Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Membuat Feby Cemburu


__ADS_3

Sehari setelah Garry melamarnya, Stella memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya, ia telah meyakinkan orang tuanya jika dia akan baik-baik saja dan akan melakukan rencananya kepada Garry dan Feby secepatnya sehingga mereka tak perlu khawatir.


Tanpa sepengetahuan Garry dan Feby, wanita itu mengirimkan surat lamaran pekerjaan di perusahaan lain. Stella enggan jika harus bekerja di perusahaan yang sama dengan Garry dan Feby.


Saat ini, wanita itu sedang berdiri di dalam lift yang akan membawanya ke lantai apartemen Garry. Dia tampak membawa sebuah kotak berisi makanan untuk Garry.


Hubungan Stella dengan Garry semakin membaik setelah lamaran Garry. Lebih tepatnya, Stella pura-pura bersikap baik. Ia harus menahan sakit hatinya dan bersandiwara seolah hubungan mereka baik-baik saja. Meskipun sejujurnya, ia selalu ingin menangis setiap kali dia menatap mata Garry dan melihat bayangan Feby di sana.


“Surprise!”


Stella berseru begitu ia membuka pintu apartemen Garry. Garry yang saat itu tengah membaca laporan pekerjaan menoleh, lalu bangkit berdiri. Senyum tampak tercetak di wajahnya. Pria itu senang karena kini hubungannya dengan Stella kembali seperti semula. Sekarang, tidak ada lagi Stella yang dingin dan abai terhadapnya. Stella sudah kembali menjadi wanita penyayang dan perhatian.


“Stella, kenapa tidak bilang kalau kau akan datang?” balas Garry lalu menarik Stella ke dalam pelukannya.


“Aku membawa makanan untukmu,” ucap Stella seraya melepaskan pelukan Garry.


“Benarkah?” tanya Garry. “Ayo, kita makan bersama. Kebetulan sekali aku sedang lapar.”


Stella mengangguk.


Mereka pun duduk di sofa ruang tamu, lalu menyantap makanan yang dibawa oleh Stella.


Selama beberapa hari belakangan, Stella selalu melakukan sesuatu yang dapat membuat Feby cemburu. Dia sama sekali tidak memberikan ruang untuk Feby bergerak. Setiap ada kesempatan, dia akan menunjukkan kemesraannya di depan Feby. Tak jarang juga dia membuat Garry hanya fokus padanya dan lupa dengan Feby.


“Stella, terima kasih atas makan malamnya,” ucap Garry.


“Sama-sama, Gar.”


“Ngomong-ngomong, aku akan mandi dulu. Badanku gerah sekali rasanya. Kau tidak apa-apa, ‘kan, jika harus menunggu?”

__ADS_1


Stella menggeleng. “Ya. Sana, mandilah.”


Tepat setelah Garry masuk ke kamar mandi, ponsel Garry berdering. Stella meraih ponsel Garry yang terletak di meja, lalu mengangkat panggilan tersebut setelah dia melihat jika yang menelepon adalah Feby.


“Halo, Gar? Apakah kau ada di apartemen? Aku ingin bertemu,” ucap Feby.


Stella sengaja tidak menyapa terlebih dahulu supaya dia bisa mendengar apa yang ingin Feby katakan.


“Bisakah kita bertemu malam ini?” tanya Feby lagi.


“Maaf, Feb. Malam ini Garry sudah janji akan menonton film denganku,” sahut Stella, membuat Feby terkejut sebab yang ia ajak bicara bukan Garry melainkan Stella.


“Stella? Kau sedang bersama Garry?” tanya Feby.


“Iya. Apakah kau ingin menyusul ke sini? Tidak masalah kalau kau mau menonton film bersama kami,” balas Stella.


“Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan menanyakannya kepada Garry. Dia sedang di kamar mandi,” jawab Stella.


“Baiklah. Terima kasih, Stella,” ucap Feby lalu mematikan telepon itu.


Stella tersenyum licik. Rencananya untuk membuat Feby cemburu rupanya tidak sia-sia. Ia tersenyum senang sebab kini dia bisa membuat Feby merasakan apa yang dia rasakan.


“Siapa yang menelepon?” tanya Garry ketika pria itu keluar dari kamar mandi dan melihat Stella tengah memegang ponselnya.


“Feby barusan menelepon.”


Mendengar jawaban Stella, jantung Garry berdegup kencang. Ia takut Stella akan mencurigai hubungannya dengan Feby jika Stella tahu kalau Feby suka meneleponnya.


Garry menggaruk kepalanya. “Kenapa dia menelepon?” tanyanya, pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


“Dia ingin menanyakan kabar tentang lamaran pekerjaan,” balas Stella cuek, lalu meletakkan ponsel Garry ke meja kembali.


“Oh.”


Garry menghela napas lega, senang sebab Stella tidak curiga dengan dia dan Feby.


Keesokan harinya, Feby datang ke kosan Stella. Stella sempat terkejut saat melihat Feby berdiri di depan kamar kosnya sambil tersenyum lebar.


“Stella, aku punya kabar bagus.” Begitu kata Feby setelah ia masuk ke kamar kos Stella.


“Kabar apa?” tanya Stella acuh tak acuh.


“Aku diterima di perusahaan Garry!” seru Feby antusias.


“Benarkah? Selamat kalau begitu,” balas Stella sambil memaksakan seulas senyuman.


“Apakah kau tidak ingin melamar juga di perusahaan Garry?” tanya Feby basa-basi.


Stella menggeleng. “Aku masih ingin bersantai,” jawabnya cuek.


Feby tersenyum miring. “Kau tahu, ‘kan, jika aku diterima di perusahaan Garry itu artinya aku akan punya banyak waktu bersama Garry?” tanyanya. Ia berusaha menyindir Stella sehalus mungkin.


“Justru itu bagus.”


“Bagus?”


Stella mengangguk.


“Sahabat yang paling aku percaya bisa membantuku memantau Garry supaya tidak dekat dengan wanita lain,” jelas Stella, membungkam Feby dengan telak.

__ADS_1


__ADS_2