
Davin bungkam seribu bahasa. Pria itu menatap lurus pada kelereng mata Stella dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Setelah berhasil mencerna kalimat yang ditanyakan oleh Stella, dia pun perlahan menganggukkan kepalanya.
Pertanyaan Stella menarik Davin ‘tuk kembali pada kejadian di masa lalu yang sudah lama dia kubur dalam-dalam. Pria itu mencari posisi yang nyaman untuk duduk, karena sungguh, apa yang ingin dia ceritakan bukanlah sesuatu yang membuatnya nyaman.
Pria itu menarik napas dalam-dalam. Matanya terpejam sejenak sembari mengumpulkan kepingan-kepingan memori yang masih tersimpan dengan rapi dalam ingatannya. Memori yang bercampur antara indah dan buruk.
“Aku pernah jatuh cinta,” ucap Davin, memulai ceritanya.
Stella memiringkan posisinya supaya bisa menghadap ke arah Davin. Mendengar Davin pernah jatuh cinta membuat Stella jadi penasaran tentang hal itu karena selama ini yang Stella tahu Davin adalah sosok pria playboy yang suka gonta-ganti wanita.
“Dia adalah pacar pertamaku, juga cinta pertamaku,” sambung Davin.
Davin tersenyum tipis. Dia kembali mengingat bagaimana bahagianya dia dulu ketika berhasil mendapatkan hati tambatan cintanya. Selama berpacaran dengan cinta pertamanya, Davin bahkan tak pernah sekali pun merasa sedih atau bosan. Setiap hari, yang Davin rasakan hanyalah sebuah kebahagiaan dan kasih sayang.
“Kau terdengar seperti sangat mencintainya,” komentar Stella. Dari nada bicara Davin, ia bisa melihat jika Davin begitu mencintai gadis itu.
“Dulu? Ya. Dia adalah cinta pertamaku. Aku sangat mencintainya. Kami berpacaran selama satu tahun. Selama kami berpacaran, kami hampir tidak pernah bertengkar. Setiap hari yang aku lalui bersama dia hanyalah kebahagiaan,” jelas Davin.
“Dia beruntung dicintai seseorang sepertimu,” celetuk Stella sambil tersenyum hangat. Dia tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai oleh orang yang kau cintai. Hidup akan terasa lebih ringan dan lebih bahagia.
__ADS_1
Davin menggeleng. “Sayangnya hubungan kami tidak memiliki akhir yang bahagia,” ucapnya lalu mengedikkan bahunya.
Davin menghela napas berat. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi taman, lalu menengadahkan kepalanya, memandang pada gemerlap bintang-bintang di langit.
Satu hal yang tidak Davin sukai dari hubungannya dengan cinta pertamanya adalah bagaimana hubungan indah itu harus berakhir. Davin masih menyimpan memori itu baik-baik, sebagai pengingat jika cinta saja tidak cukup untuk mendapatkan wanita yang dia cintai.
“Apa yang terjadi?” tanya Stella. Demi Tuhan, Stella tampak seperti detektif sekarang. Tapi, dia tidak peduli. Dia penasaran dengan bagaimana kehidupan percintaan Davin.
“Dia dinikahkan dengan orang lain. Seorang pria kaya raya. Aku juga tidak mengerti karena dari awal hubungan kami, orang tuanya tidak tampak keberatan. Tapi, tiba-tiba saja dia dijodohkan dengan pria yang jauh lebih kaya dariku,” jawab Davin.
“Jadi, karena hal itu kau jadi playboy?” Pertanyaan ini keluar dari bibir Stella secara spontan setelah mendengar cerita dari Davin mengenai kisah percintaannya yang berujung tragis.
“Tidak semua wanita sama, Gar. Kau harus belajar untuk membuka dirimu lagi. Kau pasti bisa mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan tulus nantinya,” kata Stella.
‘Aku harap wanita itu adalah dirimu, Stella,’ batin Davin sambil menatap lurus ke arah iris mata Stella.
“Kuharap juga begitu,” balas Davin seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku yang kedua,” sahut Stella.
__ADS_1
“Pertanyaan yang mana?” tanya Davin bingung. Menceritakan tentang masa lalunya, Davin jadi lupa kalau Stella tadi mengajukan dua pertanyaan.
“Apakah kau pernah tidur dengan mantan-mantan kekasihmu?” tanya Stella.
Semenjak perselingkuhan Garry dan Feby, Stella merasa jika dia ingin tahu apakah pria yang sedang dekat dengannya akan jujur dengan hal itu atau tidak. Well, meskipun dia tidak merasa jika Davin sedang mendekatinya. Tapi, dia ingin tahu apakah Davin sama dengan Garry atau tidak.
“Ya.” Davin mengangguk. “Aku pertama kali tidur dengan wanita adalah dengan cinta pertamaku. Aku juga pria pertama untuknya,” jawab Davin dengan jujur.
Stella menyipitkan matanya. “Lalu, bagaimana dengan mantan-mantan kekasihmu yang lain?”
Davin menelengkan kepalanya. Entah kenapa, Stella memiliki sebuah alasan kuat di balik pertanyaan yang dia ajukan padanya. Nanti, Davin akan mencari tahu alasannya.
“Dari sekian banyak wanita yang pernah berkencan denganku, aku hanya tidur dengan dua wanita,” jelas Davin.
Stella mengangguk-anggukkan kepala. Dia senang melihat Davin jujur padanya. Pria itu tidak pura-pura baik dan sempurna. Stella sangat menghargai kejujuran Davin.
“Kau sendiri bagaimana? Apakah kau tidur dengan pria?” Davin balik bertanya, ingin tahu juga mengenai Stella.
Stella menggeleng.
__ADS_1
“Itulah alasan Garry selingkuh dariku,” jawab Stella.