Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Semuanya Akan Segera Berakhir


__ADS_3

“Stella, sudah sejauh mana rencanamu?”


Suara Dini terdengar begitu khawatir dari seberang telepon. Beberapa hari belakangan, wanita itu merasa was-was sebab dia dan suaminya takut jika rencana Stella gagal dan malah akan berimbas buruk kepada Stella. Meskipun percaya dan mendukung keputusan Stella, tetap saja rasa khawatir itu ada. Wajar saja, Stella melakukan rencananya seorang diri tanpa ada seorang pun yang bisa mengawasinya. Kalau salah satu langkah saja, tidak akan ada yang bisa membantu Stella mengatasinya.


“Hampir semua persiapan sudah beres, Ma. Sekarang aku hanya perlu menghitung hari untuk melakukan eksekusi,” jawab Stella, membawa angin penyejuk hati untuk Dini. “Bisakah Mama dan Papa ikut hadir di hari pernikahanku nanti?”


“Apakah ini bagian dari rencanamu, Sayang?” tanya Dini.


“Iya, Ma. Aku butuh Mama dan Papa di sini untuk membuat pernikahan itu terasa sangat nyata,” balas Stella sambil tersenyum kecut.


Stella tahu jika impian setiap orang tua adalah untuk menyaksikan pernikahan anaknya. Tapi, kali ini Stella tak bisa memenuhi keinginan orang tuanya yang satu itu. Sebaliknya, dia justru membutuhkan orang tuanya untuk ikut menjadi saksi bagaimana dia akan membalaskan rasa sakitnya kepada Garry dan Feby.


“Tentu. Papa dan Mama akan datang.”


“Terima kasih, Ma.”


“Jaga dirimu baik-baik, ya, Sayang? Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bercerita dengan Mama.”


Stella tersenyum penuh haru. Ia merasa bersyukur memiliki ibu yang begitu pengertian dan penyayang seperti Dini. Stella bersumpah dalam hati jika setelah ini, dia tak akan mengecewakan orang tuanya lagi.


“Iya, Ma. Teleponnya aku tutup dulu, Ma. Aku sudah sampai di kantor,” ucap Stella.


Sesudah mendengar jawaban ibunya, Stella mematikan sambungan telepon mereka.


Begitu sampai di kantor, Stella diminta Davin untuk menghadap padanya. Stella tampak bingung saat mendapati wajah serius Davin menyambut kedatangannya.


“Silakan duduk, Stella,” ucap Davin, meminta Stella duduk di kursi seberang mejanya.


“Kalau boleh tahu, kenapa Anda memanggilku, Pak?” tanya Stella setelah duduk di seberang Davin.


“Aku dengar kau akan menikah,” ucap Davin to the point.

__ADS_1


Davin yang biasanya bersikap profesional, kali ini justru membahas mengenai pernikahan Stella dan Garry. Stella bingung saat mendengarnya. Dia tidak mengerti kenapa Davin ingin membicarakan tentang masalah ini.


“Ya, beberapa hari lagi aku akan menikah,” jawab Stella.


Davin tak langsung membalas ucapan Stella. Pria itu justru menatap lurus pada iris mata Stella tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sana. Sementara Stella yang biasanya mengalihkan pandangan setiap Davin menatapnya kali ini tetap diam sambil menunggu balasan dari Davin.


“Sebaiknya kau pikirkan ulang rencanamu untuk menikah,” ucap Davin tiba-tiba.


Stella mengerutkan dahi, bingung. “Maaf, Pak? Apakah Anda tidak salah bicara?” tegurnya halus.


Davin menggeleng. “Tidak. Aku ingin kau memikirkan ulang rencana pernikahanmu,” balas Davin.


Sebetulnya, Davin sudah tahu mengenai perbuatan Garry dan Feby di belakang Stella. Davin sempat beberapa kali tak sengaja melihat Garry dan Feby sedang bersama. Ia sengaja tak memberitahu Stella sebab dia takut Stella akan bersedih. Itulah alasannya berkata demikian.


“Maaf, Pak. Aku rasa ini tidak ada hubungannya dengan Anda. Jadi, tolong jangan memintaku untuk melakukan hal itu,” balas Stella. 


Stella merasa kesal sebab Davin ikut campur dengan urusan pribadinya. Dia bahkan tak mengerti dari mana Davin mendapat gagasan seperti itu. Dan kenapa juga Davin peduli apakah Stella akan menikah atau tidak? Bukankah hal tersebut tak ada urusannya dengan Davin?


