Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Tidak Untuk Pengkhianatan


__ADS_3

Stella memandang ke luar melalui kaca besar ruang kerjanya. Lampu-lampu kota tampak bersinar terang di antara gelapnya malam. Sekarang sudah pukul delapan malam, jalanan sudah tidak seramai dua jam yang lalu. Namun, dari tempatnya berdiri, Stella masih bisa mendengar suara klakson yang bersahutan.


Beberapa hari belakangan, Stella sengaja pulang lebih malam. Wanita itu bahkan selalu menunggu sampai pegawai kantor sudah pulang baru dia akan pulang. Seperti contohnya malam ini, Stella masih berada di kantor meskipun pegawai kantor yang lain sudah pulang dari tiga jam yang lalu. Seolah tak takut sendirian di kantor, Stella tetap diam sambil memandang ke luar kaca jendela ruangannya.


Alasan Stella melakukan hal itu satu, yaitu untuk menghindari Garry. Beberapa hari ini Garry selalu menunggunya keluar dari kantor. Jika tak bertemu dengan Stella, maka malam harinya Garry akan menelepon dan memohon kepada Stella untuk bertemu. Setiap hari, Stella harus memastikan jika Garry benar-benar sudah pergi baru dia akan pulang. Stella sangat heran kenapa Garry tak juga menyerah padahal sudah selalu dia abaikan. Garry bersikap seolah-olah dia sangat mencintai dan tidak ingin kehilangannya, tetapi dia juga yang menjadi alasan Stella pergi menjauh darinya.


“Kau masih belum pulang?”


Pertanyaan itu membuat Stella terkejut dan sontak saja membalik tubuhnya. Mata Stella membulat saat melihat Davin menyandarkan tubuhnya pada tembok dekat pintu dan tengh menatapnya.


‘Bukankah tadi Davin sudah pulang? Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia masih juga diam-diam memperhatikanku?’ tanya Stella dalam hati.


“Anda belum pulang, Pak?” tanya Stella.


“Kau tidak menjawab pertanyaanku,” balas Davin sambil mengangkat sebelah alisnya. “Aku dengar dari satpam kau juga sering pulang lebih lambat.” Davin yang tidak ingin Stella sadar jika dia masih terus mengawasinya, membuat alasan.


Stella mengalihkan pandangannya, enggan membalas ucapan Davin.


Davin memasukkan tangannya ke saku celananya. Lalu mendekati Stella. “Ayo, aku antar pulang,” ucapnya, menawarkan tumpangan.


Stella menggeleng. “Tidak perlu. Aku masih ingin di sini sebentar,” tolaknya sopan.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Jangan pulang terlalu malam, di kantor ini banyak hantu,” ucap Davin lalu keluar dari ruang kerjanya.


Mendengar itu, Stella menatap ke sekelilingnya. Ruangan itu tampak sepuluh kali lipat lebih menyeramkan setelah Davin berkata jika di sana ada banyak hantu. Wanita itu dengan cepat menyambar tasnya, lalu berjalan mengekori Davin keluar dari ruang kerja. 


“Katanya masih ingin di sini?” sindir Davin sambil menahan tawanya.


Stella memutar bola matanya kemudian berjalan mendahului Davin masuk ke dalam lift.


Lift itu membawa Davin dan Stella turun ke lantai dasar. Saat hendak keluar dari kantor, mata Stella membulat. Dia mendapati mobil Garry masih terparkir tak jauh dari sana.


“Kenapa Garry masih di sini?” tanya Stella seraya menghentikan langkahnya.


Melihat Stella menghentikan langkahnya, Davin mengerutkan dahinya. Dia baru mengerti apa yang sebenarnya menjadi alasan Stella setelah melihat mobil yang terparkir di depan kantornya. 'Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika bukan pekerjaan, tapi dia alasan Stella lembur akhir-akhir ini,' batinnya kesal pada orang suruhannya.


Tanpa berpikir dua kali, Stella pun mengangguk dan melakukan apa yang disuruh Davin.


"Tak ada kesempatan untukmu," gumam Davin menatap Garry yang terlihat gelisah menunggu Stella.


***


Setelah hari itu, Garry tak juga berhenti menghubunginya. Stella yang sudah lelah akhirnya menyerah dan mengajak Garry untuk bertemu di sebuah restoran.

__ADS_1


Saat Stella tiba di restoran itu, rupanya Garry sudah menunggunya.


“Stella, akhirnya kau mau bertemu denganku,” ucap Garry senang.


Stella menarik kursi, lalu duduk. “Aku tidak punya banyak waktu. Langsung katakan saja apa yang ingin kau katakan,” ucap Stella dingin, Stella tidak ingin terlihat lemah terlebih dihadapan dua orang yang telah menyakitinya.


Garry tersenyum masam. Stella yang duduk di hadapannya saat ini bukanlah Stella yang dulu dia kenal. Stella yang ini bukan lagi wanita yang perhatian dan sabar padanya. Bukan lagi wanita yang selalu memberikan cinta dan senyum terbaik untuknya. Dia telah berubah menjadi wanita yang tegas dan mungkin ... membencinya. Garry tak suka sikap Stella yang dingin padanya. Tapi, dia juga sadar jika ini semua terjadi karena kesalahannya.


“Aku ingin meminta maaf. Apa yang aku dan Feby lakukan mungkin menyakitimu. Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku melakukannya. Maafkan aku," ucap Garry.


Stella masih diam, memberikan Garry kesempatan untuk berbicara.


“Selama ini, aku merasa jika kau terlalu membatasi hubungan kita. Kau bahkan tidak mengizinkanku untuk menyentuhmu, itulah alasan kenapa aku tergoda saat Feby datang memberikan apa yang aku butuhkan sebagai seorang pria, inilah awal mula aku berselingkuh dengan Feby.” Garry berkata jujur.


Stella mendengus keras. “Jadi, semua ini salahku?" cecarnya pedas.


“Tidak, Stella. Jangan salah paham.” Garry menghela napasnya. “Seharusnya aku bisa menghargai keputusanmu dan sabar menunggu hingga waktu yang tepat. Tapi, aku sangat bodoh sampai-sampai nafsu menghancurkanku. Aku benar-benar minta maaf.”


“Kau tahu sendiri, ‘kan, Gar? Aku akan memaafkan semua kesalahan, kecuali jika itu adalah sebuah pengkhianatan. Aku tidak bisa menerima yang namanya pengkhianatan. Aku sangat mencintaimu, dan kau membalasnya dengan mengkhianatiku terlebih dengan orang terdekatku,” balas Stella.


“Aku tahu, maafkan aku. Apakah sudah tidak ada kesempatan untukku?” tanya Garry tanpa tahu malu. “Aku janji aku akan berubah. Aku akan melalukan apa pun yang kau minta asal kau mau memaafkanku.”

__ADS_1


“Berhenti mengejarku, Gar. Kalau pun aku menyukaimu atau memaafkanmu, aku tidak akan pernah kembali padamu. Semuanya sudah selesai saat kau menyakitiku,” jawab Stella dengan telak.


Tanpa keduanya sadari, dari kejauhan Davin mengawasi mereka. Pria itu tersenyum saat mengetahui Stella tidak akan kembali pada Garry. 'Aku tidak salah mengagumimu,' batinnya.


__ADS_2