi Tuhan, jika mereka kembali aku akan—”


Ucapan Stella terputus begitu dia membalik badan dan langsung berhadapan dengan Davin. Stella langsung salah tingkah dan mundur beberapa langkah saat menyadari jika Davin mungkin telah mendengar gerutuannya.


‘Sial! Sejak kapan Davin kembali?’ tanya Stella dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri.


“P-Pak Davin?” ucap Stella tergagap.


“Apakah kau cemburu, Stella?” tanya Davin sambil tersenyum miring.


“Tidak. Untuk apa aku cemburu?” elak Stella sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan mata Davin.


Davin berjalan mendekati Stella. Dengan satu gerakan cepat pria itu menangkup wajah Stella kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Stella.

__ADS_1


Stella membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Davin. Sedetik kemudian, dia memejamkan matanya lalu membalas ciuman Davin.


Davin tersenyum senang di antara ciuman mereka. Pria itu kini yakin jika Stella menyukainya namun belum berani untuk memulai hubungan yang baru.


__ADS_2