“Aku peduli padamu, Stella,” ucap Davin tegas.


Davin terdiam. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia bisa peduli dengan Stella hingga tanpa sadar mencari tahu kebenaran tentang hubungan gelap yang dimiliki oleh Garry dan Feby.


“Maaf, Pak. Bolehkah aku meminta cuti? Aku butuh cuti satu Minggu setelah pernikahanku,” pinta Stella, mengalihkan pembicaraan setelah dia yakin jika Davin tidak akan membalas pertanyaannya yang tadi.


Sebetulnya, Stella sendiri tidak yakin apakah Davin akan memberinya cuti sebab dia baru mulai bekerja. Tapi, dia butuh cuti untuk menenangkan diri setelah dia melakukan rencananya nanti. Dia tidak mungkin sanggup bekerja setelah membuat skenario besar nantinya.


“Ya, kau boleh cuti.” Davin tersenyum tipis. “Selamat atas pernikahanmu.”


Stella menatap Davin bingung. Baru tadi Davin melarangnya menikah, kini Davin justru mengucapkan selamat. Stella jadi merinding sekali membayangkan bosnya memiliki kepribadian ganda.


“Terima kasih, Pak,” jawab Stella sopan.

__ADS_1


Tanpa Stella sadari, sebetulnya Davin sudah tahu mengenai rencananya dan ucapan Davin adalah ucapan selamat karena rencana Stella akan segera terlaksana.


*****


Esok harinya, semua orang berkumpul di rumah Ane. Tidak hanya Garry, Stella, dan keluarga Garry. Orang tua Stella yang telah tiba di Jakarta juga ikut berkumpul di sana untuk membahas mengenai persiapan pernikahan Garry dan Stella.


“Stella, bagaimana persiapan pernikahan kalian?” tanya Damar.


“Persiapannya sudah 95%. Kami hanya perlu membayar katering saja setelah itu semuanya sudah siap. Lagi pula, pernikahan kami tinggal tiga hari lagi.” ucap Stella mantap.


“Wah, kau benar-benar hebat karena menyiapkan pernikahan tanpa bantuan dari keluarga,” puji Yanti, ibu Garry.


Stella hanya tersenyum menanggapinya. Dalam hati, dia berharap jika orang tua Garry tak akan membencinya setelah apa yang akan dia lakukan nanti.


Malam menjelang pernikahan, Ane menginap di kediaman Stella. Saat ini, Ane sedang menemani Stella di kamarnya sambil memeluk wanita itu erat-erat.


Suara isak tangis terdengar keluar dari bibir Stella. Wanita itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Ane, menyadari jika besok, segalanya akan berakhir.


“Semuanya akan selesai besok, Kak,” ucap Stella sambil mengusap air matanya yang tak kunjung kering. “Besok, semua orang akan tahu mengenai kebusukan Garry dan Feby. Tentang semua pengkhianatan yang sudah mereka lakukan.”


Ane meregangkan pelukan mereka, kemudian mengusap air mata Stella. “Kau tahu apa, Stella? Kau sangat hebat. Selama ini kau sudah bersandiwara dan bertahan. Sudah saatnya permainan ini selesai,” balas Ane sambil menatap lurus pada manik mata Stella.


Stella mengangguk. “Aku hanya merasa jika apa yang akan aku lakukan nantinya adalah sesuatu yang sangat buruk. Aku menyadari itu,” ucapnya.


“Apa pun yang akan kau lakukan masih tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Kau tidak perlu merasa bersalah,” nasihat Ane.


Tatapan Stella beralih pada orang tuanya yang duduk di kursi tak jauh dari tempat tidurnya.


“Mama, Papa, maaf jika besok aku akan mempermalukan kalian,” ucap Stella. “Aku tidak bermaksud melakukan ini semua.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Kami akan mendukungmu,” balas Anton.

__ADS_1


Anton dan Dini tahu jika perbuatan putrinya salah. Tapi, Stella memiliki alasan kuat untuk melakukan hal tersebut. Asalkan hal tersebut akan membuat Stella lega, maka mereka akan mendukung Stella.


Stella tersenyum tipis. Ia hanya berharap jika setelah ini, rasa sakit yang dia rasakan juga ikut pergi.


__ADS_2