Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Kehilangan Pekerjaan


__ADS_3

“Pak Garry, Anda dipanggil untuk menghadap ke ruang direktur,” ucap seorang office boy.


Garry mengerutkan keningnya. “Apakah kau tahu kenapa aku dipanggil?” tanya Garry bingung.


Office boy tadi menggeleng. “Maaf, Pak. Saya hanya diberikan perintah untuk memanggil Anda saja. Kalau begitu, saya permisi,” jawabnya.


“Terima kasih,” balas Garry.


Setelah office boy tadi pergi, Garry berdiri. Pria itu merapikan dasinya sebelum keluar dari ruang kerjanya. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang masih saja mencemoohnya, Garry berjalan menuju ke ruang direktur yang berada di lantai tertinggi gedung perusahaan tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ....


Setelah mengetuk pintu, Garry diam mematung di depan ruang direktur. Tak berapa lama kemudian, ada suara yang memerintahnya untuk masuk.


Melangkah masuk ke dalam ruang direktur, Garry mendapati atasannya tengah sibuk membaca dokumen yang terletak di meja. Jantung Garry berdebar-debar. Entah kenapa, dia merasa jika aura dingin memenuhi ruangan tersebut. Perasaan Garry tiba-tiba saja jadi tidak enak. Apa alasan atasannya memanggilnya?


“Selamat pagi, Pak. Apakah benar Anda memanggilku?” tanya Garry.


“Benar.” Atasan Garry mengangkat kepalanya, lalu menutup dokumen yang tadi tengah dia baca. “Duduklah. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan.”


Garry mengangguk. Dengan patuh dia duduk di kursi seberang meja kerja atasannya. Garry meneguk salivanya. Tatapan atasannya benar-benar tampak seperti ingin mengulitinya.


“Langsung pada poinnya saja, aku tidak mau berbicara berbelit-belit,” ucap atasan Garry.

__ADS_1


Garry masih diam, menunggu atasannya melanjutkan kalimatnya. Dia tak berniat untuk menginterupsi sedetik pun karena dia sudah sangat penasaran dengan tujuan atasannya memanggilnya.


“Di perusahaan ini, reputasi adalah sesuatu yang sangat penting. Dan sayangnya, kau telah mengotori reputasi perusahaan ini dengan kejadian viral yang menimpamu.”


Garry menahan napasnya. Dalam hati, dia merapal doa supaya dia tidak dipecat. Garry tak tahu jika kejadian itu juga akan berdampak pada perusahaan.


“Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk merusak reputasi perusahaan,” ucap Garry dengan suara bergetar.


“Aku belum selesai bicara.”


“Maaf, Pak.”


“Biasanya, aku tidak akan perlu repot-repot untuk memanggil karyawan yang membuat kesalahan ke ruanganku. Aku akan memerintahkan HRD untuk memecat dan masalah selesai. Tapi, kau adalah pegawai yang berprestasi. Aku tidak mungkin memecat karyawan yang telah berkontribusi besar untuk perusahaan ini.”


Atasan Garry menggeleng. “Tidak. Tapi, jadikan ini sebagai peringatan untukmu. Jika kau melakukan kesalahan yang sama, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi,” jelas atasan Garry dengan tegas.


Garry menghembuskan napas lega. Dia merasa senang karena dia masih diberi kesempatan untuk bekerja.


Tapi, hal yang sebaliknya terjadi pada Feby.


Hujatan dari orang-orang membuat Feby ketakutan. Wanita itu bahkan masih mengurung dirinya di dalam kamar kosnya. Feby bahkan tak berani untuk datang ke kantor karena takut jika orang-orang akan kembali mencemoohnya.


Sebab beberapa hari tak berangkat bekerja, pagi ini Feby mendapatkan telepon dari pihak HRD.

__ADS_1


“Selamat pagi, Bu Feby,” sapa HRD.


“S-selamat pagi, Pak,” jawab Feby terbata.


Wanita itu menggigit ujung kukunya. Dua hari yang lalu, dia sempat mendapatkan surat peringatan dari kantor yang dikirimkan ke alamat kosnya. Surat peringatan itu berupa perintah supaya Feby berangkat bekerja jika tidak ingin dipecat. Tapi, rasa takut Feby jauh lebih besar hingga membuat wanita itu tidak melakukan perintah dari kantor.


“Saya menelepon untuk menyampaikan jika mulai hari ini Anda bukan bagian dari perusahaan X lagi. Anda kami pecat. Sisa gaji Anda akan dibayarkan sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan. Terima kasih,” jelas HRD tersebut lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Feby.


Feby menjauhkan ponsel dari telinga. Matanya menatap kosong pada dinding kamar kosnya. Tak hanya kehilangan Garry dan merusak persahabatannya dengan Stella, kini Feby harus kehilangan pekerjaannya juga. Feby tak tahu lagi apakah dia sanggup menjalani hidup setelah ini.


“Aku harus meminta maaf kepada Stella jika tidak ingin karma terus mendatangiku,” gumam Feby. “Semoga saja nomor Stella sudah aktif sekarang.”


Beberapa hari belakangan, Feby selalu mencoba untuk menghubungi Stella namun sayangnya nomor Stella tak pernah aktif. Wanita itu berpikir jika dia tidak akan bisa hidup tenang jika belum mendapatkan pengampunan dari Stella.


“Halo?”


Sapaan itu membuat Feby merasa senang karena teleponnya akhirnya diangkat oleh Stella.


“Stella, aku ingin minta maaf padamu. Aku tahu kalau aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku benar-benar minta maaf,” pinta Feby.


Helaan napas terdengar dari seberang sana.


“Stella, maukah kau memaafkanku?” tanya Feby.

__ADS_1


“Aku belum bisa memaafkan apa yang kau dan Garry lakukan,” jawab Stella tegas kemudian mematikan telepon secara sepihak.


__ADS_2