
Memiliki pengalaman yang bagus dan prestasi selama mengambil studi di luar negeri membuat Davin langsung mendapat kepercayaan untuk menjadi direktur sebuah perusahaan cabang Jerman di Jakarta. Davin bahkan mendapat sambutan yang baik dari para pegawai kantor.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan pintu terdengar. Davin mengalihkan pandangannya dari komputer, lalu berucap, “Masuk.”
Tepat setelahnya, seorang pria masuk sambil membawa beberapa tumpukan dokumen.
Melalui tatapan matanya, Davin mempersilakan pria yang tak lain adalah HRD di perusahaan tersebut duduk. Tadi, Davin memanggil HRD untuk datang ke ruangannya sebab ia ingin menanyakan tentang sekretaris baru untuknya. Kebetulan sekali, sekretaris perusahaan yang lama baru saja mengundurkan diri setelah menikah sehingga Davin harus mencari sekretaris baru.
“Apakah Anda sudah mendapatkan sekretaris baru untukku?” tanya Davin. Sejujurnya, bekerja tanpa seorang sekretaris sangatlah sulit sebab pekerjaannya jadi menumpuk dan dia kesulitan untuk menata jadwal pekerjaan.
“Belum, Pak. Tapi, kami sudah mendapatkan beberapa kandidatnya.” Pihak HRD meletakkan dokumen yang ia bawa ke atas meja kerja Davin. “Hampir semua kandidat memiliki kualifikasi yang tidak jauh berbeda.”
“Benarkah?” tanya Davin seraya mengangkat sebelah alisnya.
Sang HRD mengangguk. “Benar, Pak. Semua kandidat memiliki pengalaman internship yang bagus dan juga lulusan dari universitas terbaik di negara ini,” jelasnya.
“Tapi?”
“Tapi, kami tidak tahu sekretaris seperti apa yang Anda butuhkan. Maka dari itu, saya membawa beberapa CV ini supaya Anda bisa memilih sekretaris Anda sendiri,” jawab HRD.
“Tidak perlu. Pilih saja yang menurutmu terbaik. Aku tidak masalah siapa yang akan menjadi sekretarisku, yang terpenting aku bisa mendapat sekretaris secepatnya,” jelas Davin.
“Baik, Pak.”
__ADS_1
Baru saja sang HRD hendak mengambil kembali dokumen yang tadi dia bawa, mata Davin tak sengaja melihat foto Stella di tumpukan paling atas dokumen tersebut.
“Tunggu, tunggu,” ucap Davin ketika HRD hendak berdiri. “Bolehkah aku melihat CV yang paling atas?”
“Boleh, Pak,” jawab HRD sambil menyerahkan CV yang dimaksudkan Davin.
Melihat jika CV itu betul-betul milik Stella, Davin tersenyum dalam hati. ‘Dunia sempit sekali ternyata,’ batin Davin.
“Hubungi kandidat yang bernama Stella dan lakukan interview. Kalau perlu, terima dia langsung saja,” jelas Davin.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi,” pamit HRD perusahaan Davin.
*****
Stella saat ini sedang duduk di kursi penumpang taksi sambil meremas ujung roknya. Dia sedang dalam perjalanan menuju ke perusahaan yang ia lamar untuk melakukan interview hari ini. Jantungnya berdegup kencang, keringat membasahi telapak tangannya. Stella begitu gugup karena ini akan menjadi pekerjaan pertama yang dia lakukan setelah lulus kuliah.
Stella meneguk salivanya, lalu merapikan penampilannya sekali lagi sebelum turun dari taksi. “Terima kasih, Pak,” ucap Stella. Setelah membayar ongkos taksi, ia pun melangkah turun.
Stella menatap gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di hadapannya. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia pun masuk ke dalam sana.
“Selamat pagi, apakah ada yang bisa saya bantu?” sapa petugas resepsionis saat melihat Stella masuk ke gedung perusahaan tersebut.
“Selamat pagi. Saya Stella, saya ada janji dengan HRD perusahaan ini,” jelas Stella.
“Oh, silakan masuk lift. Ruang HRD berada di lantai dua,” jelas petugas resepsionis.
__ADS_1
Usai berterima kasih, Stella pergi sesuai instruksi dari petugas resepsionis.
Interview yang dilakukan Stella tidak memakan waktu yang lama sebab HRD sudah diperintahkan oleh Davin supaya langsung menerima Stella sebagai sekretarisnya. Interview ini hanyalah formalitas saja sebab Stella sebetulnya sudah dipilih.
Stella keluar dari ruang interview dengan senyum tiga jari mengembang di wajahnya. Wanita itu tidak menyangka jika dia akan dengan cepat mendapatkan panggilan interview dan langsung diterima tanpa diberikan kesulitan sama sekali selama proses penerimaan pekerja. Kata HRD, Stella bisa langsung bekerja besok. Stella tentu senang saat mendengarnya.
Dalam perjalanan pulang, Stella sudah tidak sabar untuk memberikan kabar gembira tersebut kepada orang tuanya. Ia pun langsung menelepon mereka.
“Halo, Ma?” sapa Stella.
“Halo, Stella. Bagaimana kabarmu di Jakarta?” tanya Dini.
“Kabar Stella baik, Ma. Ma, ada berita bagus yang ingin aku ceritakan,” ungkap Stella.
“Benarkah?”
“Ya.” Stella menghentikan ucapannya sejenak. “Apakah ada Papa di sana juga? Aku ingin Mama dan Papa mendengarnya langsung dariku.”
“Papa di sini, Stella,” sahut Anton. “Ada kabar baik apa?”
“Papa dan Mama ingat, ‘kan, kalau aku pernah bercerita jika aku melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup besar?”
“Ya, tentu saja kami mengingatnya,” balas Dini.
“Aku diterima!!” seru Stella bahagia.
__ADS_1
Mendengar itu, Dini dan Anton turut bahagia mendengarnya. Mereka pun memberikan selamat untuk Stella dan berkata jika mereka akan mendoakan yang terbaik untuk kesuksesan Stella.
“Selamat, Stella. Semoga kau bisa sukses di Jakarta!”